Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Menu makanan spesial



"Apakah aku mengenalnya? Bagaimana dia bisa tahu jika aku dan Tuan Arthur pernah bertukar jiwa sebelumnya?" ucap Aruna dalam hati dengan raut wajah yang kebingungan.


Sebuah suara dari seorang perempuan yang sama sekali tidak Aruna kenal siapa sosok perempuan tersebut, lantas nampak mulai melangkahkan kakinya mendekat dengan perlahan ke arah di mana Aruna berada saat ini. Aruna mencoba mengingat dan terus mengingat siapa gerangan sosok yang ada di hadapannya saat ini. Namun sekeras apapun ia mengingat, sayangnya Aruna sama sekali tidak mengenalnya.


Perempuan tersebut yang ternyata adalah Alina yaitu Ibu kandung dari Arthur lantas menghentikan langkah kakinya tepat ketika ia berada tak jauh dari posisi di mana Aruna berada saat itu. Sambil mulai mengangkat tangannya dengan perlahan tangan Alina mulai meraba area pipi Aruna ketika itu, membuat Aruna yang tidak tahu apapun lantas semakin terdiam tanpa bisa menanggapi apa yang sedang dilakukan oleh wanita tersebut kepadanya.


"Bagaimana bisa hal ini terjadi kepadamu nak? Aku bahkan benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana hari-harimu menjadi begitu berat ketika hal ini semua terjadi kepadamu." ucap Alina dengan bibir yang bergetar membuat Aruna semakin membatu dengan seketika begitu melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Alina saat ini.


"Si...siapa anda?" ucap Aruna dengan raut wajah yang kebingungan.


Mendengar hal itu Alina lantas langsung menghentikan gerakan tangannya dengan seketika, Alina yang berharap jika Arthur bisa mengenalinya sebagai Ibu kandungnya walau sudah lama berpisah, lantas langsung terhempas oleh kenyataan ketika mendengar Aruna menanyakan siapa dirinya sebenarnya. Alina mundur secara perlahan dari tempatnya seakan terkejut ketika perkataan tersebut keluar dari mulut Aruna.


Sedangkan Aruna yang mendapati perubahan ekspresi dan juga tingkah laku yang ditunjukkan oleh Alina baru saja, tentu saja semakin dibuat bingung dan tidak mengerti akan apa yang terjadi sebenarnya di sini.


"Apa kamu sungguh tidak mengenali ku? Apa kamu benar-benar telah melupakan ku?" ucap Aline dengan nada yang terdengar sendu membuat Aruna langsung mengernyit begitu mendengar hal tersebut.


"Tunggu sebentar, saya benar-benar bingung akan apa yang sebenarnya sedang anda katakan sedari tadi? Bisakah anda menjelaskannya terlebih dahulu agar saya lebih mengerti akan perkataan anda?" ucap Aruna kemudian berusaha untuk mencerna perkataan dari Alina yang sedari tadi membuatnya begitu bingung.


"Aku... Aku adalah..." ucap Alina namun terhenti ketika sebuah deringan ponsel milik Aruna lantas langsung menghentikan perkataan alina dengan seketika.


Aruna yang mendengar suara deringan ponsel miliknya mulai berbunyi, lantas mulai merogoh saku celananya dan mengambil ponsel miliknya untuk melihat siapa yang sedang menelpon saat ini. Aruna yang melihat nama Arthur tertera dengan jelas di layar ponselnya, lantas langsung menoleh ke arah Alina dengan sekilas namun ketika ia menoleh ke arah Alina, Alina sudah tidak ada di sana. Aruna yang mendapati Alina sudah pergi dari hadapannya, membuat Aruna lantas langsung mengernyit dengan seketika sambil mengusap icon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Halo..." ucap Arthur di seberang sana yang tak kunjung mendapati suara Aruna meski panggilan telponnya sudah berjalan beberapa detik.


"Oh halo Tuan..." ucap Aruna yang langsung tersadar dari lamunannya.


