Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Lukisan relief bunga melati



Area meja makan


Arthur yang baru saja sampai di meja makan lantas langsung di dorong untuk duduk di kursi meja makan. Dihadapannya saat ini sudah tersedia satu mangkuk bubur lengkap dengan satu gelas susu hangat di sebelahnya.


Arthur menatap dengan tatapan yang menelisik ke arah satu mangkuk bubur yang nampak begitu menggoda ketika dilihat.


"Cobalah beberapa suap, aku membuatkannya khusus untuk mu..." ucap Aruna dengan raut wajah yang sumringah.


Mendengar perintah dari Aruna barusan lantas membuat Arthur mengangguk dengan pelan kemudian mulai mengambil sendok bersiap untuk menyendokkan bubur buatan Arthur barusan. Dengan gerakan yang perlahan Arthur mulai memasukkan satu suap bubur ke dalam mulutnya. Ketika sebuah rasa bersatu dengan lidahnya, sebuah perasaan aneh lantas membuat Arthur langsung mengernyit dengan seketika.


"Bagaimana rasanya? Pasti enak bukan? Aku bahkan sudah menduganya!" ucap Aruna dnegan nada yang terdengar percaya diri, membuat raut wajah Arthur langsung berubah dengan seketika.


"Em Tuan... Apakah anda memang membuat bubur versi manis? Soalnya bubur ini manis sekali..." ucap Arthur kemudian.


Mendengar perkataan Arthur barusan lantas membuat Aruna dan juga Faris saling pandang antara satu sama lain. Aruna yang merasa sudah mengikuti petunjuk dengan benar lantas langsung menyerobot sendok bubur tersebut kemudian mulai mencobanya. Begitu satu suapan mendarat di lidah Aruna, Aruna yang merasakan rasa manis yang teramat di sana lantas langsung mengernyit dengan seketika.


"Faris, apa kau sungguh membaca panduan itu dengan benar?" ucap Aruna kemudian masih dengan nada yang terdengar lirih saat itu.


Faris yang mendengar panggilan dari Aruna barusan tentu saja langsung mencoba memutar kembali ingatannya ketika ia dan juga Aruna memasak tadi. Diulang beberapa kali pun Faris tetap yakin bahwa ia sudah memberi instruksi dengan benar.


"Apa jangan-jangan Tuan salah memasukkan antara garam dan juga gula ya?" ucap Faris dalam hati menduga-duga tanpa berani mengatakannya secara langsung.


"Faris..." panggil Aruna lagi kali ini dengan nada yang memanjang membuat Arthur yang mendengar penggilan tersebut, lantas menatap ke arah Aruna dan juga Faris secara bergantian.


"Ee.. Harusnya sih sudah Tuan, saya bahkan.." ucap Faris mulai menjelaskan segalanya kepada Arthur.


Namun tatapan Arthur yang menatapnya dengan tatapan yang tajam, lantas membuat Faris mulai merasa bahwa sebentar lagi ia pasti akan mendapat amukan dari Aruna karena hal ini.


"Maafkan saya Tuan.. Saya benar-benar..." ucap Faris hendak menjelaskan namun Aruna sudah lebih dulu melempar sendok yang ia gunakan untuk mencicipi bubur tersebut.


Beruntung respon Faris cepat tanggap, jika tidak mungkin sendok itu sudah bersarang di kepalanya saat ini. Melihat Faris yang lolos dari lemparannya barusan lantas membuat Aruna semakin dibuat kesal dan mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Faris berada. Sedangkan Faris yang melihat gerakan Aruna semakin mendekatinya tentu saja langsung mengambil langkah kaki seribu.


Pada akhirnya kejar-kejaran antara Aruna dan juga Faris sama sekali tak bisa terhindarkan. Aruna yang sudah terlanjur kesal akan Faris, lantas terus melempari Faris dengan berbagai benda yang ia jumpai ketika berjalan mengejarnya seperti bantal sofa, hanger, gantungan kunci, kemoceng dan masih banyak benda-benda yang lainnya.


