
Setelah mendengar suara key password ditekan dari arah luar, Fadli yang saat itu tengah berada di atas Aruna. Lantas langsung bergegas turun dan mencari tempat bersembunyi yang pas untuknya. Sangat sulit kabur dari unit Apartment Arthur mengingat unit Apartment ini terletak di lantai. Sungguh tidak mungkin jika ia kabur melalui balkon dan langsung terjun ke lantai bawah.
Setelah mengedarkan pandangannya ke area sekitar pandangan mata Fadli saat itu tertuju pada tirai di dekat balkon, yang lantas membuatnya langsung bergerak menuju ke arah sana untuk bersembunyi sementara waktu sampai Arthur lengah dan ia bisa keluar dari unit Apartemen tersebut.
"Sial, mengapa dia harus datang di saat yang tidak tepat sih?" ucap Fadli dengan nada yang kesal.
Seperti dugaannya suara key password tersebut berasal dari Arthur yang baru saja pulang dari tempat kerjanya. Fadli benar-benar merutuki kebodohannya karena harus meminta bantuan kepada Kirana yang jelas-jelas tidak akan mampu menahan seorang Arthur lebih lama di kantornya. Membuat helaan napas lantas terdengar berhembus dengan kasar ketika melihat Arthur yang malah mendapatkan Aruna dalam posisi yang tidak sadar saat ini.
"Apa yang terjadi kepada Run... Aruna jawab aku..." ucap Arthur sambil mulai menggoyang-goyangkan tubuh Aruna saat itu.
Arthur yang tak kunjung mendapati Aruna sadar dan malah tertawa dengan kencang, lantas mulai memutuskan untuk membawa Aruna ke kamar dan mengobatinya terlebih dahulu.
Fadli yang melihat Arthur dan juga Aruna mulai melangkahkan kakinya menuju ke area kamar, lantas tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan mulai bergerak dengan perlahan. Hanya saja Fadli yang terlalu terburu-buru, tanpa sadar malah menabrak sebuah almari kecil yang di atasnya terdapat vas bunga yang jatuh dan pecah ke lantai begitu tertabrak olehnya.
Pyar...
Sebuah suara benda yang terjatuh dengan keras lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika, dimana saat itu Arthur hendak memasuki area kamarnya.
"Dia mau pergi.. Hahaha dia mau pergi..." ucap Aruna sambil tersenyum simpul, membuat Arthur lantas langsung mengernyit begitu mendengar hal itu.
"Dia siapa Run?" ucap Arthur dengan raut wajah yang kebingungan sekaligus bertanya-tanya.
"Ah sial!" ucap Fadli dalam hati sambil merutuki kebodohannya.
Fadli yang sadar telah melakukan kesalahan, pada akhirnya mulai merangkak dan melangkah dengan perlahan menuju ke arah belakang sofa untuk bersembunyi sebentar di sana hingga situasinya aman.
Arthur yang sadar ada sesuatu yang aneh saat ini, lantas berusaha untuk memapah tubuh Aruna duduk di dekat pintu dan berusaha untuk melihat suara apa barusan. Hanya saja Arthur yang baru saja meletakkan Aruna untuk duduk sebentar di lantai, mendadak langsung menghentikan langkah kakinya begitu mendapati Aruna yang memeluk dengan erat kakinya saat ini.
"lepaskan sebentar Run, aku harus melihat suara apa itu barusan. Jika tidak kamu berjalanlah ke arah kasur lebih dulu biar nanti aku akan menyusul mu." ucap Arthur kemudian.
Jika Aruna dalam posisi sadar, mungkin Aruna akan langsung bergerak dan menuruti perkataan dari Arthur barusan. Hanya saja sayangnya kali ini kondisi Aruna tidak dalam posisi yang sadar, sehingga membuatnya langsung menggeleng dengan keras sambil memasang raut wajah yang cemberut. Aruna kemudian lantas semakin mengeratkan pelukannya tepat di kaki sebelah kanan Arthur saat itu.
