
Keesokan harinya
Pandu yang mengira segalanya berjalan dnegan lancar pagi ini, lantas terbangun dengan raut wajah yang sumringah. Entah tidak tahu atau apa? Hanya saja Pandu merasa begitu bahagia kali ini karena mengira jika berita tentang Arthur sudah menyebar dengan luas dan menjadi hot news pagi ini.
Dengan melangkahkan kakinya secara perlahan Pandu mulai membawa langkah kakinya ke dapur dan mengambil sebotol air minum kemudian meneguk minumannya hingga tandas. Diusapnya air yang menetes di dagunya dengan kasar kemudian kembali tersenyum seperti orang yang gila.
"Aku yakin kali ini Arthur tidak akan bisa berkutik ketika mendapati berita tersebut." ucap Pandu dengan senyuman yang tak henti-hentinya terlihat dari raut wajahnya saat itu.
Sampai kemudian sebuah deringan ponsel miliknya, lantas terdengar dan menggema di telinganya. Dengan sedikit menyanyi kecil Pandu lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah ponsel miliknya dan menggeser ikon berwarna hijau ketika melihat nama Agam terlihat dengan jelas pada layar ponsel miliknya.
"Halo Pa.." ucap Pandu dengan nada yang terdengar begitu riang.
"Ada apa dengan nada suara mu itu? Apa kau ingin mengejekku saat ini? Aku bahkan meminta mu untuk menghancurkan Arthur, namun kau malah melempar kotoran ke depan muka ku! Kau benar-benar anak tidak tahu di untung!" pekik Agam dengan nada yang terdengar begitu marah dan tentu saja langsung mengejutkan Pandu saat itu ketika mendengar suara menukik milik Agam.
"Apa yang terjadi Pa? Aku bahkan sudah mulai menjatuhkan Arthur sesuai dengan keinginan Papa, tapi Papa malah mengatai ku seperti ini?" ucap Pandu yang mulai kesal akan kata-kata Agam yang begitu kasar di telinganya.
"Apa kau tidak melihat siaran berita sejak semalam? Dimana letak menghancurkannya? Jika yang hancur bukanlah Arthur melainkan kita! Kau benar-benar sudah membuat ku kehilangan kesabaran!" ucap Agam dengan kesal entah harus bagaimana lagi Agam mengajari putranya yang selalu memalukan itu.
"Apa?" ucap Pandu yang terkejut.
Pandu yang mendengar perkataan dari Agam tentang siaran berita, lantas langsung melempar ponselnya begitu saja kemudian mempercepat langkah kakinya menuju ke arah ruang menonton untuk melihat siaran berita yang dibicarakan oleh Agam baru saja.
Berita pagi ini berasal dari salah satu ketua dewan di negara kita dengan inisial AA, sebuah penggelapan dana disinyalir mulai tercium setelah beberapa tahun tertutupi dengan rapat olehnya. AA di duga telah menggelapkan dana rakyat untuk sebuah kepentingan pribadi...
Pandu yang mendengar dengan jelas berita tersebut tentu saja terkejut bukan main, Pandu yang tak percaya akan berita yang baru saja terdengar, lantas mulai mengganti chanel televisinya untuk mencari tahu berita yang lain.
Pandu Atmaja yang merupakan seorang putra tunggal dari ketua dewan AA, di duga sudah menjadi penguntit mantan pacarnya sejak 6 tahun yang lalu. Pandu bahkan sempat mendekam dipenjara selama 5 tahun karena kasus pelecehan yang ia lakukan pada mantan pacarnya....
Cetar....
Suara remote yang Pandu lempar tepat ke arah televisinya ,lantas langsung membuat televisinya retak dan mati total. Pandu benar-benar kesal dengan berita yang baru saja ia lihat di televisi, membuatnya mulai mengamuk dan juga membanting beberapa barang yang ada disekitarnya.
Pandu yang sudah mulai emosi dan tidak bisa menerima fakta yang ia lihat, lantas langsung kembali melangkahkan kakinya dan mengambil ponsel miliknya untuk mendial nomor Arman di sana.
