Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Baru mengetahuinya



Di area Resto di salah satu hotel bintang 5 terlihat saat ini Arthur tengah meletakkan kepalanya di atas meja. Pikirannya benar-benar tengah berantakan saat ini, membuatnya tidak bisa fokus ketika melakukan sesuatu hal maupun dalam urusan pekerjaan. Arthur menghela napasnya beberapa kali dengan kasar, membuat beberapa pelayan hotel yang melihat tingkah Arthur saat ini lantas bertanya-tanya dengan raut wajah yang penasaran ketika melihat tingkah Arthur yang seperti itu.


"Akhh benar-benar bodoh kau Run!" ucap Arthur selama beberapa kali seakan terus merutuki kebodohannya.


Di saat Arthur tengah frustasi akan pikirannya yang saat ini sedang kacau, sebuah benda yang terasa dingin menempel tepat di area pipinya yang saat itu tengah dalam posisi bersandar di meja Resto tersebut. Membuat Arthur yang mendapati hal tersebut lantas langsung bangkit dari posisinya dan mendongak menatap ke arah depan untuk melihat siapa yang melakukan hal itu kepadanya.


"Tuan?" ucap Arthur dengan tatapan dan bertanya-tanya ketika mendapati tingkah laku Aruna yang terlihat begitu aneh barusan.


"Minumlah itu selagi dingin, terkadang soda juga bisa menurunkan rasa frustasi yang ada dalam diri kita." ucap Aruna sambil menggeser minuman kaleng tersebut mendekat ke arah Arthur.


"Benarkah? Mengapa aku baru mendengarnya?" ucap Arthur dengan tatapan yang mengernyit seakan tidak terlalu percaya akan perkataan Aruna barusan.


"Coba saja kalau tidak percaya.." ucap Aruna lagi dengan nada yang santai sambil mengambil posisi duduk tepat dihadapan Arthur.


Melihat raut wajah Aruna yang begitu meyakinkan, lantas membuat Arthur langsung mengambil minuman kaleng tersebut dan berusaha membukanya. Diminumnya secara perlahan minuman bersoda itu sambil meresapi perubahan yang terjadi dalam dirinya.


"Ahh... Lumayan juga meski pikiran ku masih terasa penuh, setidaknya minuman ini begitu menyegarkan ketika melewati tenggorokan ku." ucap Arthur sambil meletakkan minuman kaleng tersebut di meja.


Keheningan terjadi diantara keduanya, Arthur yang tidak tahu hendak mengatakan apa lantas terlihat memainkan kaleng minuman yang ada di hadapannya. Sampai kemudian terdengar helaan napas yang berasal dari mulut Arthur yang lantas membuat Aruna langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang bertanya-tanya.


"Saya minta maaf Tuan, saya terlalu mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan Tuan. Saya..." ucap Arthur bingung harus mengucapkan apa lagi kepada Aruna.


Entah mengapa Arthur merasa begitu malu kepada Aruna karena terlalu merepotkannya selama ini. Aruna bahkan sudah sangat baik dengan memberikannya tempat tinggal dan juga banyak hal lainnya yang sama sekali belum pernah ia dapatkan meski sudah bekerja banting tulang. Selama berada di dekatnya, Arthur merasa selalu saja menyulitkan Aruna tanpa meringankan pekerjaannya sama sekali malah terkesan menjadi beban bagi Aruna.


"Untuk apa kamu minta maaf?" tanya Aruna dengan tatapan yang bingung.


"Entah mengapa selama ini saya merasa hanya menjadi beban bagi Tuan, saya sama sekali tidak membantu apapun termasuk dengan bagaimana cara kita agar bisa kembali ke tubuh kita masing-masing. Saya benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana Tuan, saya merasa saya hanya menjadi beban dalam hidup Tuan." ucap Arthur dengan nada yang sendu membuat Aruna langsung mengernyit dengan seketika begitu mendengar perkataan Arthur barusan.


