
Keesokan harinya
Semalaman penuh Arthur tidak tidur sama sekali dan menjaga Aruna. Pikirannya saat ini bahkan terus berkecamuk memikirkan tentang Aruna yang entah tidak ada angin, tidak ada hujan mendadak mengkonsumsi obat-obatan terlarang.
"Aoa dia benar-benar sudah gila?" ucap Arthur sambil berdecak dengan kesal menatap ke arah Aruna yang saat ini tengah memejamkan kelopak matanya dengan tenang.
Helaan napas terdengar berhembus dengan jelas begitu ia yang tak dapat mengerti jalan pikiran Aruna saat ini. Hingga ketika sebuah deringan ponsel miliknya terdengar menggema, lantas membuat Arthur bangkit dari posisinya ketika melihat dengan jelas nama Faris tertulis dengan jelas di sana.
"Halo" ucap Arthur kemudian setelah menggeser icon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Tuan ada masalah besar, apakah anda sudah melihat media sosial pagi ini? Ada berita heboh tentang Aruna Tuan!" ucap Faris di seberang sana yang lantas membuat Arthur langsung mengernyit dengan seketika.
"Apa ada masalah yang serius? Tunggu sebentar aku akan mencoba membuka media sosial ku, jangan tutup teleponnya!" ucap Arthur kemudian sambil mulai menjauhkan ponselnya dari telinganya saat itu dan mulai membuka media sosial miliknya.
Arthur terus berselancar pada layar ponsel miliknya dan mencari tahu berita heboh apa yang dikatakan oleh Faris baru saja. Sampai kemudian pandangannya terhenti pada sebuah video, yang membuat Arthur lantas langsung mengernyit begitu melihat video tersebut.
Sebuah video yang sama sekali tidak pernah Arthur ingin lihat sedikitpun, di mana di sana terlihat Aruna yang seperti sedang tengler dengan mata yang menyipit tengah menari-nari dengan bahagia. Dalam vidio tersebut Aruna terlihat mulai membuka beberapa kancing bajunya sambil menari-nari dengan gerakan yang menggila, membuat Arthur yang melihat hal tersebut lantas langsung mematikan video itu. Arthur benar-benar tidak ingin melihat Aruna seperti ini.
Arthur yang sudah merasa cukup melihat beberapa cuplikan video tersebut dengan komentar paling atas, yang mengomentari tentang segala perilaku Aruna saat itu. Lantas Langsung kembali mendekatkan ponsel miliknya ke telinga untuk memberikan Faris perintah dan membereskan segalanya.
"Apa kau sudah mencari tahu alamat ID yang mang upload video Aruna tersebut?" ucap Arthur sambil berusaha untuk menahan amarahnya.
Mendengar pertanyaan dari Arthur barusan, lantas langsung membuat Faris terdiam seketika. Entah bagaimana Faris mencoba untuk menjelaskan kepada Arthur, jika alamat ID yang meng upload video Aruna barusan adalah milik Aruna sendiri.
"Halo apa kau mendengar ku Ris? Halo Faris!" pekik Arthur karena tak kunjung mendengar jawaban apapun dari Faris di seberang sana.
"Em iya Tuan, maafkan saya jika harus mengatakan hal ini karena alamat ID yang mengunggah vidio tersebut adalah milik Aruna sendiri Tuan. Dan saat ini vidio tersebut sudah mencapai hampir jutaan penonton." ucap Faris dengan nada yang terdengar ragu karena ia yakin jika sebentar lagi Arthur pasti akan sangat marah kepadanya.
"Apakah dia sudah gila? Tidakkah dia berpikir sebelum mengunggah video tersebut? Arg benar-benar menyebalkan, dia selalu saja membuat kepala ku ingin pecah!" ucap Arthur dengan nada yang kesal sambil mulai mengambil langkah kakinya keluar dari kamar.
