
Di sudut ruangan terlihat Alina tengah menatap Felia dan juga Fadli, yang saat ini terlihat tengah menebar senyuman pada setiap tamu undangan yang datang. Ditatapnya kakinya saat itu yang terlihat cantik dengan sepasang hells berwarna merah. Entah mengapa meski sepatu yang ia kenakan terlihat cantik, namun nyatanya tidak bisa mengantarkannya untuk naik ke panggung dan memberikan ucapan selamat kepada Putrinya sendiri.
Helaan napas terdengar berhembus kasar dari mulutnya saat itu, ketika ia tidak memiliki keberanian untuk naik ke atas saat itu. Entah mengapa langkah kakinya begitu berat untuk melangkah sekedar mengucapkan selamat pada keduanya.
"Mengapa aku tidak berani untuk naik ke atas panggung? Bagaimana jika reaksi yang di tunjukkan oleh Felia sama dengan reaksi Arthur ketika pertama kali bertemu dengan ku? Apakah aku benar-benar siap untuk menerimanya? Di tengah banyaknya tamu undangan yang datang kenyataan tersebut mungkin akan terasa begitu menyakitkan untuk ku. Aku.. Aku benar-benar tidak mempunyai keberanian sebesar itu." ucap Alina dengan raut wajah yang sendu sambil menatap ke arah kedua mempelai.
Seulas senyum kemudian lantas terlihat pada raut wajahnya saat itu, dimana yang semula sendu kini menjadi lebih bahagia. Sepertinya Alina tengah memikirkan sesuatu yang begitu membuatnya bahagia. Hingga membuat raut wajah sendunya langsung berubah menjadi cerah seketika.
"Setidaknya aku sudah menyaksikan Pernikahan putri ku, lagi pula Arthur dan juga gadis itu tengah asyik berduaan. Aku sama sekali tidak ingin mengganggu kebahagiaan mereka berdua, cukup aku menyaksikannya saja aku sudah benar-benar bahagia." ucap Alina yang memutuskan untuk beranjak pergi dari sana.
Disaat langkah kaki Alina hendak berlalu pergi dari sana, sebuah suara yang begitu melekat di ingatannya lantas membuat Alina menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
"Mau kemana kamu? Apa setelah menjadi pusat perhatian di Pesta ini, kamu ingin pergi begitu saja? Dimana sopan santun mu Alina? Apa datang dan juga pergi adalah kebiasaan mu yang tidak pernah bisa kau ubah sejak dulu?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Alina terdiam di tempatnya dengan seketika.
Mendengar hal tersebut membuat mulutnya mendadak keluh tak bisa menjawab ataupun menanggapi perkataan Bagas barusan. Sosok Pria yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak pernah ia temui, begitu melihatnya secara langsung di tempat ini membuat Alina langsung terdiam membeku di tempatnya.
"Ada apa? Apakah selain sering kabur, saat ini Alina juga tidak bisa bicara? Wah.. Bukankah kamu benar-benar paket komplit? Sungguh menyebalkan." ucap Bagas ketika langkah kakinya berhenti tepat di sebelah Alina saat itu.
Helaan napas terdengar berhembus dengan kasar dari mulut Alina saat itu, perkataan Bagas benar-benar terasa panas di telinganya. Namun sebisa mungkin Alina coba untuk bertahan karena memang ia pantas untuk mendapatkan hal tersebut setelah apa yang ia lakukan kepadanya.
***
Di sudut ballroom hotel, tepatnya di area makanan dan juga minuman. Terlihat Maria tengah meminum beberapa gelas wine dengan sekali tegukan. Ia benar-benar kesal akan pemandangan yang ia lihat beberapa menit yang lalu. Sebuah hal yang sama sekali tidak pernah Maria inginkan.
Meski Maria tidak yakin akan sosok wanita tersebut, namun ia jelas tahu jika itu adalah mantan istri Bagas. Ia bahkan beberapa kali mendapati fotonya terpampang jelas di layar ponsel Bagas atau bahkan di meja kerjanya. Membuat Maria yang mendapati kembalinya mantan istri Bagas, lantas langsung menjadi kesal bukan main.
"Mengapa dia harus muncul saat ini? Sebenarnya siapa yang membawanya kemari?" ucap Maria dalam hati sambil kembali meneguk wine di gelasnya saat itu.
Maria yang begitu kesal akan keadaan yang sama sekali tidak ia inginkan, lantas terus meminum dan meminum lagi wine yang ada di gelasnya. Entah gelas ke berapa saat ini, namun yang jelas Maria ingin meluapkan segala kekesalan yang ada di hatinya.
"Hentikan Ma! Apa Mama ingin merusak pesta ini? Jika sampai kolega Papa tahu, Papa akan malu nantinya." ucap sebuah suara yang ternyata adalah Maxim.
Mendapati jika sosok tersebut adalah putranya sendiri, lantas membuat Maria mendengus dengan kesal. Bahkan hingga putranya sekalipun ia hanya memikirkan tentang Bagas dan tidak memikirkannya sama sekali.
"Jika memang seperti itu, maka biarkan saja. Lagi pula ia juga sudah melempar kotoran ke wajah ku saat ini. Jadi biarkan kita impas dan kamu jangan ikut campur!" ucap Maria dengan kesal sambil mengambil wine tersebut hendak kembali meminumnya.
"Sudah kubilang untuk berhenti Ma, jangan lakukan ini! Sudah cukup..." ucap Maxim kembali menghentikan gerakan Maria yang hendak kembali meminum wine di gelas tersebut.
Mendapati hal tersebut lagi dan lagi Maria hanya mendengus dengan kesal. Sampai kemudian sebuah ide yang entah datang dari mana, lantas membuat seulas senyuman terlihat dari wajahnya saat itu, membuat Maxim yang mendapat hal tersebut lantas hanya bisa menatap ke arah Maria dengan tatapan yang mengernyit.
"Kamu benar, untuk apa Mama melakukan hal yang sia-sia dengan mabuk dan merusak acara ini. Bukankah ada hal yang lebih-lebih menyenangkan lagi?" ucap Maria dengan tersenyum smirk menatap lurus ke arah Bagas dan juga Alina yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
"Apa yang akan Mama lakukan sebenarnya?" ucap Maxim dengan raut wajah yang kebingungan.
Namun Maria yang mendengar semua pertanyaan dari Maxim barusan, bukannya menjawab ia malah kembali tersenyum sambil mengambil satu gelas berisi wine di atas meja. Dengan langkah kaki yang perlahan tapi pasti, Maria mulai meninggalkan Maxim di sana. Membuat Maxim yang mendapati hal tersebut lantas semakin tidak mengerti akan apa yang hendak di perbuat Maria saat itu.
Maxim yang penasaran akan apa yang hendak di lakukan Ibunya itu, lantas terlihat fokus menatap ke arah Ibunya. Sampai kemudian tanpa Maxim sangka sebelumnya, mendadak Maria mengangkat gelas tersebut tinggi-tinggi dan menyiramkannya pada kepala seorang wanita.
Bola mata Maxim membulat dengan seketika begitu pula dengan tamu undangan yang hadir di sana saat itu. Ulah Maria yang menyiram wine ke arah kepala Alina saat itu, lantas mengundang tanda tanya besar di kepala semua orang.
Entah apa yang tengah diperbuat oleh Maria saat ini, tapi yang jelas hal itu tentu saja mengejutkan bagi semua orang.
"Apa yang kamu lakukan ha?" pekik Bagas sambil menarik tangan Maria saat itu.
Bersambung