Aruna benar-benar terkejut ketika ia baru saja melihat sebentar ke layar ponselnya, ketika ia menatap ke arah depan kembali Aruna sudah tidak mendapati Alina berada di hadapannya. Melihat hal tersebut lantas langsung berusaha mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, namun meski ia sudah mengedarkan pandangannya ke area sekitarnya ia sama sekali tidak menemukan Alina di manapun juga. membuat Aruna lantas langsung kebingungan akan kemana perginya Alina sebenarnya.


"Tidak, aku hanya sedang berbelanja untuk makan malam nanti. Jika kamu tidak ada urusan penting segeralah pulang karena aku akan memasakkan mu menu yang spesial." ucap Aruna namun sambil celingukan ke arah kanan dan juga ke kiri seakan masih mencoba untuk mencari keberadaan Alina di sekitaran sana.


"Sepertinya Ibu-ibu tadi sudah pergi, tapi untuk apa dia mendekatiku? Apakah dia salah orang?" ucap Aruna kemudian dalam hati ketika tidak mendapati keberadaan Alina di sekitaran sana.


"Sungguh? Apakah kamu benar-benar akan memasakkan ku menu makanan yang spesial? Aku rasa ada yang lebih spesial dari itu!" ucap Arthur sambil tertawa kecil, membuat Aruna langsung mengernyit dengan seketika begitu mendengar tawa tersebut berasal dari Arthur di seberang sana.


"Apakah ada sesuatu yang lebih spesial dari masakan buatan ku? Aku rasa tidak ada, apa yang sebenarnya sedang kamu sembunyikan dariku?" ucap Aruna dengan raut wajah yang kebingungan sambil mulai mendorong troli belanjaannya berlalu pergi dari sana untuk mulai membayar belanjaannya.


"Kamu akan melihatnya nanti, apa kamu sudah tidak sabar? Kalau memang begitu aku akan pulang sekarang juga." ucap Arthur dengan nada yang sedikit meledek.


Arthur yang sangat senang menggoda Aruna saat ini, sampai tanpa sengaja mengatakan hal tersebut tanpa berpikir panjang terlebih dahulu sebelumnya. Arthur bahkan sama sekali tidak menyadari akan hal tersebut dan tanpa sengaja mengatakan hal itu hanya untuk menggoda Aruna saja.


"Jangan bercanda Tuan! Untuk apa anda pulang? Cari saja uang yang banyak dan aku akan menghabiskan uang anda dengan senang hati hahaha." ucap Aruna dengan kesal akan tingkah Arthur yang begitu aneh.


"Baiklah-baiklah kita akan bertemu nanti setelah aku menyelesaikan pekerjaanku, tunggu aku di rumah dan masak yang enak. Aku akan segera pulang, aku berjanji." ucap Arthur kemudian dengan nada suara yang terdengar sumringah, membuat Aruna lantas langsung tersenyum dengan simpul begitu mendengar hal tersebut.


"Baiklah Tuan sampai jumpa di rumah, jangan pulang terlalu larut ya?" ucap Aruna kemudian dengan tersenyum simpul menanggapi perkataan dari Arthur barusan.


"Tentu saja sampai jumpa di rumah.." ucap Arthur kemudian sebelum pada akhirnya memutus sambungan telepon tersebut.


Setelah panggilan teleponnya berakhir Aruna lantas mempercepat langkah kakinya menuju ke arah dimana meja kasir berada untuk membayar beberapa barang belanjaannya yang sudah ia ambil sebelumnya. Sementara itu tanpa Aruna sadari tepat setelah deringan panggilan ponsel miliknya terdengar, Alina yang mengetahui ada sesuatu yang aneh dari Aruna saat itu lantas langsung melipir ke arah sebelah mencoba untuk bersembunyi dari hadapan Aruna saat itu.


"Apakah ada sesuatu yang terjadi kembali diantara mereka berdua? Mengapa Arthur sama sekali tidak mengenaliku? Bukankah keduanya memang benar-benar telah bertukar jiwa beberapa waktu yang lalu ketika mereka bertemu denganku? Lalu mengapa Arthur nampak kebingungan saat ini?" ucap Alina yang sama sekali tidak tahu apa yang tengah terjadi saat ini.


Bersambung