
"Aku ingin kalian melenyapkan anak ini dalam waktu singkat, buat kematiannya seakan-akan seperti sebuah kecelakaan. Apa kalian bisa melakukannya?" ucap sebuah suara yang tentu saja terdengar dengan jelas jika itu adalah Maria.
"Tentu saja Nyonya, asalkan bayaran kami berlipat ganda. Kau tahu bukan? Berurusan dengan keluarga kaya seperti kalian pasti sangat beresiko tinggi." ucap sebuah suara lainnya saat itu.
"Tenang saja kalian tidak perlu takut akan hal tersebut karena aku akan membayar kalian dengan bayaran yang setimpal." ucap Maria lagi.
Tepat setelah rekaman suara dan juga vidio itu di putar, sebuah kecelakaan yang terjadi di area lampu merah terlihat berputar dalam rekaman vidio sepersekian detik di sana. Dimana menampilkan mobil milik Arthur yang di hantam dengan keras tepat di area lampu merah, yang seharusnya hal itu mustahil mengingat kondisi lampu yang saat itu terlihat sedang berwarna merah.
"Putra ku yang malang, melihat mu terbaring seperti ini entah mengapa membuat hati ku begitu senang. Aku memang terdengar begitu jahat namun aku memohon kepada yang di Atas untuk segera menjemput mu agar kau tidak lagi mengganggu jalan putra ku untuk memimpin perusahaan." ucap Maria dengan nada yang setengah berbisik sambil tersenyum menyeringai.
Setelah mengatakan hal tersebut Maria lantas bangkit dari posisinya kemudian merapikan baju pasien Arthur yang terlihat sedikit berantakan itu.
"Tetaplah tidur seperti itu karena aku lebih menyukai mu yang seperti ini." ucap Maria dalam hati kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut di susul dengan bodyguardnya yang mengikuti langkah kaki Maria pergi dari sana.
Maria yang mendengar dengan jelas jika rekaman vidio tersebut menyudutkannya, lantas terlihat terkejut bukan main. Ia bahkan tidak menyangka jika setiap perkataan yang ia katakan lantas terekam tanpa ia sadari sama sekali.
"Apa-apaan ini?" ucap Maria dengan raut wajah penuh kebingungan.
Belum habis rasa keterkejutan Maria habis saat itu, satu persatu kejahatannya terlihat terbongkar para rekaman vidio tersebut. Tidak hanya permasalahan Arthur, bahkan juga rekaman tersebut menunjukkan beberapa percakapan sensitif yang terjadi di antara Maria dan juga Fadli.
"Kita langsung pada intinya, ikat Felia bagaimanapun juga entah kau ingin mengambil hatinya atau bahkan menidurinya sekalipun, aku tidak perduli sama sekali. Yang jelas buat dia jauh dari keluarganya." ucap Maria dengan nada yang datar sambil tersenyum tipis.
"Kau benar-benar gila, kau bahkan Ibu tirinya. Jika aku punya mertua seperti mu sudah pasti kau yang akan lebih dulu ku singkirkan!" ucap Fadli dengan nada yang terdengar sinis.
"Oh ya? Apa kau yakin akan menyingkirkan ku? Atau mungkin.. Bekerja sama dengan ku? Pilihan ada di tangan mu, yang jelas aku tidak akan menyuruh mu dengan percuma. Akan ada setiap balasan dari setiap perbuatan dan itu juga berlaku untuk mu." ucap Maria lagi.
Satu persatu kejahatan Maria mulai terungkap ke permukaan, membuat setiap tamu undangan yang juga ikut menjadi saksi rekaman vidio tersebut. Lantas terlihat mulai menatap tidak suka ke arah Maria saat itu. Hingga kemudian ketika sebuah bukti yang mengaitkan jika segala hal yang terjadi di antara Bagas dan juga Maria hanyalah sebuah kamuflase dari Maria, Bagas yang mulai geram akan hal tersebut lantas terlihat menarik tangan Maria saat itu.