Mendapati hal tersebut membawa Arthur tidak bisa berkutik lagi dan hanya bisa menghela napasnya dengan panjang, sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar. Arthur mencoba untuk mencari tahu lewat pandangannya, namun sayangnya tidak ada sesuatu apapun yang ia temui di sana selain vas bunga yang sudah pecah dan berserakan di lantai kala itu.
"Baiklah-baiklah aku tidak akan pergi dari sisi mu, ayo kita naik ke atas ranjang dan lihat apa yang terjadi kepadamu saat ini. "ucapan Arthur kemudian pada akhirnya menyerah dan tidak ingin lagi mengetahui suara apa yang barusan ia dengar. Atau paling tidak alasan mengapa vas bunga itu bisa sampai jatuh ke lantai sekarang.
Sambil membantu Aruna untuk kembali bangkit dan memapahnya lagi menuju ke arah ranjang, Arthur sesekali terlihat melirik ke arah belakang mencoba untuk memastikan kembali suara apa barusan. Namun tetap saja Arthur tidak mendapati apapun di sana, membuatnya pada akhirnya menyerah dan memilih untuk fokus terhadap Aruna saat itu.
**
Sedangkan tanpa Arthur dan juga Aruna sadari setelah keduanya berhasil masuk ke dalam kamarnya. Fadli yang mencoba untuk melihat situasinya, lantas terlihat mulai perlahan-lahan dengan langkah kaki yang mengendap-endap keluar dari unit Apartemen milik Arthur.
Tak...
Suara pintu unit Apartemen Arthur yang ditutup sangat pelan, membuat Fadli lantas menghela napasnya dengan panjang. Pada akhirnya Fadli berhasil juga keluar dari unit Apartemen tersebut, kini hanya tinggal beberapa langkah lagi agar Fadli bisa mempermainkan Aruna dan juga Arthur.
"Sayang sekali aku tidak bisa mencicipi tubuh molek milik Aruna. Anggap saja saat ini gadis itu tengah beruntung, jika sampai aku bertemu dengannya lagi. Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadanya nanti..." ucap Fadli sambil mulai membawa langkah kakinya berlalu pergi dari sana.
***
Satu jam kemudian di unit Apartment Arthur, di area ruang tamu terlihat Arthur tengah menunggu dengan raut wajah yang gelisah. Setelah Arthur tak dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Aruna, pada akhirnya Arthur memilih untuk memanggil Dokter pribadi untuk memeriksa kondisi Aruna saat ini.
Cukup lama Dokter tersebut berada di area kamarnya saat ini, membuat Arthur semakin merasa gelisah karena tak kunjung mendapati Dokter tersebut keluar dari kamarnya sedari tadi.
"Mengapa lama sekali Rehan memeriksanya? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Tidak mungkin jika Aruna mengidap gangguan mental, bukan? Selama ini dia bahkan baik-baik saja, bagaimana mungkin hari ini mendadak ia seperti orang yang tengler?" ucap Arthur kemudian bertanya-tanya kepada diri sendiri.
Sampai kemudian, tak beberapa lama pintu kamarnya lantas terlihat terbuka dengan perlahan. Yang memunculkan Rehan dengan raut wajah yang datar dan mulai melangkahkan kakinya keluar dan mendekat ke arah di mana Arthur berada saat ini.
"Bagaimana? Apakah ada sesuatu yang terjadi kepadanya?" tanya Arthur kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Apa yang terjadi kepadanya adalah hal yang wajar dialami oleh beberapa orang yang baru saja mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Apakah dia menggunakan zat yang berbahaya atau zat yang terlarang semacamnya? Aku curiga dia mengkonsumsi sebuah narkoba saat ini." ucap Rehan dengan hati-hati saat itu.
"Apa narkoba?"
Bersambung