Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Fotocopyan



Kediaman Gavanza


Di ruangannya terlihat Bagas tengah menatap kosong ke arah dinding bercat warna putih di ruangannya. Pikirannya saat ini tengah melayang memikirkan segala hal tentang Arthur putranya saat ini. Seulas senyum terlihat terbit dari wajah Bagas ketika ia menyadari kecerdikan Arthur benar-benar sama persis seperti dirinya.


"Dia benar-benar putra ku, aku bahkan tidak menyangka bahwa Arthur mengembangkan sebuah bisnis secara diam-diam di belakang ku. Pantas saja dia begitu tenang ketika aku mengancamnya akan mencoretnya dari daftar ahli waris. Rupanya ia sudah punya pesangon hahahaha, aku benar-benar telah tertipu olehnya." ucap Bagas dengan tawa yang terdengar menggema di ruangannya seakan menertawakan kebodohannya sendiri.


Entah mengapa mengetahui bahwa Arthur membangun bisnisnya sendiri secara diam-diam di belakangnya, membuat Bagas begitu bahagia karena seakan senang bahwa ia telah berhasil mendidik anak laki-lakinya itu.


Bagas yang puas tertawa lantas menghentikan tawanya sejenak kemudian membuka laci meja kerjanya dan mengambil sebuah bingkai foto di sana. Ditatapnya foto seorang wanita cantik dengan senyuman lebar di wajahnya, membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan terpikat dengan senyuman wanita tersebut. Bagas mengusap beberapa kali wajah wanita tersebut di foto kemudian menghela napasnya dengan panjang.


"Dia sudah tumbuh menjadi Pria yang tampan dan juga cerdas Alina, Felia juga begitu cantik dan sangat manja. Apakah kamu masih membenci diriku yang begitu egois ini Al? Aku benar-benar menyesal telah menceraikan mu dulu, jika saja aku lebih bersabar dan tidak terus mengeluh padamu akan keterpurukan kita, mungkin hingga kini kita masih bersama dan hidup dalam kebahagiaan." ucap Bagas dengan raut wajah yang sendu menatap ke arah foto tersebut seakan manik mata Bagas terlihat begitu memendam perasaan yang penuh dengan penyesalan.


Sebuah perasaan menyesal yang menyerang dirinya selama bertahun-tahun membuat Bagas tidak bisa lepas dari sosok Alina. Satu-satunya keputusan yang membuat Bagas menikah kembali dengan Maria karena ia melihat adanya sosok Alina dalam diri Maria saat itu. Hanya saja rasa rindu yang begitu mendalam kepada Alina saat itu, membuat Bagas buta dan tidak menyadari bahwa semua sikap dan juga sifat yang di tunjukkan oleh Maria kepadanya selama ini hanyalah sebuah tipu muslihat semata.


Bagas benar-benar menyesal telah membuat keputusan untuk menikah lagi waktu itu. Andai saja waktu bisa di putar mungkin ia akan lebih mempertahankan pernikahannya dari pada harus tersiksa seperti ini. Meski telah membina rumah tangga selama bertahun-tahun dengan Maria, nyatanya sama sekali tidak bisa menghilangkan perasaan cintanya kepada Alina sedikit pun.


Helaan napas terdengar berhembus dengan kasar keluar dari mulutnya, begitu Bagas kembali teringat akan kenangan masa lalunya. Sebuah keputusan yang ia sesali hingga saat ini dan membuatnya hidup dalam sebuah neraka yang ia ciptakan sendiri.


"Dimana kamu sekarang Alina? Aku benar-benar merindukan mu." ucap Bagas sambil menatap sendu ke arah bingkai foto milik Alina.


***


Sore harinya


Faris, Arthur dan juga Aruna terlihat baru saja keluar dari lobi hotel. Hari ini pekerjaan mereka bertiga selesai dalam waktu yang lebih cepat dari biasanya, membuat raut wajah sumringah terlihat dengan jelas dari wajah ketiganya.


"Apakah ada yang harus saya kerjakan lagi Tuan?" ucap Faris kemudian yang langsung membuat Arthur dan juga Aruna langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Tidak ada, kau boleh pulang sekarang." ucap Aruna kemudian.


