Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Ide gila



Sementara itu suasana di dalam mobil yang saat ini dikendarai oleh Arthur keheningan nampak terjadi di antara keduanya, baik Arthur maupun Aruna keduanya sama sekali tidak ada yang membuka pembicaraan diantara satu sama lain sehingga membuat suasana yang ada di dalam mobil tersebut semakin terasa hening. Arthur melirik sekilas ke arah Aruna yang saat ini tengah menatap kosong ke arah depan kemudian menepikan mobilnya ke bahu jalan.


Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus dari mulut Arthur, membuat Aruna lantas menoleh ke arah Arthur dan menatapnya dengan tatapan yang bertanya-tanya.


"Sekarang semuanya sudah benar-benar kacau tuan, jika sudah seperti ini apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" ucap Arthur kemudian sambil menghela napasnya dengan panjang.


Bagi Arthur kini hidupnya sudah benar-benar hancur, Aruna sudah menghancurkan image gadis polos dan juga baik hati dalam dirinya. Jika sudah seperti ini kembali seperti semula pun tidak akan mungkin sama, apa yang terjadi benar-benar telah mengubah kisah hidupnya secara keseluruhan. Tidak ada yang bisa Arthur lakukan jika bukan melanjutkan drama ini hingga selesai. Lagi pula ia sudah terlanjur basah saat ini, bukankah seharusnya Arthur mandi sekali?


Aruna yang mendapat pertanyaan tersebut lantas terdiam sejenak, ia juga tidak mengerti langkah apa yang akan ia ambil saat ini. Perkataannya tentang kehamilan ketika di ruang makan benar-benar hanya sebuah spontanitas agar Bagas tidak melanjutkan perjodohan itu. Siapa sangka kini semuanya malah berubah menjadi semakin rumit dan tidak terkendali sama sekali.


Aruna sendiri kini bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan sampai kemudian sebuah pemikiran yang konyol lagi-lagi kembali terlintas di benaknya, membuat seulas senyum lantas terbit dari wajah Aruna. Sedangakan Arthur yang melihat senyuman tersebut terlihat terbit dari wajah Aruna lantas langsung menatap ke arah Aruna dengan tatapan yang bertanya-tanya, Arthur bahkan tidak mengerti apa yang saat ini tengah dipikirkan oleh Aruna sehingga hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang penasaran.


"Aku tahu ini mungkin sedikit gila, namun tidak ada salahnya jika kita mencobanya bukan?" ucap Aruna kemudian yang semakin membuat Arthur bingung akan perkataan dari Aruna barusan.


"Apa yang sebenarnya sedang anda bicarakan tuan? Saya benar-benar tidak mengerti ucapan anda." ucap Arthur sambil menatap ke arah Aruna dengan tatapan yang bertanya-tanya. Arthur bahkan sama sekali tidak mengerti akan arah dari pembicaraan Aruna saat ini.


"Katakan kepada Papa bahwa kau akan menikahi ku secepatnya!" ucap Aruna kemudian yang lantas membuat bola mata Arthur langsung membulat dengan seketika.


Apa yang dikatakan oleh Aruna benar-benar adalah sebuah hal gila yang sama sekali tidak masuk di akal. Meski hidupnya sudah sangat berantakan akan kejadian ini, tapi bisakah Aruna tidak membuatnya semakin hancur lagi? Jika sampai melakukan apa yang dikatakan oleh Aruna barusan tentu saja akan membuat hidupnya lebih hancur lagi.


Arthur yang tidak mengerti akan arah pemikiran dari Aruna barusan, lantas hanya menatap ke arah Aruna dengan tatapan yang bingung dan melongo selama beberapa menit. Membuat Aruna yang mendengar hal tersebut lantas dengan spontan menepuk pundak Arthur karena kesal Arthur sama sekali tidak menanggapi perkataannya barusan.


"Apa tuan?" pekik Arthur kemudian yang lantas membuat Aruna mengernyit ketika mendengarnya karena reaksi yang ditunjukkan oleh Arthur benar-benar terlambat.


