Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Memamerkan kemesraan



"Kamu memang tidak mengenalku, tapi aku yakin kamu pasti mengenal Aruna, bukankah begitu Pandu Atmaja?" ucap Maria dengan senyuman yang tipis.


Sedangkan Pandu yang mendengar perkataan dari Maria barusan yang menyebut nama Aruna tentu saja langsung mengernyit dengan tatapan yang bertanya-tanya. Pandu bahkan sama sekali tidak mengenali sosok Maria, namun ia tiba-tiba datang dan mengatakan sesuatu tentang Aruna, bukankah hal itu membuat rasa penasaran dalam diri Pandu menjadi terpanggil?


"Apa yang kau mau sebenarnya? Jika kau mendatangi ku untuk membahas tentang Aruna, aku rasa kau juga tau tentang riwayat ku, bukan?" ucap Pandu kemudian sambil menatap ke arah Maria dengan tatapan yang menelisik.


Pandu benar-benar yakin jika wanita di hadapannya ini bukanlah dari kalangan yang biasa mengingat dari caranya berpakaian hingga bagaimana ia bisa mendatangi Pandu sampai ke Resto miliknya, bukanlah sesuatu yang mudah.


"Karena kamu sudah bisa menebak sebagian dari maksud kedatangan ku maka aku tidak akan sungkan lagi dan akan langsung kepada intinya." ucap Maria kemudian. Aku ingin kamu mengambil kembali Aruna dan menghancurkan Arthur lewat cinta, apa kamu sanggup melakukannya?" ucap Maria kemudian mulai mengutarakan maksud kedatangannya.


Mendengar permintaan tersebut membuat Pandu langsung tersenyum dengan tipis kemudian menatap ke arah Maria dengan tatapan yang intens.


"Aku paling tidak suka di atur-atur tapi untuk masalah itu aku rasa aku akan menyetujuinya. Entah bagaimana sosok Arthur tumbuh, hingga ia bisa mendapatkan musuh dari segala arah dan bersiap menikamnya kapan pun ia lengah!" ucap Pandu dengan senyuman yang sinis namun berhasil membuat Maria menjadi penasaran akan maksud dari perkataan Pandu barusan.


"Apa maksud perkataan mu barusan?" tanya Maria kemudian dengan raut wajah yang bingung sekaligus penasaran.


"Kau tak perlu tahu apa yang terjadi di sekitar yang terpenting kau akan mencapai tujuan mu dan akan aku pastikan hal itu karena aku juga tidak menyukai Pria sombong itu!" ucap Pandu kemudian sambil tersenyum dengan simpul, membuat Maria pada akhirnya mau tidak mau lantas hanya mengiyakan perkataan Pandu barusan.


"Entah apa yang dimaksud oleh bocah ini tadi, aku yakin tidak hanya aku yang memintanya untuk menghancurkan Arthur, tapi siapa? Bukankah segalanya semakin menarik saja saat ini?" ucap Maria sambil menatap ke arah Pandu dan memperhatikan segala gerak-geriknya.


***


Hotel Tamara ruangan CEO


Di dalam ruangan tersebut terlihat Arthur, Aruna dan juga Faris tengah sibuk melakukan pekerjaannya masing-masing. Aruna yang mulai keroncongan kemudian meletakkan iPad nya sejenak dan langsung menatap ke arah jam tangan miliknya. Aruna nampak mendengus dengan kesal ketika mengetahui jika saat ini bukanlah waktu jam makan siang, membuat Aruna langsung mengelus perutnya yang terasa lapar saat ini.


Aruna bangkit dari tempat duduknya membuat Arthur dan juga Faris lantas langsung menoleh dengan seketika ke arah Aruna begitu mendengar suara berisik dari sana.


"Aku lapar, ayo kita keluar dan cari makan sekarang!" ucap Aruna dengan nada yang santai namun berhasil membuat Arthur dan juga Faris lantas saling pandang satu sama lainnya.


