
"Arthur!" pekik Alina kemudian ketika ia tanpa sadar sudah berada di dekat Arthur dan juga Aruna saat itu.
Mendengar sebuah suara di tengah derasnya hujan saat itu, baik Arthur dan juga Aruna dengan spontan langsung menoleh ke arah sumber suara. Arthur dan juga Aruna terlihat mengernyit ketika mendapati jika saat ini orang yang tengah keduanya bicarakan sudah berada tepat di sebelah keduanya. Entah kapan ia berada di sana, namun yang jelas Arthur belum siap jika harus bertemu Alina dalam situasi seperti ini.
"Arthur kamu sudah kembali ke tubuh mu nak, Mama benar-benar bahagia akan hal ini. Mama... Mama merindukan mu..." ucap Alina sambil berusaha memayungi keduanya, sedangkan tangan satunya bergerak menyentuh pipi Arthur dengan perlahan.
Arthur yang mendengar perkataan Alina lantas mundur beberapa langkah, hingga membuat tubuhnya kembali terkena derasnya air hujan.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" ucap Arthur diiringi dengan suara petir yang menyambar saat itu, namun sama sekali tidak membuatnya ketakutan.
Perkataan Arthur benar-benar membuat Alina tersadar dari imajinasinya, sepertinya Aline terlalu bahagia karena mengetahui hal tersebut, membuat ia lupa jika kesalahannya begitu besar di masa lalu.
Aruna yang tahu jika saat ini ia sedang berada di tengah-tengah antara Ibu dan juga anak, lantas terlihat menggenggam tangan Arthur yang saat itu terlihat hendak berlalu pergi dari sana. Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Arthur langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang memohon untuk di lepaskan. Namun Aruna yang seakan tahu akan hal tersebut hanya menggeleng dengan perlahan.
"Jangan pergi, kita bicarakan semuanya baik-baik, oke? Ku mohon..." ucap Aruna kemudian yang lantas membuat Arthur langsung menghela napasnya dengan panjang begitu mendengar permintaan dari Aruna barusan.
***
Unit Apartment Arthur
Ketiganya terlihat mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam unit Apartment Arthur. Begitu langkah kaki Alina masuk ke dalam unit Apartment Arthur untuk yang pertama kalinya, hatinya begitu terasa berbunga. Alina benar-benar kehilangan masa-masa kebersamaan dengan anak-anaknya, hal itulah yang membuat hati Alina begitu berbunga ketika memasuki area unit Apartment Arthur untuk yang pertama kali.
"Kamu masuklah dan ganti baju mu Run, jangan sampai kamu masuk angin nantinya." ucap Arthur kemudian begitu ketiganya masuk ke dalam.
"Kamu juga... Aku tidak mau kamu sakit karena diriku." ucap Aruna sambil menatap ke arah Arthur saat itu, yang lantas di balas Arthur dengan anggukan kepala sambil mengusap rambut Aruna yang basah saat itu.
Setelah mengatakan hal tersebut Aruna nampak melangkahkan kakinya meninggalkan Arthur dan juga Alina di ruang tamu saat itu. Membuat Alina yang melihat kepergian Aruna begitu saja, tentu menjadi bertanya-tanya akan sesuatu hal yang membuatnya begitu ganjal.
"Apa kalian tinggal bersama selama ini?" tanya Alina kemudian dengan raut wajah yang penasaran, membuat Arthur langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.
"Iya, semenjak jiwa kami tertukar tidak ada pilihan lain yang bisa kami lakukan selain tinggal bersama. Lagi pula kamu sudah mengetahuinya bukan? Jadi aku rasa aku tidak perlu menjelaskannya kembali kepadamu." ucap Arthur dengan nada yang ketus membuat Alina yang mendengar jawaban tersebut lantas menghela napasnya dengan panjang.
"Mama minta maaf, kamu pasti kesepian selama ini. Kamu berhak marah kepada Mama.. Mama akan menerimanya Ar..." ucap Alina kemudian yang seakan sadar diri.
Arthur yang mendengar perkataan Alina barusan, lantas menghentikan gerakannya saat ini yang terlihat melepas bajunya yang basah dan membalutnya dengan handuk kering.
Kedatangan Alina selama bertahun-tahun benar-benar membuat hati Arthur tak beraturan. Setelah setiap kesendirian dan juga kehidupan layaknya di neraka, Alina tiba-tiba datang dan mengatakan maaf kepadanya. Apakah itu semua cukup untuk membayar penderitaannya selama ini? Tentu saja tidak bukan?
"Ar Mama juga tidak menginginkan hal tersebut, Mama benar-benar terpaksa melakukannya. Kakek mu tidak merestui hubungan Mama dan juga Papa, Mama bisa apa Ar? Katakan Mama bisa apa? Kakek mu punya status dan kekuasaan, sedangkan Mama.. Mama hanya punya cinta untuk Papa dan juga anak-anak Mama, lalu apa yang bisa Mama lakukan? Katakan Ar?" ucap Alina dengan nada yang terdengar begitu frustasi.
"Berhenti mengatakan hal itu karena aku membencinya, jangan hanya menganggap kamu tersakiti karena nyatanya aku lebih merasakan sakit akibat semua perpecahan yang terjadi di keluarga kita." ucap Arthur kemudian.
Alina menarik napasnya dalam-dalam, Alina jelas sadar jika Arthur tangah marah saat ini kepadanya. Namun bolehkan untuk sekali saja Alina bersikap egois? Alina begitu merindukan anak-anaknya, bisakah ia memeluknya barang sekali saja?
"Sepertinya kamu sedang emosi saat ini, Mama akan pergi sekarang.. Hubungi Mama kapan pun kamu menginginkannya, Mama tidak akan memaksa mu. Jika kehadiran Mama membuat kalian kembali membuka luka lama, dengan senang hati Mama akan pergi, namun sebelum itu ijinkan Mama untuk melihat anak-anak Mama sekali lagi." ucap Alina sambil meletakkan nomor ponselnya di sebuah kertas kemudian ia letakkan di atas meja.
Setelah mengatakan hal tersebut Alina terlihat bangkit dari tempatnya dan mulai membawa langkah kakinya berlalu pergi begitu saja keluar dari unit Apartment Arthur.
Bruk
Suara pintu yang tertutup saat itu lantas membuat Arthur menoleh ke sumber suara. Ditatapnya selembar kertas yang berisikan nomer Alina di sana, mengetahui hal tersebut lantas membuat Arthur langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah kertas tersebut. Diremasnya kertas itu hingga menjadi bagian terkecil kemudian baru Arthur buang begitu saja.
Setelah melakukan hal tersebut Arthur lantas melangkahkan kakinya begitu saja meninggalkan area ruang tamu.
**
Malam harinya
Di ruangannya terlihat Arthur tengah menatap lurus ke arah depan. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini, hingga membuatnya begitu terdiam sambil terus-terusan menghela napasnya dengan panjang.
"Mengapa baru sekarang? Mengapa?" ucap Arthur sambil terus mengulangi perkataannya.
Arthur menarik napasnya kembali secara panjang, kemudian bangkit dari posisinya ketika ia mengingat kembali tentang kertas berisi nomer telpon Alina yang ia buang di tempat sampah tadi.
"Sialan!" ucap Arthur yang baru menyadari akan kebodohannya saat itu.
Bersambung