"Sudahlah lagi pula reaksi mu itu sudah benar-benar telat dan tidak lagi berarti!" ucap Aruna kemudian dengan nada yang menyindir kepada Arthur.


"Tuan yang benar saja ini benar-benar sesuatu yang tidak mungkin, anda tidak bisa memutuskannya secara sepihak seperti ini." ucap Arthur kemudian dengan nada yang kesal karena Aruna sama sekali tidak berunding terlebih dahulu dengannya.


"Bukannya saat ini aku sedang berdiskusi dengan mu? Lalu kau mau apa lagi?" ucap Aruna sambil memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengar perkataan bodoh Arthur barusan, membuat Arthur pada akhirnya hanya bisa menghela napasnya dengan panjang kemudian kembali melajukan mobilnya menuju ke Apartment.


Sementara itu di sebuah Mansion terlihat Monica yang baru saja sampai dan langsung masuk ke dalam kamarnya, lantas langsung menatap ke arah sekitar dengan tatapan yang kesal. Bayangan bagaimana Arthur memperhatikan Aruna di saat pesta perjamuan makan malam itu terjadi, benar-benar membuat Monica menjadi marah dan tidak suka akan interaksi keduanya yang terlihat begitu dekat.


Sambil menjambak rambutnya dengan kasar kemudian melangkahkan kakinya tepat ke arah meja rias miliknya. Ditatapnya kaca meja rias tersebut dengan tatapan yang menelisik.


"Benar-benar sialan kau Ar... Apa kau mau membalas perbuatan ku beberapa tahun yang lalu?Benar-benar menyebalkan!" ucap Monica dengan nada yang kesal.


Monica yang sudah terlanjur kesal akan kenyataan yang baru saya ia terima lantas terlihat menyapu semua barang yang ada di meja riasnya begitu saja. Suara gaduh yang berasal dari beberapa benda yang terjatuh, lantas langsung membuat Monica berdecih ketika melihat semua barang-barang miliknya berserakan di bawah seperti itu.


"Argggh benar-benar menyebalkan, pokoknya apapun yang terjadi Arthur harus menjadi milik ku sepenuhnya!" ucap Monica sambil menatap tajam ke arah depan.


Sedangkan dari arah depan Hermawan yang mendengar sebuah suara berisik yang berasal dari kamar anaknya, lantas terlihat melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang cepat naik ke kamar atas untuk melihat keadaan putrinya di sana. Sambil memutar handel kamar Monica, Hermawan nampak melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Monica.


"Apa yang terjadi?" ucap Hermawan ketika melihat semua benda milik Monica berjatuhan di sana.


Sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Monica, Hermawan kemudian lantas memegangi pundak Monica dengan erat.


"Ada apa dengan mu ha? Apa yang terjadi?" ucap Hermawan kembali bertanya akan permasalahan yang sedang dihadapi oleh putrinya itu.


"Mengapa Pa.... Mengapa... Apa aku begitu salah kepada Arthur hingga Arthur melakukan hal ini kepadaku?" ucap Monica dengan nada sesenggukan membuat Hermawan semakin tidak mengerti apa yang telah terjadi kepadanya.


Hermawan yang melihat putrinya seperti itu lantas dengan spontan merengkuh tubuh putrinya dengan erat. Dibawanya Monica ke dalam pelukannya membuat Monica lantas semakin terhanyut ke dalam pelukan Hermawan saat ini.


"Sudah-sudah tenang ya... Papa akan mengusahakan segalanya... Tenang ya... Tenang..." ucap Hermawan mencoba untuk menenangkan Monica agar tidak terlalu hanyut ke dalam lembah kesedihan.


"Awas saja kau Ar... Jika kau menyakiti Putri ku maka bersiaplah apa yang akan aku lakukan kepadamu!" ucap Hermawan dalam hati sambil menatap tajam ke arah depan.


Bersambung