
Malam harinya
Sesuai dengan janjinya sebelumnya, Aruna kimi telah selesai memasakkan beberapa menu makanan spesial untuk Arthur saat itu. Sebuah hidangan yang mungkin akan membuat Arthur tersenyum ketika melihatnya saat ini. Aruna bahkan sudah tidak sabar menantikan kepulangan Arthur saat ini. Sambil menyalakan beberapa lilin aroma terapi yang terletak di atas meja makan, seulas senyuman lantas terlihat mengembang dengan cantik di raut wajahnya Aruna saat itu.
Ting tong...
Sebuah suara bel pintu yang ditekan cukup keras, lantas membuat Aruna langsung mengernyit dengan seketika begitu mendengar suara bel tersebut. Aruna bahkan bertanya-tanya akan siapa sosok yang memencet bel pintu unit Apartment Arthur saat ini.
"Apa mungin itu Tuan? Aku rasa bukan, lagi pula dia kan tahu key password nya. Mana mungkin Tuan menekan bel berulang kali seperti ini?" ucap Aruna menerka-nerka sambil mulai melangkahkan kakinya mendekat menuju ke arah pintu utama.
Dengan langkah kaki yang perlahan, Aruna mulai mendekat ke arah pintu utama dan berhenti tepat dihadapan pintu tersebut. Ditatapnya layar monitor kecil yang memperlihatkan area depan pintu unit apartemen Arthur, Aruna yang tak melihat siapapun di sana tentu saja langsung mengernyit dengan seketika kemudian tersenyum dengan simpul.
"Apa jangan-jangan Tuan sedang ingin bermain-main dengan ku?" ucap Aruna yang berpikir jika yang menekan bel pintu adalah Arthur saat ini.
Dengan raut wajah yang sumringah, Aruna yang berfikir jika itu adalah Arthur lantas langsung membuka pintu unit Apartemen tersebut dengan lebar. Hanya saja detik berikutnya raut wajahnya yang semula sumringah, mendadak menjadi suram ketika ia mengetahui siapa sosok sebenarnya yang menekan bel pintu sedari tadi.
"Kau.. Untuk apa kau kemari?" ucap Aruna begitu melihat Fadli yang saat ini tengah berdiri tepat dihadapannya.
"Aku bahkan sudah menduganya jika kamu tinggal di tempat Arthur, tidak buruk juga. Lagi pula seorang wanita seperti dirimu pasti akan memanfaatkan kuasa Arthur sepenuhnya, bukan?" ucap Fadli dengan senyuman yang sinis menatap ke arah Aruna saat itu.
"Apa maksud perkataanmu? Jika kamu mencari Arthur saat ini, Arthur sedang tidak ada di rumah. Pergilah kembali besok pagi atau temui dia di kantornya, jangan menggangguku!" ucap Aruna sambil berusaha hendak menutup pintu unit Apartemen tersebut, namun sayangnya langsung dicegah oleh Fadli yang begitu mengetahui niatan Aruna saat ini.
Fadli menahan pintu tersebut dengan kakinya, membuat Aruna kesulitan untuk menutupnya saat itu. Dengan senyuman yang begitu terlihat jelas di wajah Fadli saat itu, Fadli lantas mendorong dengan kuat pintu unit Apartemen tersebut dan langsung masuk ke dalamnya dengan paksa.
Bruk...
Suara pintu yang tertutup dengan rapat begitu Fadli berhasil masuk ke dalam, lantas membuat Aruna mulai mengambil langkah kaki mundur secara perlahan detik itu juga. Aruna tahu jika kedatangan Fadli kemari pasti mempunyai niatan buruk kepadanya. Apa yang terjadi di kamar mandi kala itu sudah memperlihatkan gambaran jelas bagi Aruna, jika Fadli sama sekali tidak menyukainya.
"Cepat pergi dari sini atau akan ku panggil satpam sekarang juga!" ucap Aruna dengan nada yang mengancam.
