Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Tamu yang tak diinginkan



Ceklek... Kriet....


Suara pintu ballroom hotel yang terbuka dengan lebar, lantas langsung membuat semua pasang mata tertuju pada pintu ballroom hotel tersebut. Di tengah-tengah acara yang hening disertai tangis haru beberapa tamu undangan ketika mendengarkan beberapa kata bagi kedua mempelai, sebuah suara pintu yang terbuka tentu saja lantas langsung mengundang tanda tanya besar.


Seorang wanita paruh baya dengan dandanan yang elegan nampak berjalan secara perlahan memasuki area Pesta pernikahan tersebut.


Tidak hanya Aruna bahkan Felia, Maria dan juga Bagas nampak terkejut akan kehadiran sosok perempuan tersebut di area Pesta pernikahan ini.


"Bukankah dia..." ucap Aruna menjeda kalimatnya.


"Mama." jawab Arthur dengan singkat sambil menatap lurus ke arah depan, yang tentu saja langsung membuat Aruna menoleh ke arahnya dengan tatapan yang mengernyit.


Tak tak tak...


Sebuah suara derap langkah kaki yang berasal dari sepatu hells wanita paruh baya tersebut terdengar menggema di telinga semua orang, membuat wanita paruh baya tersebut lantas tersenyum dengan simpul menatap ke semua orang sambil sedikit menundukkan kepalanya memberi penghormatan.


Melihat hal tersebut MC acara pernikahan tersebut, lantas langsung melanjutkan acara sesuai dengan susunan acara sebelumnya. Sedangkan sosok perempuan tersebut nampak berdiri di antara beberapa tamu undangan untuk menyaksikan berlangsungnya acara Pesta pernikahan tersebut.


Bagas yang semula terpaku di tempatnya saat itu, melihat senyuman wanita yang begitu ia rindukan, lantas terlihat membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana wanita tersebut berada.


Ditariknya tangan wanita itu, yang tentu saja langsung membuat wanita tersebut menoleh ke arah tarikan Bagas saat itu.


"Alina apa yang kamu lakukan di sini?" ucap Bagas dengan raut wajah yang penasaran.


Mendapat pertanyaan tersebut, lantas membuat Aline tersenyum dengan simpul. Sedangkan Bagas yang mendapati hal tersebut, semakin di buat penasaran akan pertanyaannya yang sama sekali tidak di jawab oleh Alina saat itu.


"Aku datang untuk memenuhi sebuah undangan, apakah aku tidak boleh datang ke Pesta pernikahan anak ku sendiri?" ucap Alina dengan nada yang terdengar santai, namun berhasil membuat Bagas mengernyit karenanya.


"Siapa yang mengundang mu kemari?" tanya Bagas kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Aku yang mengundangnya kemari Pa!" ucap sebuah suara yang berasal dari Arthur, dimana Arthur dan juga Aruna nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah keduanya berada.


Mendengar sebuah jawaban yang tiba-tiba itu, tentu saja langsung membuat Bagas dan juga Aruna terkejut dengan seketika. Entah apa yang sedang direncanakan oleh Arthur, namun yang jelas kedatangan Alina benar-benar membuat semua orang terkejut sekaligus tidak menyangka akan hal ini.


***


Flashback on


Malam harinya sebelum Pesta pernikahan Felia dan juga Fadli berlangsung, terlihat Arthur tengah duduk termenung di kursi kebesarannya. Ditatapnya selembar kertas yang berisi sebuah nomor ponsel milik Alina saat itu dengan tatapan yang intens. Helaan napas bahkan terdengar berhembus dengan kasar beberapa kali dari mulut Arthur saat itu, seakan membuat kegundahan yang sedang dialaminya semakin terasa.


Beberapa menit Arthur termenung dalam posisi duduknya, sepersekian detik selanjutnya ia kemudian nampak membenarkan posisinya dan mengambil ponsel miliknya. Di ketiknya secara perlahan nomor ponsel tersebut, namun detik berikutnya kembali ia hapus. Entah apa yang sedang ada di pikirannya saat ini, namun yang jelas Arthur seperti terlihat ragu.


