
"Aku benar-benar minta maaf Pa, tapi apa yang dikatakan oleh Fadli segalanya adalah kebenarannya. Aku tengah hamil saat ini...." ucap Felia kemudian dengan raut wajah yang menunduk ia benar-benar tidak berani menatap ke arah manik mata milik Bagas saat ini.
Arthur dan juga Aruna yang baru saja masuk ke area ruang tamu dan langsung disuguhi oleh perdebatan ketiganya, tentu saja langsung terdiam sejenak. Sebuah keterkejutan lantas langsung melanda Arthur saat itu juga begitu mendengar jika Felia tengah hamil saat ini, membuatnya lantas menjadi kesal dan juga marah akan perbuatan yang dilakukan oleh Fadli kepada kakaknya.
Tangan Arthur yang semula menggenggam tangan Aruna dengan erat kemudian lantas terlepas begitu saja, Arthur mengambil langkah kaki seribu menuju ke arah di mana Fadli berada dan langsung melayangkan pukulan tepat ke arah rahang Fadli saat itu. Hal tersebut tentu saja langsung membuat Fadli yang tak bersiap akan serangan secara mendadak dari Arthur kemudian terhuyung dan jatuh tersungkur ke arah bawah.
Bruk
Tidak hanya Fadli yang terkejut bahkan Felia, Bagas dan juga Aruna nampak terkejut akan sikap yang tiba-tiba diambil oleh Arthur barusan.
"Apa yang kau lakukan ha?" pekik Felia sambil berusaha untuk menolong Fadli yang tersungkur saat ini.
"Aku bahkan sudah menduganya, mengapa tidak pernah ada hari tenang dalam keluarga ini?" ucap Aruna dalam hati sambil terus menatap ke arah depan.
Di saat situasi tengah menegang dari arah tangga terdengar suara langkah kaki yang mendekat dengan langkah terburu-buru, membuat semua orang lantas langsung menoleh ke arah sumber suara dan mendapati jika Maria baru saja turun dan mendekat ke arah mereka saat ini.
"Masalah satu belum selesai kini masalah lain bertambah lagi, benar-benar mengesalkan.. Mengapa dia harus turun sih?" ucap Aruna ketika mendapati langkah kaki Maria yang kian mendekat ke arah mereka semua.
"Berani-beraninya kau melakukan hal itu kepada kakakku? Apa hakmu ha?" ucap Arthur dengan raut wajah yang penuh emosi.
Mendengar perkataan Arthur barusan membuat bola mata Felia lantas langsung membulat dengan seketika begitu mendapati ekspresi Arthur yang begitu marah ketika mendengar jika dirinya tengah hamil anak Fadli saat ini.
Felia yang mendapati kemarahan Arthur saat itu lantas langsung bangkit dari tempatnya dan mendekat ke arah di mana Arthur berada. Ditatapnya tajam adiknya saat itu, membuat Arthur lantas langsung mengernyit begitu mendapati tatapan tajam dari Felia saat ini seakan bertanya-tanya maksud dari tatapan tajam kakaknya tersebut.
"Kau menanyakan apa hak dia menghamili ku? Lalu biar aku tanya sekarang, apa hakmu menghamili dia kekasih mu? Bukankah kedua masalah kita sama? Mengapa kau begitu marah di saat kau juga melakukan hal yang sama terhadap kekasihmu?" ucap Felia dengan tatapan yang tajam mengarah ke arah Arthur saat itu.
"Tentu saja berbeda karena Aruna tidak benar-benar hamil, kami berdua melakukan itu hanya untuk mendapatkan restu dari Papa. Sedangkan kau! Apa kau juga melakukan hal itu untuk mendapatkan restu dari Papa? Kau benar-benar sudah gila Kak!" ucap Arthur dengan nada yang menukik tinggi.
Sebuah kesalahan membuka penjelasan yang lainnya, mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut Arthur tentu saja membuat semuanya terkejut dengan seketika. Bagas dan juga Maria yang juga berada di sana, tentu saja langsung menatap dengan tatapan yang mengernyit begitu mendengar jika ternyata Aruna tidaklah hamil.
"Kau berbohong?" ucapan Felia yang juga terkejut akan perkataan yang baru saja ia dengar dari Arthur saat ini.
Setelah mendengar pernyataan tersebut suasana menjadi gening dengan seketika. Di saat suasana hening itu terjadi, derap langkah kaki yang berasal dari sepatu hak tinggi milik Maria saat itu lantas langsung membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara.
"Diam!" pekik Bagas yang tentu saja langsung mengejutkan semuanya.
"Kau diam dan jangan mengatakan apapun! Bukankah kau juga Ibunya? Harusnya kau lebih bisa mendidik mereka daripada aku! Apa kau melupakan kewajiban mu?" pekik Bagas lagi sambil menatap tajam ke arah Maria saat itu.
Mendengar perkataan dari Bagas barusan lantas hanya membuat Maria mendengus dengan kesal.
"Aku bukanlah Ibu kandung mereka, aku adalah Ibu tiri.. Ingat itu baik-baik, jadi aku tidak memiliki hak apapun untuk mendidik anak-anakmu atau mengarahkan mereka semua. Mereka mempunyai jalan hidup masing-masing dan tidak bisa aku campuri begitu saja, apa kau mengerti?" ucap Maria yang tak ingin kalah sama sekali.
"Berhenti!" ucap Bagas sambil mulai mengangkat tangannya namun hanya berhenti di angan-angan.
"Mengapa tidak kau lakukan? Tampar saja aku... Tampar! Apa yang salah denganmu?" ucap Maria dengan nada yang menantang ke arah Bagas.
"Hentikan! Apa yang kalian berdua lakukan sama sekali tidak membantu. Nyatanya baik Papa dan juga Mommy sama-sama mempunyai peran dalam mendidik anak walau kau hanya seorang Ibu tiri sekalipun. Kalian benar-benar sibuk akan harta kalian saja tanpa memikirkan anak-anak kalian sama sekali. Jadi aku harap kalian berdua diam dan selesaikan masalah kalian sendiri, jangan semakin memperumit keadaan seperti ini!" ucap Arthur pada akhirnya yang sudah tidak tahan akan tingkah laku keduanya.
"Kau berani menceramahi ku? Kau...." ucap Maria namun terpotong akan perkataan Bagas.
"Diam dan jangan ikut campur, masuk ke dalam sekarang!" ucap Bagas kemudian sambil menunjuk ke arah atas.
"Tapi.." ucap Maria hendak menyangkal namun terhenti dengan seketika.
"Masuk sekarang!" ulang Bagas kemudian yang lantas membuat Maria mulai mengambil langkah kaki berlalu pergi dari sana.
Setelah kepergian Maria dari sana suasana kembali hening dengan seketika, tidak ada satupun dari mereka yang membuka pembicaraan termasuk dengan Aruna. Aruna benar-benar tidak tahu bagaimana ia harus menempatkan posisinya di antara keluarga ini. Yang bisa ia lakukan hanya terdiam sambil melihat segala hal terjadi di hadapannya.
"Saya benar-benar minta maaf atas masalah ini, saya akan bertanggung jawab akan segala hal yang telah saya perbuat." ucap Fadli di tengah keheningan yang terjadi membuat semua orang langsung menoleh ke arahnya.
"Tentu, tentu kau harus mempertanggungjawabkannya asal dengan satu syarat." ucap Arthur kemudian.
"Ar..." panggil Bagas yang seakan tak menyetujui perkataan Arthur barusan.
Bersambung