
Ruang tamu
Setelah perdebatan panjang mereka pada akhirnya sebuah kesepakatan telah di capai, dimana Fadli boleh mempertanggungjawabkan segala perbuatannya dan menikahi Felia asalkan ia tidak mendapatkan sepeserpun dari harta warisan milik keluarga besar Gavanza. Fadli tetap bisa menikmati harta milik keluarga besar Gavanza dengan catatan dalam pembelian yang wajar dan konsumsi pribadi bukan untuk berfoya-foya ataupun sejenisnya.
"Karena surat perjanjian sudah di buat maka silahkan bubuhkan tanda tangan jika kau memang tulus mendekati kakak ku. Tanda tangani lah surat perjanjian pra-nikah ini!" ucap Arthur dengan raut wajah yang sinis menatap ke arah Fadli saat ini.
Arthur jelas tahu jika Fadli tidak akan sanggup hidup tanpa harta karena tujuannya mendekati Felia hanya karena ia adalah ahli waris yang sah dari keluar besar Gavanza.
"Aku yakin ia saat ini pasti tengah berpikir dengan keras, sosok Pria sepertinya pasti adalah penggila harta dan juga perempuan." ucap Arthur dalam hati sambil menatap lurus ke arah depan.
Sedangkan Fadli yang mulai tersudut akan situasi kali ini benar-benar merutuki kebodohannya karena menganggap remeh keluarga ini. Ia tidak menyangka ada banyak hal yang tidak ia tahu dengan benar akan keluarga ini termasuk sifat dari seorang Arthur Alterio Gavanza.
"Sial.. Aku benar-benar terjebak akan permainan ku sendiri. Jika sekarang aku tidak tanda tangan semua orang pasti akan mencurigai diri ku, namun jika aku tanda tangan sekarang, apa yang aku dapatkan jika nantinya aku bercerai dengan Felia?" ucap Fadli dalam hati sambil berusaha untuk memutar otaknya.
Disaat situasi tidak memungkinkan untuk Fadli saat itu Felia yang juga membaca surat perjanjian tersebut tentu saja langsung merasa tidak terima. Setidaknya jika Fadli mendapat bagian, bagian miliknya pasti akan lebih besar karena berasal dari dua orang sekaligus.
"Apa-apaan ini? Bukankah ini nampak tidak adil? Jika memang Fadli harus menandatanganinya, mengapa Aruna tidak? Bukankah Aruna lebih berpotensi mengambil keuntungan di banding Fadli yang jelas-jelas mempunyai pekerjaan yang tetap." ucap Felia yang seakan tidak terima akan isi dari perjanjian gila ini.
Fadli yang mendengar Felia protes tentu saja langsung tersenyum dengan simpul seakan menyetujui akan opsi dari Felia barusan. Sedangkan Arthur yang mendengar usulan dari Felia barusan hanya tersenyum dengan tipis seakan meremehkan perkataan dari Felia barusan.
"Apakah menurut kakak begitu? Sepertinya kakak ada benarnya juga. Lalu bagaimana pendapat mu tentang surat perjanjian itu Run?" ucap Arthur dengan nada yang begitu santai.
Mendengar hal tersebut Aruna yang tadinya terdiam sambil mengamati perdebatan mereka, lantas terkejut begitu mendengar namanya terpanggil. Membuat Aruna langsung menatap ke arah Arthur dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
"Katakan saja apa pendapat mu tentang perjanjian ini." ucap Arthur seakan meyakinkan Aruna untuk mulai bersuara.
"Jika saya di suruh berpendapat tentang hal ini maka saya akan langsung melakukannya, lagi pula saya tidak mengincar harta keluarga ini. Bersama dengannya itu sudah lebih dari cukup bagi saya." ucap Aruna kemudian yang lantas membuat Fadli dan juga Felia langsung memutar bola matanya dengan jengah begitu mendengar jawaban tersebut.
