Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Sepucuk surat



Basement


Arthur yang baru saja memarkirkan mobilnya setelah berkendara kembali pulang ke Apartment. Terlihat terdiam sejenak sambil menatap lurus ke arah depan. Pikirannya melayang membayangkan segala hal yang terjadi di hidupnya. Perang dingin antara ia dan juga Felia memang berlangsung cukup lama, namun Arthur sama sekali tidak mengetahui penyebab pasti Felia begitu membencinya.


Awalnya Arthur mengira jika Felia hanya cemburu karena Bagas memberinya kedudukan dan tanggung jawab yang lebih tinggi. Namun ketika Felia mengatakan segalanya tadi, entah mengapa semua pertanyaan yang berputar di kepalanya sejak dulu mulai terjawab satu persatu.


Arthur mengusap raut wajahnya dengan kasar kemudian mulai menghela napasnya dengan panjang.


"Mengapa aku tidak menyadari hal ini? Aku bahkan tidak tahu jika kak Felia menyimpan perasaan benci terhadap ku sudah cukup lama. Aku bahkan dengan begitu polosnya mengira kak Felia menginginkan sebuah jabatan semata. Mengapa aku sebodoh itu?" ucap Arthur dalam hati dengan perasaan yang tak karuan.


Sambil menarik napasnya dalam-dalam Arthur kemudian mulai melangkahkan kakinya keluar dari dalam mobilnya dan bersiap masuk ke gedung Apartment.


"Ini sudah larut, apakah Aruna sudah makan? Gadis itu bahakan tidak menghubungi ku sejak kepergian ku sore tadi." ucap Arthur sambil melangkahkan kakinya memasuki area lift dan langsung menekan tombol untuk naik ke lantai atas.


**


Ting...


Suara pintu lift yang terbuka dengan lebar, lantas membuat Arthur mulai membawa langkah kakinya keluar dari dalam lift menuju ke unit Apartment miliknya. Dengan gerakan yang bergegas Arthur mulai menekan kode pass pintu dan langsung masuk ke dalam unit Apartemennya.


Hanya saja Arthur yang baru saja masuk ke dalam unit Apartemennya, nampak terkejut ketika mendapati keadaan area dalam Apartemennya gelap gulita saat itu.


"Run.. Aruna... Kamu dimana? Aruna..." panggil Arthur berulang kali karena mengira jika Aruna tengah berada di dalam saat ini.


Arthur yang tak mendapati jawaban apapun dari Aruna tentu saja mulai khawatir. Dengan perasaan yang gelisah Arthur kemudian mulai membawa langkah kakinya menyusuri setiap sudut area yang ada di dalam unit Apartemennya, namun sayangnya Arthur sama sekali tak mendapati sosok Aruna dimanapun saat itu, membuat Arthur mulai terlihat takut jika Aruna benar-benar meninggalkannya.


"Aruna kamu dimana?" ucap Arthur pada diri sendiri sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar.


Disaat Arthur berusaha untuk mencari keberadaan Aruna di sana. Pandangan matanya kemudian terhenti pada sebuah amplop yang terletak di atas almari, membuat Arthur langsung mengernyit dengan seketika begitu melihat hal tersebut.


Dengan langkah kaki yang perlahan Arthur mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah almari, kemudian mengambil amplop tersebut dan membawanya ke ruang tamu untuk mulai melihat apa isinya.


Sambil membuka amplop tersebut Arthur kemudian mulai membaca isi surat yang ada di dalamnya.


Tuan...


Terima kasih atas segala hal yang telah Tuan berikan kepada ku selama ini. Aku tahu aku banyak salah dan mungkin sangat menyebalkan. Tapi terlepas dari semua itu aku sangat menyayangi Tuan...


Aku pergi ya Tuan, terima kasih untuk beberapa hari indah yang telah kita lewati bersama. Em ngomong-ngomong aku pergi dengan membawa kado gaun cantik dari mu sebelum jiwa kita kembali ke raga kita masing-masing. Untuk yang lainnya aku sama sekali tidak membawanya. Jika anda tidak percaya anda boleh mengeceknya secara langsung Tuan...


