
Setelah kepergian Aruna dari sana, sebuah deringan ponsel yang berasal dari milik Arthur lantas langsung membuyarkan segala pemikiran Arthur saat itu.
Arthur yang melihat nama Faris tertera jelas pada layar ponsel miliknya, lantas langsung menggeser icon berwana hijau pada layar ponselnya dan mulai mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Halo" ucap Arthur dengan nada yang terdengar ketus, membuat Faris lantas langsung mengernyit begitu mendengar nada ketus dari Arthur barusan.
"Saya sudah mendapatkan rekaman kamera pengawas unit Apartment anda Tuan dan langsung mengirimnya kepada anda. Sesuai dengan kecurigaan anda, jika ternyata sebelum kepulangan anda Fadli terlihat datang dan memasuki area unit Apartment anda. Durasi antara masuk hingga keluarnya Fadli berlangsung hampir 2 jaman. Fadli bahkan baru terlihat keluar tak lama setelah anda masuk ke dalam." ucap Faris kemudian menjelaskan detail yang ia temukan setelah melihat rekaman kamera pengawas yang berhasil ia retas.
"Apa katamu!" pekik Arthur begitu mendengar penjelasan dari Faris barusan.
Arthur benar-benar terkejut akan informasi yang di berikan oleh Faris barusan. Ia bahkan telah menumpahkan segala kekecewaannya kepada Aruna, tanpa memberikan ruang bagi Aruna untuk menjelaskan segalanya. Arthur yang terlalu marah dan juga kecewa kepada Aruna, sampai melupakan tentang sebuah rasa kepercayaan.
Percuma saja selama ini Arthur mengatakan jika ia begitu mencintai Aruna, namun ketika sebuah badai menerjangnya. Arthur yang begitu kecewa dengan keadaan, lantas melupakan arti kepercayaan dalam sebuah hubungan.
"Apa kau yakin Fadli datang kemari? Aku bahkan tidak melihat kehadirannya semalam, bagaimana bisa?" ucap Arthur dengan raut wajah yang kebingungan.
"Benar Tuan, untuk lebih detailnya lagi anda bisa melihatnya sendiri secara langsung rekaman kamera pengawas tersebut." ucap Faris sekali lagi yang tentu saja semakin membuat perasaan bersalah memenuhi hatinya.
Sedangkan Arthur yang mendengar perkataan dari Faris barusan, lantas langsung mematikan sambungan telponnya secara sepihak. Dengan raut wajah yang gelisah, Arthur nampak mulai membuka pesan yang di kirim oleh Faris mengenai rekaman kamera pengawas yang baru saja keduanya bicarakan. Membuat Arthur yang mendapati hal tersebut, lantas langsung menatap ke arah layar ponselnya dengan raut wajah yang serius.
"Dimana dia sebenarnya ketika aku datang?" ucap Arthur sambil berusaha mencerna rekaman vidio tersebut.
Sampai kemudian gerakannya lantas terhenti ketika ia mengingat kejadian semalam, dimana sebuah vas bunganya jatuh begitu saja tanpa ada yang menyentuhnya. Arthur yang terlalu fokus kepada Aruna saat itu bahkan sampai melupakan tentang vas bunga yang pecah tersebut.
"Jangan-jangan... Sial!" pekik Arthur dengan nada yang kesal sambil mulai mengambil langkah kaki setengah berlari hendak menyusul kepergian Aruna dari sana.
***
Sementara itu Aruna yang tidak mendapat kesempatan untuk menjelaskan segalanya, lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya keluar dari lift dengan perasaan yang tak karuan. Aruna bahkan tidak ingat apa yang terjadi kepadanya selain terakhir kali kedatangan Fadli ke unit Apartment Arthur semalam.
Sambil membawa langkah kakinya entah kemana, Aruna nampak mulai mengedarkan pandangannya ke area sekitaran.
"Pasti ada sesuatu, tapi apa itu.. Mengapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali? Apa yang terjadi sebenarnya semalam?" ucap Aruna sambil terus membawa langkah kakinya keluar dari area lobby dengan perasaan yang kesal.
