
Bruk
Suara benda jatuh begitu saja ke arah bawah, lantas terdengar begitu nyaring di area tangga darurat. Membuat Bagas yang sudah berada di atas saat itu, mengetahui jika Alina jatuh ke arah bawah lantas langsung mulai mempercepat langkah kakinya menuruni satu per satu anak tangga untuk melihat keadaan Alina saat itu.
Beberapa tetes darah yang mulai membasahi area lantai saat itu, tentu saja langsung mengejutkan Bagas yang baru saja sampai di lantai tersebut.
"Alina.. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Bagas dengan raut wajah yang khawatir.
Diangkatnya tubuh Alina detik itu juga karena khawatir akan keadaan Alina. Helaan napas lega terdengar berhembus dari mulut Bagas ketika mengetahui jika Alina baik-baik saja. Mungkin karena jatuh dari posisi yang cukup tinggi dan mengenai Fadli juga Aruna membuatnya pingsan karena terkejut.
"Syukurlah Al.. Aku benar-benar khawatir." ucap Bagas sambil memeluk tubuh Alina tanpa menyadari keadaan di sekitarnya yang sedang kacau saat itu.
Fadli yang tubuhnya terasa begitu remuk redam akibat ditimpa oleh Alina dengan tiba-tiba, lantas terlihat mulai bangkit secara perlahan dari tempatnya saat itu. Ada bekas noda darah di area kemejanya saat itu, membuatnya sedikit meringis kesakitan ketika mendapati tangannya sedikit mengeluarkan darah akibat goresan dari garpu yang ia pegang sebelumnya.
Sampai kemudian manik mata Fadli lantas membulat dengan seketika, begitu ia melihat pemandangan yang sama sekali tidak ia harapkan terjadi saat ini.
"Bagaimana bisa? Aku bahkan hanya berniat untuk mengancamnya saja..." ucap Fadli dengan raut wajah yang terkejut.
Garpu yang semula berada di tangannya kini terlihat menancap tepat di leher dekat pundak Aruna. Entah bagaimana benda itu bisa menancap di sana, tapi yang jelas ini tentu saja di luar prediksinya.
Fadli yang tidak ingin hal tersebut berbalik menimpa ke arahnya, lantas mulai menatap ke sekeliling. Seulas senyum nampak terlihat jelas pada raut wajah Fadli ketika mendapati jika Bagas belum menyadari akan apa yang terjadi saat ini. Fadli yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya, lantas terlihat bangkit dan berlalu pergi dari sana dengan langkah kaki seribu tanpa memperdulikan keadaan di sekitarnya.
Sampai kemudian sebuah suara dorongan yang berasal dari area pintu tangga darurat di lantai tersebut, lantas langsung membuat Bagas menoleh ke arah sumber suara.
"Arthur Mama kamu..." ucap Bagas hendak mengatakan kondisi Alina sata ini.
Hanya saja sayangnya tepat Ketika Arthur mulai membawa langkah kakinya masuk ke arah tangga darurat tersebut, bukan Alina yang menjadi pusat perhatiannya melainkan Aruna yang nampak sudah mulai tergagap saat itu.
"Aruna!" pekik Arthur sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Aruna saat itu.
Diangkatnya secara perlahan kepala Aruna ke pangkuannya dengan hati-hati, membuat Aruna langsung menggenggam dengan erat kemeja Arthur saat itu.
"Sa...kit.. Sakit..." ucap Aruna dengan nada yang putus-putus.
"Tidak-tidak.. Jangan banyak bicara oke? Kamu pasti selamat, aku akan membawa mu ke Rumah sakit sekarang juga. Jangan banyak bicara Run..." ucap Arthur yang terlihat kebingungan saat itu.
Posisi garpu yang menancap tepat di area leher Aruna benar-benar membuat Arthur serba salah. Arthur ingin mencabut garpu tersebut namun ia takut malah akan menambah rasa sakit Aruna. Arthur mengusap rambutnya dengan kasar sambil menggenggam dengan erat tangan Aruna.
