
Taman
Aruna terlihat melangkahkan kakinya dengan perlahan memutari area taman Apartment untuk berlari-lari santai. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, namun yang jelas hatinya begitu gusar karena terus memikirkan kegelisahan yang tak berujung. Aruna menghela napasnya dengan panjang ketika mendapati bahwa saat ini mungkin akan menjadi detik-detik perpisahannya dengan Arthur.
"Mengapa rasanya begitu berat sekali?" ucap Aruna sambil menghela napasnya dengan panjang.
Aruna menghentikan langkah kakinya sejenak kemudian menarik napasnya dalam-dalam. Saat ini Aruna bahkan sedang berusaha untuk menata hatinya sebelum pada akhirnya bersiap untuk meninggalkan semua ini menuju kehidupan Aruna yang seutuhnya.
Disaat Aruna tengah sibuk untuk menata hatinya tanpa ada suara atau bahkan aba-aba, mendadak seseorang langsung menarik tangannya dengan kasar dan mengejutkan Aruna saat itu juga.
"Apa yang kau lakukan ha? Apa kau ingin mengajak ku berperang?" pekik sebuah suara yang berasal dari Pandu.
Melihat siapa yang menarik tangannya dan juga meneriakinya tentu saja membuat Aruna terkejut seketika. Ini pertama kalinya Aruna berhadapan dengan Pandu setelah ia kembali ke dalam raganya sendiri. Sebuah pertemuan yang sama sekali tidak pernah Aruna inginkan sebelumnya.
Aruna yang terkejut akan kehadiran Pandu dengan tiba-tiba di hadapannya, tentu saja hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi. Sepertinya Aruna terlalu terkejut akan kehadiran Pandu saat ini, membuatnya tidak bisa mengeluarkan suaranya dan hanya bisa terdiam.
"Apa.. Yang terjadi sebenarnya?" ucap Aruna dengan raut wajah yang kebingungan.
Pandu yang mendengar perkataan dari Aruna barusan tentu saja langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung. Ekspresi raut wajah Aruna benar-benar berubah dengan drastis. Manik mata yang begitu garang dan penuh amarah kini berubah menjadi seperti manik mata kucing yang menyimpan kelembutan di dalam dirinya.
"Kau jangan pernah menipu ku dengan manik matamu yang terlihat begitu mirip dengan Aruna saat ini. Apa sekarang kau sedang ingin berakting di hadapan semua orang yang berlalu lalang di sini Arthur?" ucap Pandu lagi dengan tatapan yang tajam.
Mendengar hal tersebut tentu saja langsung membuat bola mata Aruna membulat seketika. Ia bahkan benar-benar terkejut akan kenyataan jika Pandu mengetahui tentang pertukaran jiwa antara ia dan juga Arthur. Mengetahui hal tersebut lantas membuat Aruna menghempaskan tangan Pandu dengan kasar.
"Jangan berani-berani menyentuh ku, apa yang ingin kau lakukan sebenarnya? Kau berkata seolah-olah aku bahkan telah melakukan hal buruk kepadamu!" teriak Aruna dengan bibir yang bergetar, sepertinya wanita itu mulai berusaha memberanikan diri meski ditengah rasa trauma akan Pria yang kini berada di hadapannya.
"Kau jangan berpura-pura bodoh, berita itu pasti adalah ulah mu, bukan? Awalnya aku kira kau hanya berpura-pura menjadi Arthur ketika dirimu datang dan memukul ku hari itu, namun setelah aku menyaksikan segalanya aku jadi yakin jika kau adalah benar-benar Arthur!" ucap Pandu sambil mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Aruna berada, membuat Aruna lantas mulai mengambil langkah mundur dan berusaha untuk menghindari Pandu saat itu.
"Jika memang aku adalah Arthur, apa masalah mu? Lagi pula kau dan Aruna tidak lagi mempunyai hubungan!" pekik Aruna sambil terus mengambil langkah kaki mundur.
"Kau bedebah sialan! Akan ku pastikan kau ikut merasakan apa yang aku rasakan, Arthur!" ucap Pandu sambil terus mempercepat langkah kakinya dan menghampiri Aruna.
Aruna yang mengetahui dengan jelas apa yang akan Pandu lakukan saat ini, lantas berbalik badan dan bersiap untuk lari dari sana. Namun sayangnya suara Arthur yang tak jauh dari tempatnya berada malah mengacaukan semua usahanya yang berpura-pura menjadi Arthur saat ini.
"Sial! Mengapa Arthur harus muncul di saat-saat yang tidak tepat sih?" ucap Aruna dalam hati karena ia kini sudah tertangkap basah.
Sedangkan Pandu yang mendengar teriakan Arthur tak jauh dari tempatnya, lantas tersenyum dengan tipis kemudian menatap punggung Aruna yang nampak juga berhenti di sini.
"Kalian berdua ternyata sedang mempermainkan aku rupanya? Baik mari kita lihat siapa yang akan menang dalam permainan ini!" ucap Pandu kemudian.
Tepat setelah mengatakan hal tersebut Pandu mengambil langkah kaki besar kemudian menarik tubuh Aruna begitu saja dan langsung membekap mulut Aruna sebelum ia sempat memanggil nama Arthur dari mulutnya.
Pandu yang tidak menemukan tempat persembunyian yang tepat pada akhirnya menarik tubuh Aruna dan membawanya terjun ke dalam kolam renang masih dengan tangan Pandu yang membekap mulutnya, sedangkan tangan satunya memegangi Aruna dari arah belakang.
Byur.....
Suara benda yang jatuh ke dalam air lantas mengejutkan Arthur saat itu. Arthur yang memang tengah mencari keberadaan Aruna, mendengar suara seseorang masuk ke dalam air lantas membuat langkah kakinya menuju ke arah area kolam renang. Arthur mengedarkan pandangannya ke area sekitar dan mencoba untuk mencari Aruna di sana.
"Sepertinya aku mendengar suara seseorang masuk ke dalam air tadi, mengapa tidak ada orang di sini?" ucap Arthur dengan raut wajah yang penuh kebingungan.
Sedangkan Aruna yang dibekap di dalam air tentu saja berusaha untuk naik ke permukaan sambil terus mengepak-kepakan kakinya saat itu, membuat Pandu yang menyadari hal tersebut lantas langsung mempererat genggamannya kepada Aruna.
"Jika terus berada di sini, aku bisa mati karena ulahnya. Tuan... Tolong aku..." ucap Aruna dalam hati sambil berusaha membuat gerakan agar Arthur yang di atas menyadari kehadirannya.
Arthur yang tetap penasaran akan suara air tadi, lantas terus membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana sumber suara tersebut berasal untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya. Sampai kemudian pandangannya terhenti pada sosok dua orang yang sedang berada di air namun tidak terlihat terlalu jelas dari atas, membuat Arthur lantas mencoba untuk mempertajam pandangannya hanya saja sayangnya tetap tidak terlihat.
"Is anak muda jaman sekarang, apakah tidak ada gaya pacaran yang lain? Hingga harus berpacaran di bawah kolam renang seperti itu, mereka berdua benar-benar sudah gila!" ucap Arthur kemudian sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan area kolam renang.
Aruna yang mengetahui dengan jelas kepergian Arthur dari bawah lantas mencoba untuk berteriak, namun mulutnya yang di bekap sama sekali membuatnya tidak bisa berbicara.
"Tuan... Tuan jangan tinggalkan aku.. Tuan..." ucap Aruna dalam hati berharap Arthur bisa mendengar suara hatinya saat ini.
Bersambung