"Apa kau masih ada yang harus di akui? Sudah cukup kesabaran ku selama ini, kali ini sikap mu benar-benar sudah keterlaluan!" pekik Bagas dengan raut wajah yang memerah.
"Aku... Aku bisa jelaskan segalanya.. Ku mohon dengarkan aku..." ucap Maria dengan nada yang memohon.
**
Sementara itu di sudut area Ballroom, Arthur yang seakan puas ketika mendapati semua kejahatan Maria terungkap ke permukaan. Lantas tersenyum dengan simpul, membuat Aruna yang melihat hal tersebut terlihat menatap ke arah Arthur dengan tatapan yang mengernyit.
"Tentu saja, kamu kira siapa lagi orang gila yang akan bisa mengumpulkan semua bukti kejahatannya satu persatu? Tentu saja hanya aku yang bisa.." ucap Arthur dengan raut wajah yang tersenyum puas.
"Dasar.." ucap Aruna sambil memutar bola matanya dengan jengah tepat ketika mendengar perkataan dari Arthur yang membanggakan dirinya sendiri.
"Lalu jika semua sudah terbongkar, apa yang kamu inginkan selanjutnya?" ucap Aruna kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Tidak ada, daripada adegan selanjutnya aku bahkan lebih penasaran akan reaksi Papa ketika melihat semuanya adalah ulah dari nenek sihir itu." ucap Arthur dengan raut wajah yang terlihat santai sambil menatap lurus ke arah depan.
**
Area panggung pernikahan
Felia yang melihat dan juga mendengar dengan jelas apa yang terdapat dalam rekaman video tersebut, lantas terlihat menatap ke arah Fadli dengan tatapan yang Intens. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, namun yang jelas otaknya seketika blank ketika mengetahui segalanya.
"Apa ada yang ingin kau jelaskan kepada ku sekarang?" ucap Felia dengan tatapan yang tajam menatap lurus ke arah Fadli saat itu.
Namun Fadli yang mendengar pertanyaan tersebut lantas menghela napasnya dengan panjang, kemudian menatap ke arah Felia dengan raut wajah yang datar.
"Apa lagi yang harus ku jelaskan kepadamu? Lagi pula semuanya sudah terbongkar, sejak awal aku memang sengaja mendekati mu karena tertarik akan status mu sebagai nona muda di keluarga Gavanza. Hanya saja ketika aku berhasil meraih mu dan meletakkan mu di genggaman ku melalui bayi itu, perjanjian konyol dan juga datangnya gadis aneh itu benar-benar membuat semuanya berantakan dan aku benci hal itu. Kini setelah semuanya terbongkar, apa lagi yang bisa aku sangkal? Lagi pula kau sudah menjadi istri ku saat ini, bukan? Jadi suka atau tidak suka kita berdua adalah sepasang suami istri." ucap Fadli dengan raut wajah yang tersenyum bahagia saat itu.
Mendengar jawaban dari Fadli barusan, lantas membuat Felia nampak manggut-manggut. Felia hanya terdiam dengan raut wajah yang biasa saja, ia bahkan tidak terkejut akan hal tersebut. Membuat Fadli yang mendapati raut wajah biasa Felia, lantas mengernyit dengan tatapan yang bingung ke arahnya. Entah apa yang saat ini tengah dipikirkan oleh Felia, tapi setelah semuanya terbongkar. Bukankah harusnya Felia menangis atau paling tidak terkejut karena hal ini?
"Apa kau yakin dengan hal itu? Aku rasa sebaiknya kau jangan terlalu sombong." ucap Felia dengan tersenyum tipis menatap ke arah Fadli saat itu
Tak tak tak
Suara langkah kaki yang nampak menggema ketika rasa bingung menghampiri Fadli saat itu, lantas langsung membuat Fadli menatap ke arah sumber suara.
"Apa kau yakin dengan perkataan mu?"
Bersambung