Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Kembali seperti dahulu kala



Kediaman Gavanza


Tak tak tak


Suara derap langkah kaki yang beradu dengan lantai keramik malam itu terdengar menggema di area ruang makan. Dimana satu keluarga Gavanza telah berkumpul menjadi satu di sana. Membuat semua orang yang ada di area meja makan tentu saja langsung menatap ke arah sumber suara begitu mendengar suara langkah kaki seseorang semakin mendekat ke arah meja makan.


Maria yang begitu penasaran akan suara derap langkah kaki tersebut, lantas langsung menoleh dengan seketika ke arah sumber suara. Maria yang melihat kedatangan Arthur di sini secara tiba-tiba tentu saja terkejut bukan main. Apalagi ketika melihat aura Arthur yang terlihat kembali seperti semula menambah kesan aneh dalam diri Maria saat ini, akan alasan dibalik datangnya Arthur kembali ke rumah ini.


"Apa yang dilakukan anak ini di sini?" ucap Maria dalam hati bertanya-tanya.


Sampai kemudian ketika langkah kaki Arthur sampai tepat di sebelah Bagas saat itu, tatapan semua orang lantas terlihat tetap fokus menatao ke arah Arthur bahkan tanpa berkedip sedikit pun.


"Apa lagi yang Papa inginkan kali ini?" tanya Arthur kemudian langsung pada intinya dengan raut wajah yang penasaran.


Bagas yang mendapat pertanyaan tersebut hanya tersenyum dengan simpul kemudian bangkit dari kursinya sambil memegang pundak Arthur dan mengarahkannya ke arah yang lainnya. Membuat semua orang yang melihat tingkah keduanya tentu saja langsung bertanya-tanya dengan seketika.


"Baiklah karena kamu sudah datang Papa akan langsung bicara pada intinya, Papa ingin mengatakan jika mulai hari ini Arthur akan kembali memimpin perusahaan dan sekaligus menjadi penerus keluarga Gavanza yang sah." ucap Bagas dengan tiba-tiba mengumumkan calon penerus kerajaan bisnis Gavanza di area meja makan keluarga.


Mendengar pengumuman yang tiba-tiba tepat ketika acara makan malam berlangsung di kediaman Gavanza. Semua orang tentu saja langsung terkejut bukan main ketika mendengar hal tersebut, membuat Maria lantas langsung berdiri sambil menatap ke arah Bagas seakan hendak melayangkan protes saat ini juga.


"Tidakkah hal ini perlu di bicarakan terlebih dahulu Pa? Putramu bahkan tidak hanya Arthur tapi masih ada Felia dan juga Maxim, apakah kamu akan setega itu memutuskannya secara sepihak? Lalu bagaimana dengan kedua putramu yang lainnya?" ucap Maria yang seakan tidak terima dengan keputusan Bagas yang di buat secara tiba-tiba seperti ini.


Sedangkan Arthur yang tadinya hendak menolak pengumuman tersebut, mendengar sanggahan dari Maria sebelum dirinya lantas membuat Arthur menjadi diam seketika. Sambil mengambil posisi bersendekap dada Arthur memperhatikan setiap perkataan yang keluar dari mulut Maria saat itu dengan tatapan yang tajam, seakan seperti menunggu apa yang akan dilakukan oleh wanita itu saat ini.


"Apakah kamu benar-benar mengkhawatirkan Felia kakak ku? Atau hanya Maxim putramu seorang? Aku rasa perkataan mu tentu terlalu dini saat ini, aku bahkan belum memutuskan apapun tapi kamu sudah membuat sanggahan begitu saja!" ucap Arthur dengan nada yang santai membuat Maria langsung mati kutu dengan seketika begitu mendengar perkataan Arthur barusan.


Tepat setelah perkataan yang keluar dari mulut Arthur saat itu lantas menjadikan situasi mendadak memanas di sana, membuat makan malam keluarga yang hendak mereka lakukan menjadi berantakan dan berganti dengan rapat dadakan antar keluarga.