Sedangkan Arthur yang tidak terlalu tahu akan penyebab dari marahnya seorang Aruna kepada Faris, hanya bisa menonton keduanya sambil memasang raut wajah yang bingung. Arthur bahkan sampai melupakan barang sejenak tentang Pandu ketika melihat keduanya yang begitu mirip dengan Tom & Jerry tersebut.


"Mereka berdua benar-benar sangat lucu." ucap Arthur sambil terus menatapi keduanya yang terus berkejar-kejaran tanpa henti sambil saling melempar dan menghindar layaknya seorang anak kecil.


***


"Fadli... Nama yang tampan sama seperti orangnya." ucap Felia dengan raut wajah yang sumringah ketika raut wajah tampan milik Fadli kembali terlintas di benaknya.


Ketika rasa penasaran sekaligus rindu mulai berkumpul menjadi satu dalam diri Felia, sebuah suara ketukan pintu dari luar lantas membuyarkan lamunan Felia membuatnya lantas berdecak dengan kesal ketika mendengar suara ketukan pintu tersebut.


"Masuk" ucap Felia kemudian.


Baru setelah itu suara pintu terbuka terdengar dengan nyaring di ruangan tersebut, di susul dengan seorang asistennya nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah kursi kebesaran Felia.


"Permisi Nona, ada seorang pelanggan yang memberikan penawaran fantastis pada lukisan relief bunga melati yang dipajang di depan, apakah anda ingin melepasnya Nona?" ucap Arta memberikan informasi kepada Felia tentang penawaran lukisan oleh seorang klien.


Mendengar perkataan dari Arta barusan lantas membuat Felia mengernyit dengan seketika. Masalahnya lukisan tersebut bernilai milyaran juta rupiah karena ada beberapa bahan yang memang di buat khusus ketika proses pengukirannya. Jarang sekali ada yang menawar dengan harga fantastis jika bukan orang-orang tertentu yang mengerti akan seni.


"Apa kamu yakin? Lukisan ini bahkan baru pertama kali ini di tawar dan itu terjadi hari ini. Apa kamu yakin dia benar-benar menawar lukisan tersebut?" ucap Felia yang seakan tidak yakin dengan perkataan dari Arta barusan.


"Tentu Nona, saya bahkan sudah menanyakannya berulang kali dan jawaban dari pelanggan itu tetaplah sama." ucap Arta sekali lagi yang lantas membuat Felia langsung terdiam ketika mendengarnya.


Felia yang mendengar jawaban dari Arta barusan lantas menghela napasnya dengan panjang. Sepertinya harus Felia sendiri yang turun tangan untuk menghadapi pelanggan tersebut. Felia yakin setelah pelanggan itu mengetahui harga lukisan tersebut ia pasti akan mundur dan tidak jadi membelinya karena harganya yang selangit.


"Baiklah jika begitu antar aku bertemu dengannya." ucap Felia kemudian pada akhirnya memutuskan untuk menemui pelanggan tersebut untuk mulai berunding harga.


***


Galeri seni


Dari arah ruangannya terlihat Felia dan juga Arta tengah melangkahkan kakinya menuju ke arah dimana pelanggan yang dibicarakan oleh Arta tadi sedang menunggunya. Dengan langkah kaki yang perlahan Felia menatap beberapa kali ke arah depan karena saking penasarannya akan sosok si pelanggan yang dibicarakan oleh Arta.


"Aku yakin dia bukan orang biasa." ucap Felia dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Arta yang menuntunnya menuju ke arah dimana pelanggan tersebut menunggu.


Setelah berjalan beberapa menit pada akhirnya Arta terlihat menghentikan langkah kakinya, yang lantas membuat Felia ikut menghentikan langkah kakinya pula.


"Permisi Pak.." ucap Arta kemudian.


Seorang Pria dengan pakaian setelan jas rapi nampak berbalik badan begitu mendengar sebuah suara yang memanggilnya.


"Dia..."


Bersambung