Sampai bertemu di lain waktu Tuan...


Membaca setiap kata yang berada di dalam surat tersebut, tentu saja membuat Arthur terkejut sampai tanpa sadar meremas kertas di tangannya dengan erat hingga menjadi bentuk tak beraturan kemudian melemparnya ke sembarang arah dengan kesal.


Arthur bangkit dari tempat duduknya dan mengambil posisi berkacak pinggang sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar.


"Siapa yang mengijinkan mu pergi dari ku seperti ini? Tidak ada seorang pun yang bisa mengambil sesuatu milik Arthur Alterio Gavanza, tidak akan pernah!" ucap Arthur dengan nada yang kesal sambil menatap lurus ke arah depan.


***


Di sebuah jalanan terlihat mobil berwarna hitam metalik nampak melenggang melintasi jalan tol menuju ke suatu tempat. Pandu terlihat melirik sekilas ke arah kaca spion mobilnya untuk melihat kondisi Aruna di area kursi penumpang. Iya seseorang yang membawa Aruna saat itu adalah Pandu.


"Arthur.. Arthur.. Kau memang berhasil menghancurkan karir keluarga ku dan juga aku, namun akan aku pastikan jika kau tidak akan bisa menyentuh cinta ku. Apapun yang terjadi Aruna tetap akan menjadi milik ku sampai kapan pun juga." ucap Pandu dengan nada yang yakin sambil menancap gas mobilnya dan melaju dengan kecepatan yang tinggi membelah jalanan malam itu.


***


Apartment Arthur


Arthur yang tak ingin kehilangan Aruna tentu saja langsung berusaha untuk menghubungi ponsel milik Aruna, namun sayangnya sama sekali tidaka ada jawaban di sana, membuat Arthur lantas berdecak dengan kesal ketika mengetahui hal tersebut.


Arthur yang mulai kesal akan hal tersebut kemudian memutuskan untuk mendial nomer Faris di sana.


"Halo Tuan" ucap sebuah suara di seberang sana.


"Cepat cari keberadaan Aruna sekarang lewat GPS ponselnya, aku telah kehilangan Aruna saat ini." ucap Arthur dengan nada yang terdengar panik, membuat Faris yang tak mengerti dengan jelas kondisinya hanya terbengong sambil berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Arthur saat itu.


"Baik Tuan tunggu sebentar." ucap Faris kemudian sambil mulai mencari keberadaan Aruna melalui gps nya saat ini.


.


.


.


.


"Tuan maaf, apakah anda tidak keliru? Pasalnya jika menurut gps maka saat ini titik keberadaan Aruna masih berada di area Apartment." ucap Faris kemudian menjelaskan.


"Apa kau yakin akan hal itu?" ucap Arthur kemudian yang seakan tidak langsung percaya akan perkataan Faris barusan.


"Tentu Tuan, jika anda tidak percaya saya akan mengirimkan detail lokasi terkini milik Aruna." ucap Faris kemudian sebelum pada akhirnya Arthur lantas memutus sambungan telponnya begitu saja.


"Bagaimana bisa?" ucap Arthur yang seakan tak percaya tepat ketika sebuah pesan singkat dari Faris masuk ke dalam ponsel miliknya.


Disaat Arthur tengah di buat kebingungan akan lokasi Aruna saat ini, suara bel pintu unit Apartemennya nampak berbunyi yang lantas membuat Arthur dengan malas mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah pintu masuk.


Ceklek...


Seorang petugas room servis nampak berdiri sambil membawa satu tas jinjing yang tentu saja tak asing di ingatan Arthur saat itu.


"Mohon maaf Pak, apakah Aruna Valencia Putri tinggal bersama dengan anda?" tanya petugas room servis tersebut.


"Iya benar, ada apa ya?" tanya Arthur kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Kami ingin mengembalikan barang miliknya yang kami temukan tepat di area tangga darurat." ucap petugas tersebut lagi sambil menyerahkan barang-barang milik Aruna.


"Apa!"


Bersambung