"Akh... Ini bukanlah kesalahan mu.. Aku.. Aku hanya.. Se...dang.. Ber..nasib sial hhhhhhh. Jangan.. Jangan merasa bersalah Ar... Hhhh..." ucap Aruna dengan sekuat tenaga.
Pandangan Aruna kini bahkan sudah terasa mulai kabur, namun sebisa mungkin ia paksa untuk menatap wajah Arthur sepuasnya jika memang ini adalah saat-saat terakhirnya.
Aruna yang mendengar hal tersebut hanya bisa tersenyum tanpa berkata-kata lebih banyak lagi. Satu kata yang keluar dari mulutnya benar-benar terasa menyakitkan untuknya, membuat Aruna memilih untuk diam sambil mengulurkan tangannya secara perlahan hendak mengusap air mata Arthur saat itu.
"Jangan menangis.. Dari pada me...lihat mu... Bersedih.. Bi...bisakah kamu mengatakan ji..ka ka...mu men...cin...tai..ku.. Hhh uhuk..." ucap Aruna yang lantas semakin membuat Arthur merasa frustasi ketika mendengar hal tersebut.
Arthur menarik napasnya dalam-dalam, segala pikiran buruk mulai mengalir di kepalanya saat itu. Namun sebisa mungkin Arthur tepis dan singkirkan agar tidak terus berputar di kepalanya.
"Aku... Aku mencintai mu..." ucap Arthur kemudian pada akhirnya sambil menahan isak nya saat itu.
"Te...rima kasih.. Tu..an...."
Bruk...
Tangan Aruna yang semula memegang pipi Arthur perlahan-lahan terlihat turun diiringi dengan kelopak mata Aruna yang mulai tertutup dengan rapat. Mendapati hal tersebut lantas membuat Arthur menutup matanya dan memeluk tubuh Aruna dengan erat.
"Aruna... Tidak... Bagaimana aku bisa duduk seorang diri di altar pernikahan nantinya.. Aruna... Hua.. Aruna bangun.. Kau tidak bisa pergi tanpa seijin ku.. Aruna..." ucap Arthur sambil berteriak dengan kencang membuat Bagas terkejut ketika mendengar teriakan tersebut.
"Ar Papa..." ucap Bagas yang seakan menyesal dengan apa yang terjadi saat ini.
"Pergi! Jangan membuat kesabaran ku semakin habis...Pergi!" teriak Arthur yang seakan sama sekali tidka ingin do ganggu oleh siapapun saat itu.
Tangis Arthur tidak lagi bisa dibendung, kepergian Aruna benar-benar menyisakan kepedihan tersendiri baginya. Kehidupan masa depan yang ia dan Aruna rencanakan harus hancur begitu saja hanya karena sebuah garpu. Terdengar begitu konyol namun menyisakan luka tersendiri bagi seorang Kafin.
Dipeluknya dengan erat tubuh Alice saat itu dengan berlinang air mata, membuat Bagas yang menyaksikan kehancuran Putranya untuk pertama kalinya lantas terenyuh dan juga merasa menyesal akan apa yang tengah terjadi saat itu.
"Aruna....."
***
Di sebuah Apartment
Dari arah pintu masuk terlihat Fadli tengah sibuk mengemasi seluruh barang-barangnya saat itu. Apapun yang terjadi dengan Aruna, sudah bisa dipastikan jika Arthur akan langsung mengejarnya hingga ke lubang semut sekalipun.
"Sial! Aku bahkan tidak menyangka akan berakhir seperti ini." ucap Fadli dengan nada yang kesal sambil terus mengemasi beberapa barang berharga miliknya saat itu.
Disaat Fadli tengah sibuk berkemas sebuah dobrakan yang berasal dari pintu masuk unit Apartment miliknya, lantas membuat Fadli terdiam dengan seketika.
"Mau kemana kau?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Fadli menelan salivanya dengan kasar.
Bersambung