
Suasana di Ballroom hotel yang semula ramai dengan kebahagian atas pernikahan keduanya, mendadak berubah menjadi tegang saat itu. Semuanya benar-benar sesuai dengan keinginan Arthur, hampir satu bulan lamanya ia merencanakan ini seorang diri. Sampai kemudian mengeksekusinya hari ini, bukankah hal ini benar-benar sangat menarik?
Arthur melirik sekilas ke arah Aruna yang terlihat begitu antusias mengikuti perkembangan pertengkaran ini. Sampai kemudian pandangannya terhenti kepada panggung dekorasi, dimana terlihat Fadli dan juga Felia yang terlibat pembicaraan serius saat ini.
"Kamu jangan kemana-mana, aku akan menghampiri kakak ku sebentar." ucap Arthur yang lantas membuat Aruna langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.
"Baiklah jangan lama-lama aku akan menunggu mu di sini." ucap Aruna sambil mengangguk dengan pelan.
Setelah mengatakan hal tersebut Arthur nampak mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah dimana Fadli dan juga Felia berada dan tersenyum sinis ketika mendengar perkataan Fadli yang menurutnya benar-benar menggelikan baginya.
"Apa kau yakin dengan perkataan mu? Aku rasa ada yang tidak kau sadari ketika acara ini berlangsung." ucap Arthur dengan tersenyum sinis, membuat raut wajah Fadli lantas mengernyit dengan seketika.
***
Satu jam sebelum prosesi pernikahan terjadi
Di ruang tunggu pengantin terlihat Felia tengah sibuk menanti MC mempersilahkan durinya untuk masuk. Sebuah suara pintu yang terbuka dari arah luar lantas membuat Felia menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.
"Apa yang kau lakukan di sini? Aku yakin kedatangan mu bukan untuk menangisi pernikahan ku, bukan? Seperti layaknya kebanyakan saudara laki-laki di drama-drama yang di televisi itu kan." ucap Felisa dengan nada yang menyindir.
Mendengar perkataan Felia lantas membuat Arthur mendengus dengan kesal. Bagaimana ia bisa menangis haru? Jika bercakap santai ketika berdua saja tidak pernah mereka lakukan. Bukankah dua kakak beradik ini sangat aneh?
"Kau tentu tahu kita tidak sedekat itu untuk bisa saling menangis haru di acara pernikahan konyol ini. Aku yakin kau tidak sebodoh itu hingga bisa tertipu tampang Fadli yang jelek itu." ucap Arthur sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Felia berada saat ini.
"Cih, aku akui insting mu sangatlah jeli. Anak ini hanyalah sebuah kecelakaan saja, aku bahkan sama sekali tidak berencana untuk memilikinya. Lagi pula bukankah pergaulan bebas dan juga s3xs, sangatlah wajar di usia kita. Aku hanya apes saja ketika baru menyadari jika Fadli sengaja melakukan hal ini untuk menjebak ku." ucap Felia mendengus dengan kesal.
"Ngomong-ngomong tentang terjebak, aku akan membantu mu untuk keluar dari jebakan menyebalkan ini. Itu pun jika kau mau.. Lagi pula aku tidak yakin jika kau tidak mencintai Pria itu!" ucap Arthur sambil mengambil posisi duduk di bangku panjang milik Felia.
"Cih kau pasti melakukan ini agar ia tidak mengotak-atik harta warisan keluarga Gavanza, bukan? Bukankah ini terasa tidak adil? Jika kau menyingkirkan Fadli dan mempertahankan Aruna di sisi mu, benar-benar Tuan serakah." ucap Felia dengan nada yang menyindir, namun berhasil membuat Arthur tertawa renyah karenanya.