Aruna yang tak tahu harus pergi kemana lantas terlihat celingukan ke kanan dan juga ke kiri. Di rabanya area saku celananya untuk mencari ponsel, namun sayangnya sepertinya Aruna melupakan hal tersebut. Jangankan ponsel, ia bahkan saat ini dalam kondisi yang acak-acakan tanpa cuci muka atau bahkan mandi sekalipun. Membuat Aruna yang mendapatkan hal tersebut lantas langsung berdecak dengan kesal.
"Benar-benar menyebalkan! Apakah ada kejadian yang lebih parah lagi dari ini?" ucap Aruna kemudian mulai menggerutu kesal.
Sampai kemudian tepat setelah gerutunya terdengar di area lobby, suara petir mendadak terdengar di sertai dengan angin dan juga hujan yang mulai turun membasahi daerah Ibu kota pagi itu.
***
Galeri seni
Felia yang naru saja menerima beberapa karya seni baru, lantas mendapat informasi jika ia kedatangan tamu dan saat ini sedang menunggu di ruangannya.
Mendapat informasi tersebut, lantas membuat Felia mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah ruangannya sambil bertanya-tanya siapa tamu yang di maksud oleh asistennya itu.
Cklek...
Suara pintu yang di buka dengan lebar saat itu, lantas membuat seseorang yang tengah menunggu di ruangan tersebut mulai menoleh ke arah sumber suara.
"Fadli! Apa yang kau lakukan di sini?" ucap Felia begitu mendapati jika tamu yang di bicarakan oleh asistennya tadi adalah Fadli.
Mendengar pertanyaan tersebut lantas membuat Fadli langsung bangkit dari tempat duduknya. Di langkahkan kakinya dengan perlahan menuju ke arah dimana Felia berada sambil mengulum senyum dengan lebar, membuat Felia yang melihat dengan jelas ekspresi raut wajah dari Fadli lantas mengernyit dengan tatapan yang bingung.
"Apakah kau baru saja memenangkan sebuah undian? Mengapa kau bahagia sekali?" ucap Felia dengan raut wajah yang penasaran.
"Tentu saja, ini bahkan lebih membahagiakan daripada hanya sekedar memenangkan sebuah undian." ucap Fadli yang tentu saja semakin membuat raut wajah Felia menjadi penasaran saat ini.
"Apa maksud dari perkataan mu sebenarnya?" ucap Felia yang mulai kesal karena perkataan Fadli sedari tadi hanya berputar-putar saja.
"Apa kamu sudah melihat berita menghebohkan pagi ini?" ucap Fadli kemudian yang lantas membuat raut wajah Felia berubah dengan seketika.
Mendengar perkataan Fadli yang menyangkut tentang berita menghebohkan pagi ini, pikiran Felia lantas tertuju kepada vidio menari Aruna yang tampak seperti orang sedang mabuk dan juga kecanduan. Hanya saja belum sampai setengah hari berita tersebut bahkan sudah menghilang dan tidak lagi terlihat jejaknya. Membuat Felia hanya terlihat santai ketika mendengar perkataan Fadli barusan karena ia yakin jika Arthur pasti sudah membereskan segalanya.
"Apa maksud mu ini tentang vidio yang di unggah di akun media sosial Aruna?" ucap Felia pada akhirnya.
"Tentu saja, mengapa raut wajah mu datar sekali? Harusnya kamu bahagia bukan? Karena diriku setidaknya si Arthur itu akan merasakan namanya malu karena kelakuan kekasihnya di jagad dunia maya." ucap Fadli dengan nada yang bangga, namun sayangnya sama sekali tidak membuat Felia bahagia.
"Kau itu bodoh atau apa? Jika hanya seperti itu, sekali tepukan saja kau akan langsung di hempaskan oleh Arthur!" ucap Felia dengan nada yang meremehkan.
"Apa maksud mu?"
Bersambung