"Bukankah ini belum jam makan siang Tuan?" tanya Arthur dengan nada yang pelan seakan takut jika Aruna akan marah ketika mendengarnya.


"Tidak perlu menunggu jam makan siang karena aku akan mentraktir kalian berdua, Aruna kamu yang pilih tempatnya sekarang kamu bebas memilih." ucap Aruna dengan senyum yang mengembang membuat Faris langsung menoleh ke arah Arthur dengan seketika.


"Apa anda yakin ingin menyuruh Aruna untuk memilih? Bagaimana jika nanti Aruna akan kembali memilih warteg sebagai tempat makan siang kita?" ucap Faris kemudian yang lantas membuat Aruna langsung terdiam seketika.


"Tentu saja tidak, ada satu tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Resto yang sedang viral belakangan ini, apa anda ingin mencobanya Tuan?" ucap Arthur kemudian dengan nada yang semangat empat lima.


"Baiklah ayo kita berangkat!" ucap Aruna kemudian dengan raut wajah yang sumringah.


Pada akhirnya ketiga orang tersebut memutuskan untuk mengikuti saran *Aruna pergi ke Resto yang ingin ia kunjungi. Sambil melangkahkan kakinya dengan senyum yang mengembang ketiganya lantas terlihat melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu. Arthur yang sangat bahagia bisa pergi mengunjungi Resto yang sedang ramai diperbincangkan belakangan ini, kemudian mulai melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang cepat mendahului keduanya untuk membuka pintu.


Namun ketika pintu berhasil dibuka oleh Arthur, sosok yang sama sekali tak ingin ia temui dimanapun juga mendadak berdiri tepat di hadapannya membuat langkah kaki Arthur lantas terhenti seketika.


"Apa ada kabar baik yang membuat raut wajah mu begitu bahagia?" ucap sebuah suara yang berasal dari Bagas.


"Papa..." ucap Aruna dalam hati yang juga terkejut akan kehadiran Bagas yang tiba-tiba itu.


***


Ruangan CEO


Setelah kedatangan Bagas yang tiba-tiba ke Hotel Tamara, membuat rencana ketiganya lantas berubah dengan seketika. Di ruangan tersebut keheningan nampak terjadi diantara keduanya, Bagas yang memang penasaran akan ruangan kantor Arthur terlihat melangkahkan kakinya ke sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar. Sedangkan Arthur yang tak tahu harus mengatakan apa hanya bisa terdiam mati kutu sambil menatap celingukan ke arah kanan dan kiri seakan tengah mencoba mencari pencerahan akan keadaan ini.


Di tengah keheningan yang terjadi diantara keduanya sebuah ketukan pintu lantas terdengar berasal dari luar ruangan tersebut, tak lama setelah itu Aruna nampak masuk dengan membawa dua cangkir kopi di sebuah nampan yang ia bawa.


"Tuan.. Apa yang harus saya lakukan?" ucap Arthur dengan nada isyarat tanpa suara tepat ketika Aruna masuk ke dalam ruangannya.


Aruna yang mengerti akan kode yang diberikan oleh Arthur barusan hanya tersenyum dengan simpul sambil terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Arthur berada saat ini. Diletakkannya dua cangkir kopi tepat di atas meja sambil sesekali melirik ke arah di mana Bagas berada, yang saat ini tengah sibuk melihat-lihat beberapa koleksi buku miliknya di ruangan tersebut.


"Pakailah earphone ini dan jangan biarkan ia terlepas dari telinga mu, apa kamu mengerti?" ucap Aruna sambil menyerahkan earphone tersebut.


"Apa ini Tuan? Apakah earphone ini bisa membantu ku?" ucap Arthur dengan nada yang menggerutu namun masih dalam posisi setengah berbisik.


"Sudah pakai saja dan jangan protes!" ucap Aruna lagi sambil memasangkan earphone tersebut di telinga Arthur.


"Apa kalian tetap akan memamerkan kemesraan kalian di depan ku, agar aku segera pergi dari sini?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Arthur dan juga Aruna langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.


Bersambung