"Terima kasih banyak Tuan, saya permisi." ucap Faris kemudian dengan raut wajah yang berbinar karena ini pertama kalinya ia bisa pulang lebih awal dan tidak harus bekerja lembur lagi, baru setelah itu melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana.


Mendengar Aruna mengijinkan Faris untuk pulang lantas membuat Arthur langsung menatap ke arah Aruna dengan tatapan yang ingin. Membuat Aruna yang menyadari akan tatapan dari Arthur barusan lantas langsung mengernyit menatap dengan tatapan yang bingung.


Mendengar perkataan Aruna barusan bukannya Arthur merubah raut wajahnya yang ia lakukan saat ini malah semakin menempel ke tubuh Aruna dengan melingkarkan tangannya kepada Aruna dengan gemas, membuat Aruna semakin merasa merinding ketika melihat raut wajah Arthur yang seperti itu.


"Tuan bolehkah saya juga pulang ke rumah kontrakan saya Tuan? Saya bahkan sudah lama tidak pulang, entah jadi seperti apa rumah kontrakan saya saat ini." ucap Arthur kemudian dengan nada yang memohon.


"Ti..." ucap Aruna hendak menolak namun keburu di potong oleh Arthur yang tahu jika Aruna akan menolak permintaannya.


"Ayolah Tuan biarkan saya pergi setidaknya untuk mengemas barang-barang saya, bukankah anda juga membutuhkannya?" ucap Arthur lagi tak ingin menyerah begitu saja.


"Aku tidak akan sudi memakai milik mu, lagi pula aku sudah membeli banyak baju yang tentu saja lebih cocok di pakai untuk ku." ucap Aruna dengan nada yang sombong.


"Jangan terlalu egois seperti Tuan, bukankah saya juga harus pulang ke rumah saja sesekali?" ucap Arthur lagi tak ingin menyerah.


Mendengar perkataan dari Arthur barusan yang terus memintanya untuk mengizinkan Arthur untuk kembali ke rumahnya, lantas membuat Aruna langsung menghela napasnya dengan panjang. Sampai kemudian ketika sebuah ide mendadak mendarat di kepalanya langsung membuat seulas senyum terlihat dengan jelas di wajah Aruna saat itu namun tanpa disadari oleh Arthur tentunya.


"Baiklah ayo kita pergi dan hentikan aksi mu ini!" ucap Aruna sambil mendorong tubuh Arthur untuk melepaskannya.


Arthur yang mendengar kata "kita" tentu saja langsung melongo dengan seketika. Ia bahkan hanya meminta seorang diri, namun mengapa Aruna malah ikut sekalian pulang?


"Tunggu Tuan.. Anda tidak perlu ikut cukup saya saja seorang diri yang pergi kesana Tuan..." pekik Arthur kemudian yang lantas menghentikan langkah kami Aruna yang hendak memasuki mobilnya.


"Bukankah kau melupakan sesuatu? Jika kau pergi dengan wajah itu apa yang akan di katakan oleh tetangga mu nantinya?" ucap Aruna kemudian sambil menunjuk wajahnya dan juga wajah Arthur secara bergantian.


Arthur yang melihat arah tunjuk Aruna barusan tentu saja langsung memasang raut wajah yang cemberut. Ia bahkan sampai lupa bahwa keduanya masih belum kembali ke tubuh mereka masing-masing. Jika tiba-tiba Arthur masuk ke rumahnya dengan tubuh ini, tentu saja akan menjadi bahan gosipan tetangga atau bahkan di kira maling yang memasuki rumah seseorang sembarangan.


"Ah sial, ingin pulang ke rumah sendiri saja sulit sekali." ucap Arthur kemudian menggerutu kesal ketika menyadari hal tersebut.


"Tuan tunggu saya...." pekik Arthur kemudian.


Pada akhirnya Arthur hanya bisa menuruti segala perkataan dari Aruna tanpa bisa membantah sama sekali, lagi pula dengan wajahnya yang saat ini masih tertukar dan berada di tubuh *Arthur tentu tidak akan bisa membuatnya keluar masuk dengan begitu mudah di rumah kontrakannya nanti.


Bersambung