"Bukankah kalian sudah mendapatkan jawabannya? Jadi tunggu apa lagi? Tanda tangani sekarang atau tidak selamanya." ucap Bagas kemudian yang mulai menyetujui ide dari Arthur tentang pernikahan ini.
Fadli yang kembali tersudut tentu saja mau tidak mau pada akhirnya lantas menandatangani perjanjian pra-nikah tersebut, membuat seulas senyum terlihat terbit dari wajah Arthur saat ini.
"Karena Fadli melakukannya, lalu biarkan Aruna juga melakukannya sekarang.. Bukankah kalian berdua juga akan menikah?" ucap Felia kemudian dengan nada yang menyindir.
"Tentu saja dengan senang hati, biarkan aku juga melakukannya. Apakah kamu punya salinannya?" ucap Aruna dengan raut wajah yang polos, membuat Arthur langsung mengusap puncak kepala Aruna dengan lembut.
"Mereka berdua benar-benar membuat ku muak!" ucap Felia dengan raut wajah yang kesal ketika melihat adegan romantis keduanya saat ini.
***
Malam harinya di kediaman Gavanza
Di area meja makan keheningan kembali terjadi di sana, setelah kejadian yang menggemparkan tadi sore tentu saja membuat situasinya menjadi canggung saat ini. Fadli dan juga Aruna yang bergabung di dalam makan malam keluarga ini hanya bisa terdiam dan menikmati makanan mereka dalam keheningan.
Arthur yang tahu jika Aruna saat ini tengah merasa canggung berada di tengah-tengah manusia yang angkuh, lantas membuatnya sebisa mungkin berinteraksi dengannya. Beberapa kali Arthur nampak bertanya akan rasa masakan sekaligus memberikan Aruna beberapa lauk, membuat Aruna yang mendapati perhatian tersebut semakin merasa tersudut di tengah tatapan tajam dari semua orang di area meja makan saat itu.
"Makan lah ini Run.. Kamu pasti menyukainya..." ucap Arthur sambil memberikan satu udang tempura ke arah piring milik Aruna.
"Terima kasih..." ucap Aruna sambil tersenyum selebar mungkin.
Aruna benar-benar bingung harus bersikap seperti apa di antara tatapan yang menghunus tajam ke arahnya saat ini.
"Bisakah Tuan untuk menghentikan tingkahnya? Aku benar-benar tidak bisa menerimanya secara terus menerus, tatapan mereka semua benar-benar menghujam ku!" ucap Aruna dalam hati sambil menelan salivanya dengan kasar.
Diantara tontonan drama percintaan yang tersaji secara paksa di area meja makan tersebut, sebuah suara yang berasal dari Bagas saat itu lantas membuat semua orang mulai menatap ke arah sumber suara.
"Baiklah karena segalanya telah diputuskan maka kita akan mulai dengan pernikahan Felia dan juga Fadli yang akan di langsungkan tepat minggu depan, sedangkan untuk Arthur dan juga Aruna mari kita lakukan bulan depan, bagaimana pendapat kalian?" ucap Bagas kemudian yang lantas membuat Maria memutar bola matanya dengan jengah begitu mendengar hal tersebut.
"Untuk apa kau menanyakan kepada kami? Bukankah ada dan tidaknya pendapat ku ataupun Maxim sekalipun sama sekali tidak ada artinya dimata kalian, benar-benar memuakkan!" ucap Maria dengan nada yang datar seakan malas untuk ikut campur lagi.
"Ma jangan terlalu berlebihan seperti ini kita sebagai keluarga, bukankah seharunya ikut senang atas hal ini?" ucap Maxim dengan nada yang terdengar santai, membuat Maria lantas semakin kesal karenanya.
Maria yang sudah merasa tidak ada tempat lagi baginya di sini, lantas langsung bangkit dari tempat duduknya sambil membanting sendok dan garpunya ke piring hingga menimbulkan suara yang cukup keras di area meja makan saat itu.
Klontang...
"Maria duduk di tempat mu kembali!" ucap Bagas dengan nada penuh peringatan.
Bersambung