Namun Fadli yang mendengar ancaman tersebut bukannya takut, ia malah tersenyum dan terus melangkahkan kakinya maju ke arah depan. Sedangkan Aruna terus mengambil langkah kaki yang mundur, seakan mencoba mencari tempat teraman untuk menghindari Fadli saat ini.
"Ayolah.. Ini jadi tidak seru jika kau melibatkan satpam dalam hal ini, setidaknya kita masih butuh waktu untuk bersenang-senang bukan?" ucap Fadlin dengan senyum yang mengembang.
"Wah sepertinya akan ada acara makan malam spesial malam ini, sayang sekali rencana mu akan gagal saat ini karena aku sama sekali tak menyukai dirimu! Salahkan nasib buruk yang selalu datang dan menghantui dirimu itu." ucap Fadli kemudian sambil mengambil langkah kaki yang cepat dan menarik tangan Aruna begitu saja.
Aruna yang ditarik begitu saja oleh Fadli tentu saja terkejut bukan main. Namun gerakan Fadli yang tiba-tiba dan cepat yang langsung memiting tubuh Aruna dan menguncinya, membuat Aruna sama sekali tidak bisa bergerak saat itu.
"Lepaskan aku! Apa kau sudah gila? Jika Arthur melihat mu memperlakukan ku seperti ini, ia pasti akan langsung membunuh mu!" ucap Aruna sambil berusaha memberontak.
"Oh ya? Untuk itu aku harus bergerak lebih cepat darinya bukan?" ucap Fadli sambil membisikkan sesuatu di telinga Aruna saat itu.
"Apa?" pekik Aruna yang sama sekali tidak mengerti akan tingkah dari Fadli saat ini.
Setelah mengatakan hal tersebut tanpa Aruna sadari, salah satu tangan Fadli nampak merogoh saku jaketnya saat itu. Fadli mengambil 4 butir pil yang Aruna sendiri tidak tahu apa itu fungsinya. Sambil memiting Aruna dengan cukup kencang, Fadli mulai memasukkannya ke dalam mulut Aruna begitu saja. Membuat Aruna yang mengetahui hal tersebut tentu saja langsung berusaha memberontak dan bahkan berusaha menggigit tangan Fadli saat itu.
Namun Fadli yang langsung menutup mulutnya dengan rapat dan mengarahkan kepalanya sedikit condong ke arah belakang, membuat Aruna kesulitan dan pada akhirnya menelan begitu saja pil yang baru saja dimasukkan oleh Fadli ke dalam mulutnya.
Uhuk uhuk...
Aruna benar-benar merasa ada yang menyangkut di area tenggorokannya saat itu, ketika Fadli membuatnya menelan pil itu secara paksa dan tidak hati-hati.
Setelah berhasil memasukkan pil tersebut ke dalam mulut Aruna, Fadli menghempaskan begitu saja tubuh Aruna hingga terhuyung dan jatuh ke lantai. Membuat Aruna lantas langsung berusaha untuk memukul area dadanya yang terasa sakit akibat pil tersebut yang ia telan dengan kasar.
"Apa yang sedang kau lakukan sebenarnya? Uhuk.. Uhuk..." ucap Aruna sambil terbatuk-batuk.
"Tidak ada, hanya ingin bersenang-senang dengan mu. Perempuan sok polos seperti mu benar-benar harus di beri sedikit pelajaran, bukan?" ucap Fadli dengan senyuman yang mengembang.
"Kau tidak akan bisa berbuat apa-apa, aku yakin sebentar lagi Arthur akan pulang dan menyeret mu keluar dari sini!" ucap Aruna sambil menatap ke arah Fadli dengan tatapan yang aneh.
Entah mengapa pandangan Aruna mendadak begitu buram, Aruna juga tidak tahu apakah ini akibat dari pil tersebut atau hanya dirinya yang sedikit kurang sehat. Namun rasanya mendadak Aruna seperti melayang dan tidak menginjak lantai padahal posisinya saat ini tengah terduduk akibat jatuh dari hempasan Fadli sebelumnya.
"Oh ya? Kita lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya.." ucap Fadli dengan tersenyum tipis ketika melihat jika obat tersebut telah bereaksi kepada Aruna.
Bersambung