"Apa kau pikir semua ini karena harta warisan? Tentu saja tidak! Jika kau mau kau bisa mengambilnya, soal kepemimpinan ku di perusahaan induk anggap saja aku tengah mengabdi padamu. Bukankah hal itu benar-benar luar biasa? Lagi pula dimana lagi kau bisa mendapatkan adik laki-laki yang begitu berbakti padamu?" ucap Arthur dengan nada yang terdengar datar, namun berhasil membuat Felia mengernyit ketika mendengar perkataan Arthur barusan.
"Apa kau tengah menipu ku saat ini? Aku bukan anak kecil yang bisa di iming-imingi hal tidak masuk akal seperti ini." ucap Felia dengan nada yang mulai kesal.
Sedangkan Arthur yang mendengar perkataan Felia hanya tersenyum dengan simpul kemudian menyerahkan sebuah map kepada Felia. Mendapati hal tersebut lantas membuat Felia yang penasaran akan isi map tersebut, lantas mulai membuka untuk melihat isi map tersebut.
Manik mata Felia membulat seketika disaat ia mendapati sebuah surat perjanjian penyerahan semua harta waris milik Arthur kepada dirinya. Rasanya seperti mimpi yang mendadak mendatanginya, hingga membuat Felia menatap ke arah Arthur dengan tatapan yang bertanya seakan berusaha untuk memastikan segalanya.
"Katakan apa harga yang harus di tebus untuk ini?" ucap Felia kemudian dengan raut wajah yang datar menatap ke arah Arthur menanti jawaban darinya.
***
Kembali ke acara pernikahan Fadli dan juga Felia.
"Apa maksud perkataan mu barusan?" ucap Fadli yang menatap bingung ke arah keduanya saat itu.
Di saat Fadli tengah menatap ke arah Arthur dan juga Felia dengan raut wajah yang kebingungan. Seseorang yang tak asing di ingatannya, lantas terlihat muncul dan melangkahkan kakinya dengan perlahan ke arah Fadli saat itu.
"Bukankah dia pendeta yang menikahkan kita berdua?" ucap Fadli dengan raut wajah yang mengernyit.
"Tentu saja bukan karena ia hanyalah seorang aktor yang di bayar untuk pekerjaannya." ucap Arthur sambil menyerahkan amplop berisi uang kepada pendeta gadungan tersebut.
Sedangkan pendeta tersebut tepat setelah mendapatkan uang dari Arthur, ia lantas melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana sambil tersenyum simpul ke arah Fadli saat itu. Membuat Fadli yang mendapati hal tersebut tentu saja langsung geram dan mengepalkan tangannya dengan erat.
"Kau..." ucap Fadli hendak mengatakan sesuatu namun di potong oleh Arthur saat itu.
"Masih ada seseorang lagi yang harus kau temui!" ucap Arthur sambil tersenyum tipis ke arah Fadli saat itu.
Tepat setelah Arthur mengatakan hal tersebut, satu persatuan wanita dengan pakaian dress yang cantik nampak mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana mereka berada. Tidak hanya satu bahkan terdapat dua, tiga, empat, sampai puluhan wanita nampak berjajar dan berdiri tepat di depan pentas pernikahan tersebut.
"Apa kau mengenal mereka? Setidaknya kakak ku bukanlah satu-satunya..." ucap Arthur dengan nada penuh penekanan, membuat raut wajah Fadli langsung memerah dengan seketika.
"Lihatlah kak, setidaknya kakak harus bersyukur karena aku menyelamatkan kakak dari buaya darat tidak bermodal satu ini. Bukankah dia sangat-sangat menjijikkan?" ucap Arthur dengan tatapan yang jijik, namun Felia hanya mengangkat bahunya begitu saja seakan tidak ingin berkomentar apapun.
"Sialan!" ucap Fadli yang mulai panik karena tertangkap basah saat ini.
Fadli yang tidak ingin berakhir dengan tragis lantas terlihat memutar otaknya saat itu. Sampai kemudian pandangannya terhenti pada satu sosok yang mungkin bisa jadi penyelamatnya.
"Setidaknya itu bukanlah ide yang buruk!"
Bersambung