"Halo..." ucap sebuah suara di seberang sana.
"Apa yang kau lakukan sebenarnya? Mana berita yang seharusnya tayang pagi ini?" ucap Pandu dengan nada yang penuh penekanan.
"Ah berita murahan itu.. Aku tidak bisa menaikkannya karena berita itu terdengar kurang masuk akal. Ada banyak berita yang lebih realistis lagi daripada berita yang kau berikan kepadaku. Soal dana yang kau berikan untuk berita tersebut aku sudah mentransfernya ulang ke dalam rekening mu." ucap Arman dengan nada yang datar, namun berhasil membuat manik mata Pandu membulat dengan seketika.
"Kau berani-beraninya menipuku! Awas saja aku akan.. Halo.. Halo..." ucap Pandu namun terhenti ketika panggilan di seberang sana terputus dengan seketika.
"Kau benar-benar sialan Arman!" ucap Pandu dengan raut wajah yang kesal.
***
Apartment Arthur tepatnya di dapur, terlihat Aruna tengah termenung sambil memegang secangkir teh ditangannya. Hari ini semua kembali seperti semula, jiwanya tidak lagi tertukar dengan milik Arthur sehingga menyisakan segenggam perasaan hampa dalam dirinya. Ditatapnya area sekitar dengan tatapan raut wajah penuh kesedihan, sepertinya Aruna harus mulai mengucapkan selamat tinggal pada setiap sudut dan juga beberapa benda yang ada di Apartment Arthur.
Sambil menghela napasnya dengan panjang Aruna mulai menatap ke arah cangkir di tangannya.
"Sepertinya aku juga harus mengucapkan salam perpisahan kepada cangkir ini." ucapnya sambil menarik napasnya dalam-dalam.
"Hai cangkir, terima kasih karena sudah menemani ku minum beberapa waktu ini, aku yakin aku pasti akan sangat merindukan mu..." ucap Aruna dengan raut wajah yang sendu sambil mengangkat cangkir di tangannya tinggi-tinggi.
Sampai kemudian ketika Aruna tengah sibuk mengucapkan salam perpisahan kepada satu persatu benda-benda yang ada di area Apartment Arthur, Aruna lantas dikejutkan dengan sebuah suara yang tak asing di pendengarannya.
"Apa yang sedang kau lakukan di sana?" tanya Arthur dengan raut wajah yang bertanya-tanya ketika melihat tingkah aneh Aruna saat ini.
"Anu Tuan saya... Saya sedang ingin berangkat lari pagi di taman, ya lari pagi!" ucap Aruna dengan nada yang tergagap, membuat Arthur langsung mengernyit dengan seketika.
"Lari pagi?" ucap Arthur dengan tatapan yang aneh.
"Ya ini saya mau berangkat, saya permisi dulu Tuan..." ucap Aruna sambil mengambil langkah kaki seribu dan keluar meninggalkan Arthur dengan raut wajah yang penasaran.
"Dasar aneh!" ucap Arthur ketika melihat langkah kaki Aruna yang meninggalkannya begitu saja.
***
Bruk
Suara pintu unit Apartment yang tertutup, lantas membuat Aruna langsung merasa lega akan hal tersebut. Aruna bahkan sampai merutuki kebodohannya yang tak begitu menyadari akan kehadiran Arthur di dekatnya saat itu.
"Ah benar-benar mengejutkan saja!" ucap Aruna sambil mulai membawa langkah kakinya berlalu pergi meninggalkan unit Apartment Arthur.
Cklek bruk...
Tepat setelah langkah kaki Aruna sampai di dekat lift, Pandu terlihat ikut keluar dari unit Apartemennya sambil menatap ke arah kepergian Aruna saat ini. Sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekitar Pandu nampak membenarkan topi hitam yang melingkar di kepalanya saat ini.
"Lihat saja, apa yang akan aku lakukan kepadamu Arthur!"
Bersambung