
"Aruna..." ucap sebuah suara yang langsung menghentikan langkah kaki ketiganya dengan seketika begitu mendengar panggilan tersebut.
Arthur yang merasa tak asing dengan suara panggilan tersebut lantas langsung terdiam di tempatnya sejenak, Arthur yang mendengar suara tersebut tentu saja jelas tahu suara siapa barusan namun di dalam lubuk hatinya yang terdalam ia sama sekali tidak menginginkan hal ini terjadi secepat ini.
Dengan gerakan yang perlahan Arthur mulai berbalik badan dan menatap ke arah dimana sumber suara berasal, ada sebuah rasa keterkejutan ketika ia berbalik badan dan melihat Pandu tengah berdiri menatap ke arah Aruna saat ini. Arthur yang terkejut akan hal itu lantas mulai melangkahkan kakinya mundur secara perlahan, membuat Aruna yang melihat hal itu lantas langsung menggenggam dengan erat tangan Arthur sehingga langsung menghentikan langkah kaki Arthur yang mundur sedari tadi.
"Tu...tuan..." ucap Arthur dengan nada yang sudah terlihat pucat pasi saat itu.
Namun Aruna yang mendengar dan juga melihat hal tersebut bukannya melepaskan tangan Arthur malah semakin menggenggamnya dengan sangat erat, membuat Arthur menjadi kebingungan akan apa yang sedang Aruna lakukan saat ini.
"Tetap lah di sini, kita hadapi bersama-sama aku yakin kamu bisa." ucap Aruna dengan nada yang lembut membuat Arthur langsung terbengong seketika begitu mendengar perkataan dari Aruna barusan.
Sedangkan Pandu yang melihat Aruna dan juga dua orang pria lainnya berhenti tepat di area parkiran, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Aruna berada. Sambil memasang seulas senyum yang bahagia Pandu terlihat menghentikan langkah kakinya di sana kemudian menatap ke arah Aruna dengan tatapan yang menelisik.
"Aku benar-benar senang kita bertemu di sini, apa kamu bekerja di hotel ini Run?" ucap Pandu hendak menyentuh tangan Aruna yang satunya namun berhasil di cegah oleh Faris, membuat Pandu lantas tersenyum dengan sinis ketika mengetahui hal tersebut.
"Tolong jaga sikap anda" ucap Faris mengingatkan Pandu.
"Aku bahkan hanya berbincang, apanya yang harus diperhatikan? Apakah dia bodyguard mu Run? Atau mungkin pacar? Wah kamu sudah melupakan ku rupanya, aku benar-benar sedih mendengarnya." ucap Pandu kemudian dengan nada yang begitu santai namun berhasil membuat keringat dingin menetes di dahi Arthur saat itu.
Aruna yang tahu Arthur sedang tidak baik-baik saja saat ini, lantas langsung menoleh menatap ke arah Pandu selama beberapa detik.
"Hubungan diantara kita berdua sudah selesai, aku harap kamu bisa mengerti akan hal itu. Untuk pacar.. Ya, aku memang sedang menjalani hubungan saat ini." ucap Aruna sambil mengangkat tangannya yang saat ini tengah menggenggam dengan erat tangan Arthur.
Arthur yang tangannya ikut terangkat tentu saja terkejut, ia bahkan tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Aruna saat ini. Sedangkan Pandu yang mendengar perkataan Aruna barusan tentu saja bingung dan langsung menatap ke arah Faris dan juga Arthur secara bergantian.
"Dia? Aku pikir dia... Wah ternyata mata Aruna tidak pernah salah ya? Pantas saja penampilan mu berubah menjadi seperti ini, kau benar-benar bisa memanfaatkan situasi." ucap Pandu sambil menatap Aruna dari atas hingga ke bawah.
Faris yang mendengar hal tersebut tentu saja marah dan langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Pandu hendak memberinya pelajaran. Hanya saja siapa sangka Arthur yang sedari tadi diam dan ketakutan mendadak saat ini sudah mencengkram dengan erat kerah baju Pandu, membuat suasana kian menjadi tegang karena hal tersebut.
"Hal itu bukanlah urusan mu, lagi pula meski Aruna memanfaatkan ku sekalipun, apa masalah mu? Kau itu hanya masa lalunya jadi jangan berlagak seperti orang penting!" ucap Arthur dengan nada penuh penekanan, membuat Pandu yang melihat hal tersebut lantas langsung terdiam seketika.
"Aruna... Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan mu lolos begitu saja. Waktu lima tahun yang ku tempuh sama sekali bukanlah waktu yang sebentar." ucap Pandu pada diri sendiri sambil terus menatap kepergian ketiganya dengan tangan yang mengepal erat menahan amarahnya.
***
Lift
Setelah ketiganya masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai atas Arthur nampak melepaskan genggaman tangannya yang menggenggam dengan erat tangan Aruna, Arthur menyadarkan tubuhnya sebentar di area badan lift sambil memijat pelipisnya dengan perlahan, membuat Aruna yang mengetahui hal itu lantas langsung menepuk pundak Arthur selama beberapa kali seakan mencoba untuk menenangkan Arthur saat itu.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik... Tak perlu cemas." ucap Aruna dengan senyum yang begitu manis membuat helaan napas lantas terdengar berhembus dari mulut Arthur.
"Apa kamu yakin?" tanya Arthur yang seakan tidak percaya begitu saja akan perkataan Aruna barusan.
"Tentu saja" jawab Aruna dengan tersenyum tulus membuat perasaan Arthur lantas langsung melega seketika.
***
Sementara itu di sebuah ruangan kerja terlihat Fadli tengah menatap ke arah sebuah lukisan relief yang baru saja datang beberapa waktu lalu. Seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Fadli begitu ia menatap ke arah lukisan tersebut.
"Ternyata mendekati nona muda Gavanza tidaklah sesulit itu, meski aku harus merogoh kocek cukup dalam untuk membeli lukisan ini. Aku rasa itu adalah harga yang kecil dibandingkan dengan keuntungan yang akan aku peroleh ketika mendapatkannya." ucap Fadli dengan tersenyum puas.
Fadli benar-benar merasa bahagia begitu mengetahui bahwa mangsanya sudah masuk ke dalam perangkap, hanya dengan beberapa umpan saja Felia sudah benar-benar masuk ke dalam perangkapnya. Awalnya Fadli mengira bahwa akan sangat sulit mendekati nona muda Felia yang begitu manja dan angkuh, namun nyatanya tidak sesulit yang dibayangkan dan terbukti saat ini Felia sudah masuk ke dalam perangkapnya tanpa harus bersusah payah.
Disaat perasaan bahagia menghampiri Fadli saat itu sebuah deringan ponsel miliknya lantas langsung membuyarkan lamunannya. Sambil beberapa kali bersiul dengan hati yang senang, Fadli terlihat melangkahkan kakinya menuju ke arah ponsel miliknya yang saat ini tengah berada di atas meja ruang kerjanya.
Seulas senyum terlihat terbit dari wajah Fadli begitu melihat nama Felia tertulis jelas di layar ponselnya, membuat Fadli semakin merasa bahwa rencananya benar-benar telah berjalan dengan lancar saat ini.
"Bukankah hal ini benar-benar luar biasa?" ucap Fadli sambil menatap ke arah layar ponselnya dengan tawa yang menggema.
Bersambung