
"Tuan gawat, nona Felia ada di depan..." ucap Arthur dengan raut wajah yang bingung.
"Apa?" pekik Aruna yang terkejut akan perkataan dari Arthur barusan.
Raut wajah bingung benar-benar terlihat dengan jelas dari wajah ketiganya. Kedatangan Felia yang tiba-tiba benar-benar di luar dugaan, jika sampai Felia melihat Aruna ada di sini tentu saja akan keluar berbagai macam pertanyaan dari mulut kecil Felia itu. Aruna yang juga bingung harus melakukan apa di saat-saat seperti ini lantas nampak mulai menatap ke arah sekeliling.
"Cepat kau sembunyi sekarang?" ucap Aruna kemudian sambil mendorong tubuh Arthur.
"Kau benar, tapi aku harus sembunyi dimana tuan?" ucap Arthur dengan raut wajah yang polos.
Ting tong ting ting...
Suara bel yang lagi-lagi terdengar semakin membuat Arthur dan juga Aruna kebingungan. Sampai kemudian Faris yang menyadari sebuah kesalahan lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah keduanya.
"Tuan ini salah, yang harusnya bersembunyi itu anda! Bukankah tubuh kalian berdua masih tertukar?" ucap Faris kemudian yang langsung menghentikan gerakan keduanya.
"Ah kau benar juga!" ucap Aruna kemudian. "Kau urus lah dia Ris, aku akan bersembunyi di dalam kamar pastikan dia memakai earphone dan terhubung dengan ku." ucap Aruna kemudian sambil melangkahkan kakinya begitu saja menuju ke arah kamar meninggalkan Arthur dan juga Faris di sana.
"Earphone?" ucap Arthur dengan raut wajah yang kebingungan karena tidak mengerti sama sekali perkataan dari Aruna barusan.
Faris yang melihat Arthur hanya terbengong tanpa langsung bergerak sesuai dari perintah Aruna barusan, lantas mulai memberikan sebuah earphone kepadanya membuat Arthur yang tidak mengerti akan arah dari pembicaraan ataupun perintah yang diberikan oleh Aruna barusan lantas hanya bisa menatap ke arah Faris dengan tetapan yang bertanya-tanya, seakan menunggu penjelasan yang akan diberikan oleh Faris sebentar lagi.
"Pasang ini di telinga mu dan pastikan pembicaraan antara kau dan juga nona Felia terhubung dengan Tuan, aku akan membukakan pintunya sedangkan kau bersiaplah." ucap Faris kemudian mulai menjelaskan segalanya.
Mendengar penjelasan dari Faris barusan lantas membuat Arthur mengangguk tanda mengerti.
***
Ruang tamu
Suasana di ruang tamu saat itu terlihat begitu hening dan sunyi, Felia terlihat melangkahkan kakinya dengan langkah kaki kecil berjalan-jalan ke arah kanan dan kiri melihat-lihat ornamen yang terletak di Apartemen Arthur dengan raut wajah yang aneh. Arthur yang sama sekali tidak mengerti dan tidak tahu hendak memulai pembicaraan dari mana, lantas hanya diam saja dan menatap langkah kaki Felia sedari tadi yang terus terlihat melangkahkan kakinya ke arah kanan dan kiri tanpa henti.
Felia yang puas melihat-lihat kemudian mulai melangkahkan kakinya ke arah sofa dan mendudukkan dirinya di sana.
"Langsung saja pada intinya, mengapa kau tidak datang ke kantor pagi ini? Apa kau tahu.. Jika kau telah membuat heboh seluruh isi rumah ketika kami mengetahui bahwa kekasih mu itu tengah hamil dan kali ini kamu kembali membuat kami terkejut. Apa kau pikir hidup adalah sebuah permainan?" ucap Felia dengan nada yang ketus membuat Arthur langsung menelan salivanya dengan kasar.