"Kau ini bicara apa? Semua yang sudah kita lalui memang sudah menjadi takdir dari sang Pencipta. Aku tidak tahu mengapa harus kamu, tapi yang jelas pasti ada sebuah hikmah yang terkandung di dalamnya. Meski kamu hanya menjadi beban tapi aku tidak lagi merasa kesepian, aku akui aku sangat kesepian belakangan ini ditambah lagi dengan keluarga ku yang sangat berantakan dan tak layak di sebut keluarga itu, namun setelah kehadiran mu setidaknya aku mendapat mainan baru untuk melupakan sejenak persoalan dalam hidup ku." ucap Aruna dengan senyuman yang masam membuat Arthur langsung terdiam dengan seketika.


"Tu..tuan..." ucap Arthur dengan nada yang bingung.


Arthur benar-benar tidak menyangka bahwa apa yang ada dipikirannya nyatanya hanya lah sebuah pemikirannya saja. Kenyataannya Aruna sama sekali tak mempermasalahkan hal tersebut, membuat Arthur benar-benar terharu ketika mendengarnya secara langsung.


"Hentikan tatapan itu karena aku tidak menyukainya sama sekali!" ucap Aruna memperingati Arthur, namun malah membuat Arthur tersenyum dengan lebar.


"Tuan..." panggil Arthur dengan nada yang memanjang.


Mendengar panggilan panjang dari Arthur barusan semakin membuat Aruna bergidik ngeri, Aruna kemudian lantas bangkit dari kursinya dan berlalu pergi dari sana meninggalkan Arthur seorang diri di meja tersebut. Membuat Arthur yang melihat kepergian Aruna tentu saja langsung ikut bangkit dan mengejar langkah kaki Aruna dengan senyuman yang lebar.


"Tunggu aku.. Tuan..." ucap Arthur dengan nada yang menggoda, membuat Aruna semakin mempercepat langkah kakinya karena suara Arthur benar-benar menggema di ruangan tersebut dan menjadi pusat perhatian.


***


Sementara itu di sebuah ruangan yang terletak di perusahaan induk, terlihat Bagas tengah fokus mengerjakan tumpukan berkas yang di tinggal oleh Arthur selama beberapa hari yang lalu. Semenjak kepergian Arthur dari perusahaan, semuanya benar-benar kacau dan tidak terkendali. Tiga orang penting yang selalu mengurusi bagian inti perusahaan keluar secara bersama-sama, tentu saja hal itu langsung membuat beberapa pekerjaan menjadi terbengkalai.


"Benar-benar anak kurang ajar!" gerutu Bagas dengan nada yang kesal.


Disaat Bagas tengah sibuk mengerjakan beberapa berkas yang menumpuk di mejanya, derap langkah kaki yang terdengar menggema di ruangan tersebut lantas menghentikan aktifitas Bagas yang sedari tadi sibuk dengan berkas-berkas tersebut.


"Bagaimana dengan anak itu? Apa ia sedang menangis di bawah kolong jembatan saat ini?" ucap Bagas dengan senyuman yang sinis di wajahnya.


Mendapat pertanyaan tersebut tentu saja langsung membuat raut wajah Arka berubah seketika, membuat Bagas yang melihat hal tersebut lantas mengernyit dengan tatapan yang bertanya-tanya saat ini.


"Mungkin ini akan sedikit mengejutkan bagi anda, tapi saya harus tetap menyampaikannya kepada anda." ucap Arka dengan nada yang sedikit ragu membuat Bagas semakin dibuat penasaran akan perkataan Arka barusan.


Helaan napas terdengar berhembus kasar dari mulut Arka sebelum mulai mengatakan sesuatu.


"Kehidupan Tuan muda Arthur saat ini jauh lebih baik dari yang anda harapkan. Belakangan ini saya baru mendapat informasi jika Tuan muda Arthur ternyata memiliki beberapa bisnis yang berlawanan dengan perusahaan induk dan di bangun olehnya sendiri melalui hasil keringatnya." ucap Arka mulai memberikan laporan yang lantas membuat Bagas terkejut begitu mendengarnya.


"Bagaimana bisa?" ucap Bagas yang terkejut akan berita yang dibawa oleh Bagas saat ini.


Bersambung