"Arh mengapa sulit sekali sih?" ucapnya pada diri sendiri sambil merutuki ketidakberdayaannya.


Arthur kemudian menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara berulang kali, seakan mencoba untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. Baru setelah perasaannya terasa sedikit lebih tenang, ia kembali mengetik nomor ponsel Alina pada layar ponsel miliknya dan menunggu deringan ponsel tersebut terhubung.


"Ini aku Arthur, aku tidak tahu mengapa aku menghubungi mu saat ini. Tapi yang jelas... Aku ingin mengundang mu datang ke acara Pesta pernikahan Putrimu besok di Hotel Permai. Terserah kamu mau datang atau tidak, tapi aku harap kamu memikirkan ulang tentang hal ini." ucap Arthur mencoba setenang mungkin mengucapkan segala halnya saat itu.


Entah apa yang membuatnya tiba-tiba terpikir untuk mengundang Alina, namun jauh di lubuk hatinya saat itu. Arthur rasa Alina berhak untuk melihat dan menyaksikan pernikahan Putrinya berlangsung.


"Mama pastikan jika Mama akan datang nak, terima kasih banyak karena telah menghubungi Mama..." ucap Alina dengan nada yang terdengar sumringah di seberang sana.


Flashback off


***


"Arthur bagaimana bisa kamu..." ucap Bagas yang seakan terlihat kebingungan akan perkataan yang baru saja keluar dari mulut Arthur saat itu.


"Ada apa Pa? Apa Papa terkejut? Tidak hanya Papa aku bahkan juga terkejut akan apa yang aku lakukan saat ini. Namun terlepas dari itu, aku rasa dia berhak untuk melihat Pernikahan Putrinya." ucap Arthur dengan nada yang terdengar begitu santai.


"Tapi harusnya..." ucap Bagas namun tercekat seakan tidak bisa lagi ia teruskan.


"Silahkan nikmati Pesta ini, saya harap kamu bersenang-senang di sini." ucap Arthur kemudian sambil menatap ke arah Alina saat itu.


"Terima kasih banyak Ar.. " ucap Alina sambil tersenyum dengan lembut.


Setelah mengatakan hal tersebut, Arthur lantas mengajak Aruna untuk berlalu pergi dari sana meninggalkan Bagas dan juga Alina yang terlihat begitu canggung. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh keduanya, namun yang jelas Arthur dan juga Aruna sama sekali tidak ingin ikut campur dalam hal tersebut.


Dengan langkah kaki yang perlahan Aruna dan juga Arthur terlihat meninggalkan keduanya dan memberikan ruang untuk mereka berdua berbicara. Diusapnya dengan perlahan bahu Arthur saat itu, yang lantas membuat Arthur langsung menoleh ke arah Aruna saat itu.


"Kamu sudah melakukan yang terbaik sayang... Kini biarkan sisanya mereka berdua sendiri yang melanjutkannya." ucap Aruna dengan tiba-tiba yang lantas membuat langkah kaki Arthur langsung terhenti dengan seketika.


Arthur tersenyum ketika mendapati kata-kata sayang keluar dari mulut Aruna saat itu, hingga membuatnya lantas mengusap dengan lembut pipi Aruna, yang tentu saja membuat Aruna semakin tersenyum dengan simpul ke arahnya.


"Benarkah?" tanya Arthur seakan mencoba memastikan segalanya.


"Tentu saja" jawabnya dengan senyum yang menawan.


"Terima kasih banyak." ucap Arthur kemudian.


**


Sementara itu di tengah hiruk pesta pernikahan tersebut berlangsung, seorang wanita nampak menatap dengan tetapan yang tajam ke arah Bagas dan juga Alina saat itu. Ia benar-benar kesal akan kehadiran wanita yang sama sekali tidak di inginkan kehadirannya di sini saat itu.


"Bagaimana dia bisa ada di sini?" ucap Maria dengan tatapan yang menghunus tajam ke arah keduanya.


Bersambung