Aruna yang tahu jika Arthur tidak akan bisa menanggapi kata-kata ketus kakaknya lantas mulai mengkomando Arthur lewat earphone yang sedang Arthur pakai saat ini.
"Kakak tidak perlu ikut campur dalam urusan ku, aku bisa me..ngatasinya sendiri." ucap Arthur dengan nada yang aneh namun berhasil membuat Felia mengernyit ketika mendengarnya.
"Jangan terlalu sesumbar, kau belum tentu bisa hidup tanpa fasilitas yang diberikan oleh Papa. Ayolah Ar cobalah berpikir realistis dan jangan seperti anak kecil." ucap Felia kemudian dengan nada yang kembali Ketus, membuat Arthur lantas langsung terdiam kembali menunggu aba-aba dari Aruna.
"Katakan kepadanya bahwa yang harusnya berpikir realistis adalah kakak, lagi pula jika aku mundur bukankah kakak yang akan memperoleh keuntungannya? Jangan pernah coba-coba menipuku karena itu sama sekali tidak mempan terhadap ku!" ucap Aruna panjang kali lebar yang lantas membuat Arthur langsung menelan salivanya dengan kasar karena takut jika sampai ia salah bicara nantinya.
"Tuan... Cobalah untuk mempersingkat jawabannya, aku kesulitan mengatakannya..." ucap Arthur tanpa sadar namun dengan nada yang lirih, membuat Aruna yang mendengar jawaban tersebut lantas langsung menepuk jidatnya dengan spontan.
Sedangkan Felia yang mendengar perkataan aneh dari Arthur barusan tentu saja langsung menatapnya dengan tatapan yang bertanya-tanya karena baginya Arthur saat ini terlihat begitu aneh.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Felia kemudian dengan raut wajah yang penasaran mengarah kepada Arthur saat ini.
"Mati aku!" ucap Arthur kemudian dalam hati ketika baru menyadari bahwa ia barusan melakukan sebuah kesalahan yang mungkin sangat fatal dan berujung dengan Felia yang pasti akan mencurigainya karena hal ini.
"Apa yang sebenarnya tengah kau pikirkan ha?" ucap Felia kemudian karena tidak mendapat jawaban apapun dari Arthur barusan.
Arthur yang takut kembali membuat kesalahan lantas langsung bangkit dari tempat duduknya, membuat Felia yang melihat hal tersebut lantas langsung bertanya-tanya akan apa yang sedang di lakukan oleh Arthur saat ini.
"Maaf kak sebaiknya kakak pergi dari sini ada beberapa pekerjaan yang harus aku kerjakan saat ini." ucap Arthur kemudian sambil mulai menarik tangan Felia agar mulai bangkit dari tempat duduknya dan bergerak pergi dari Apartment tersebut.
"Lepaskan! Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan ha?" ucap Felia yang kesal ketika Arthur malah membawanya menuju ke luar Apartment miliknya.
"Sebaiknya kakak pulang saja karena aku masih banyak pekerjaan, sampai jumpa..." ucap Arthur yang berhasil menyeret tubuh Felia keluar dari Apartemennya, baru setelah itu menutup pintu Apartment begitu saja tanpa persetujuan dari Felia terlebih dahulu.
Bruk
Setelah pintu berhasil ditutup oleh Arthur barusan, Arthur yang berhasil mengeluarkan Felia dari sana lantas menghela napasnya dengan panjang. Dari arah kamar milik Arthur terlihat Aruna tengah melangkahkan kakinya sambil mengambil posisi bersendekap dada menatap ke arah atur dengan tatapan yang menelisik sedangkan Faris terlihat muncul dari arah dapur.
"Kau benar-benar payah, tapi yang kau lakukan tadi benar-benar lumayan." ucap Aruna dengan nada yang santai membuat Arthur dan juga Faris yang mendengar hal tersebut lantas menatap bingung ke arah Aruna saat ini.
"Maksud anda tuan?" tanya Arthur yang sama sekali tidak mengerti akan perkataan dari Aruna barusan.
Bersambung