"Lalu apa yang harus saya lakukan Tuan? Apakah vidio tersebut harus saya take down? Tapi kemungkinannya sangat kecil karena beberapa penonton ada yang telah menyimpan vidio tersebut dan mengunggahnya di akun pribadi mereka, atau bahkan menyimpannya hanya sekedar untuk konsumsi pribadi." ucap Faris kemudian yang lantas membuat Arthur menghela napasnya dengan panjang.
"Jika begitu maka cari hacker ternama untuk menghapus vidio itu secara permanen di semua media, redam berita agar tidak berdampak pada perusahaan. Lakukan secepat dan sebersih mungkin agar hal ini tidak sampai tercium oleh nenek lampir, atau nanti ia akan kembali memberikan bom waktu untuk ku." ucap Arthur kemudian mulai memberikan perintah.
"Tentu Tuan, saya akan bergerak secepat mungkin menyelesaikan hal ini." ucap Faris yang seakan siap melaksanakan perintah dari Arthur barusan.
"Apakah ada sesuatu dengan rekaman kamera pengawas di unit Apartemen Anda tuan?" ucap Faris kemudian dengan raut wajah penasaran, yang tentu saja tidak akan bisa di lihat oleh Arthur saat ini.
"Aku hanya ingin mengetahui dari mana Aruna mendapatkan obat terlarang itu, jangan lupa untuk kirimkan kepadaku dan segera kerjakan perintah dariku!" ucap Arthur dengan nada penuh penekanan, membuat Faris lantas manggut-manggut di seberang sana.
Sampai kemudian ketika pembicaraan keduanya telah selesai, Arthur lantas langsung memutus sambungan telepon dari Faris barusan.
"Mengapa masalah harus timbul ketika aku baru kembali ke Perusahaan? Jika sampai hal ini tercium ke media semua reputasi yang di bangun akan hancur hanya karena vidio tersebut." ucap Arthur dengan nada yang kesal ketika mendapati keadaan sudah semakin kacau saat ini.
***
Sementara itu di sebuah ruangan perusahaan di mana Fadli bekerja, terlihat Fadli tengah menatap lurus ke arah depan dengan senyuman yang tak henti-hentinya mengembang di wajahnya saat itu.
Satu persatu bayangan yang terjadi semalam, benar-benar membuatnya begitu bahagia hingga tak henti-hentinya senyuman tersebut terus terlihat di raut wajahnya saat ini.
**
Flashback on
Setelah Fadli berhasil membuat Aruna teler dengan memberinya dua tablet obat terlarang. Lantas membuat Fadli langsung bergerak dan mencari keberadaan ponsel milik Aruna. Diletakkannya ponsel itu di lantai dengan di berikan sandaran dan membiarkan Aruna yang mulai melayang menari seperti orang yang gila. Mendapati hal tersebut benar-benar sesuai dengan ekspetasi Fadli, yang memang ingin menghancurkan reputasi Aruna dan juga Arthur. Membuat Fadli begitu puas ketika melihat Aruna yang seperti itu.
Sampai ketika Fadli yang melihat Aruna sudah mulai kelelahan dan berbaring di lantai, lantas mulai bangkit dan menghentikan rekaman tersebut.
"Dasar bodoh, sepertinya ia tidak pernah meminum obat-obatan terlarang. Mengapa ia begitu bahagia hanya dengan dua tablet yang ku berikan?" ucap Fadli sambil mulai mengotak-atik ponsel Aruna.
"Bagus sekali, dengan sekali klik dan atur timer waktu untuk mengunggah vidio tersebut. Riwayat mu dan juga Arthur pasti akan langsung habis dengan seketika." ucap Fadli dengan senyuman yang mengembang di wajahnya ketika ia berhasil mengunggah vidio tersebut pada akun media sosial milik Aruna.
Flashback off
***
"Baiklah Arthur, mari kita lihat apakah kamu bisa menangani pukulan ku yang satu ini? Aku benar-benar tidak sabar menantikannya!" ucap Fadli dengan nada yang mengejek sambil tersenyum dengan sinis.
Bersambung