Maxim yang seakan tahu jika ini bukanlah ranahnya, lantas memutuskan untuk bangkit dari tempat duduknya, yang lantas membuat semua orang langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang bertanya.


"Aku rasa aku tidak berhak ikut andil dalam pembahasan ini, sebaiknya aku pergi dari sini permisi.." ucap Maxim kemudian hendak berlalu pergi dari area meja makan, namun sayangnya perkataan Arthur lantas menghentikan langkah kakinya dengan seketika saat itu.


"Arthur hentikan!" ucap Bagas kemudian memberi peringatan agar Arthur tak lagi meneruskan perkataannya.


Sedangkan Maxim yang mendengar nada sindiran dari Arthur barusan mulai berbalik badan dan menatap ke arah Arthur dengan tatapan yang tak biasa. Membuat seulas senyuman sinis lantas terlihat mengembang di wajah Arthur saat itu.


"Aku sama sekali tidak berminat akan kedudukan itu, semuanya hanyalah ambisi Mama untuk mendapatkannya. Jadi aku tidak ada waktu untuk mendengar perdebatan tak berarti ini!" ucap Maxim kemudian kembali melangkahkan kakinya berlalu pergi dari area meja makan.


"Max kembali! Aku bilang kembali!" pekik Maria sambil menatap ke arah kepergian Maxim, namun sayangnya sama sekali tak membuat Maxim menghentikan langkah kakinya saat itu.


Disaat semua orang tengah serius dan menciptakan suasana yang tegang, lain halnya dengan Felia yang terlihat begitu santai memperhatikan segalanya. Termasuk sikap Arthur yang mendadak kembali lagi seperti dulu. Seulas senyuman licik lantas terlihat terbit dari wajah Felia saat itu ketika mendengar setiap kata keluar dari mulut Arthur.


"Dia sudah kembali rupanya? Aku benar-benar sudah rindu berperang dengannya!" ucap Felia dalam hati sambil memperhatikan setiap gerak-gerik Arthur saat ini.


***


Sementara itu di unit Apartment Arthur terlihat Aruna mulai melangkahkan kakinya keluar dari sana. Dengan langkah kaki yang begitu pelan Aruna mulai meninggalkan Apartment Arthur dengan berat hati. Entahlah Aruna sendiri tidak tahu apakah keputusannya saat ini benar dan bukan sebuah kesalahan, namun yang jelas Aruna harus segera pergi dari sana sebelum Pandu melakukan sesuatu kepada Arthur nantinya.


Aruna yang memang tak terlalu membawa barang bawaan banyak, lantas memilih turun menggunakan tangga darurat sekalian untuk merefresh pikirannya yang tengah kacau saat ini.


"Aku harap semua akan baik-baik saja." ucap Aruna sambil mulai memutar handel pintu yang menuju ke arah tangga darurat.


Aruna menghela napasnya dengan panjang begitu langkah kakinya mulai menuruni anak tangga menuju ke lantai satu. Hanya saja tanpa Aruna sadari disaat langkah kaki Aruna terus menuruni anak tangga sebuah sosok yang mengenakan jaket hitam dan juga topi, nampak mengikuti langkah kakinya saat itu.


Sampai kemudian ketika langkah kaki Aruna berhenti sejenak seperti hendak berbalik badan, sosok Pria tersebut nampak memukul area tengkuk Aruna cukup keras dan membuatnya langsung terhuyung dan pingsan. Beruntung tangan Pria itu menarik tubuh Aruna dengan cekatan sehingga tidak sampai membuatnya jatuh menggelinding ke bawah. Namun sayangnya tas yang berisi pakaian milik Aruna terjatuh tepat ketika tubuhnya terhuyung dan pingsan tanpa sosok Pria itu sadari.


"Akhirnya aku mendapatkan mu..." ucap sosok Pria tersebut sambil mulai menggendong tubuh Aruna ala bridal style.


Bersambung