
"Apa Pandu melakukan sesuatu kepada mu Run? Katakan padaku sejujurnya, biar aku yang akan memberinya pelajaran sekarang juga!" pekik Arthur kemudian dengan raut wajah yang sangat geram.
Arthur yang sadar ada yang terjadi dengan Aruna, tentu saja langsung bangkit dan ingin memberi pelajaran kepada Pandu saat ini. Hanya saja sebuah tarikan tangan yang berasal dari Aruna saat itu, lantas membuat langkah kaki Arthur berhenti dengan seketika.
"Lepaskan aku Run! Dia harus diberi pelajaran saat ini!" ucap Arthur dengan nada yang kesal.
Sedangkan Aruna hanya mendongak dengan perlahan dan menatap ke arah Arthur dengan tatapan yang aneh.
"Bukan tentang itu Tuan, ada yang ingin saya sampaikan kepada anda." ucap Aruna kemudian memberanikan diri, yang lantas membuat Arthur langsung mengernyit ketika mendengarnya.
"Ada apa?" ucap Arthur kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
Aruna yang mendapat pertanyaan dari Arthur barusan, lantas langsung melepas handuk yang melingkar di tubuhnya kemudian berdiri menatap ke arah Arthur dengan tatapan yang menelisik. Membuat Arthur yang mengetahui hal tersebut, lantas langsung menatap ke arah Aruna dengan tatapan yang penasaran seakan menunggu apa yang akan dibicarakan oleh Aruna saat ini.
"Saya... Saya ingin mengundurkan diri Tuan, bukankah saya pernah mengatakannya kepada anda jika saya akan pergi ketika jiwa kita kembali ke raga kita masing-masing." ucap Aruna pada akhirnya.
Arthur yang mendengar permintaan tersebut tentu saja terkejut bukan main, Arthur jelas tahu apa yang dibicarakan Aruna saat ini karena memang Aruna telah mengatakan sebelumnya. Namun Arthur sama sekali tidak menyangka jika Aruna mengatakannya secepat ini.
"Apa-apaan ini Run? Kamu jangan pernah mecoba untuk mengalihkan pembicaraan, aku tahu ini semua karena dia bukan?" ucap Arthur yang tak terima begitu saja akan perkataan pengunduran Aruna saat ini.
"Tuan cobalah untuk mengerti jika saya ingin hidup dengan tenang. Lagi pula saya sudah tidak lagi memiliki tanggung jawab terhadap anda jadi saya harap anda bisa melepaskan saya." ucap Aruna dengan manik mata yang sendu namun hal ini sama sekali tak membuat hati Arthur luluh seketika.
"Hentikan Run! Apapun alasannya aku sama sekali tidak menerimanya." ucap Arthur lagi kali ini dengan nada yang meninggi.
"Tuan anda bahkan..." ucap Aruna hendak kembali menjelaskan namun sebuah suara deringan ponsel milik Arthur lantas terdengar menggema di telinganya.
Mendengar deringan ponsel miliknya berbunyi lantas membuat Arthur langsung menatap ke arah layar ponselnya sejenak. Sebuah perasaan kesal yang semula sudah muncul akibat mendengar pengunduran diri dari Aruna, kini menjadi bertumpuk kembali ketika melihat nama Bagas tertera dengan jelas di layar ponsel miliknya saat ini.
Dengan gerakan yang malas, Arthur kemudian mulai menggeser icon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya dan melangkahkan kakinya sedikit lebih jauh dari posisi di mana ia berada saat ini.
"Halo Pa..." ucap Arthur kemudian yang lantas membuat Aruna menoleh begitu mendengar Arthur memanggil Pa dalam panggilan teleponnya.
"Papa ingin malam ini kamu pulang ke Rumah, apapun yang terjadi kamu tetap harus pulang ke Rumah." ucap Bagas dengan nada yang penuh penekanan seakan sama sekali tidak ingin di bantah.
"Pa sepertinya malam ini aku benar-benar tidak bisa, ada beberapa hal yang harus aku lakukan nanti malam." tolak Arthur kemudian yang lantas membuat jawaban ketus terdengar keluar dari mulut Bagas saat itu.
"Papa tidak terima penolakan, apapun yang terjadi kamu harus tetap datang walau badai sekalipun." ucap Bagas dengan nada yang tidak ingin di bantah, sebelum pada akhirnya menutup panggilan telponnya begitu saja.
"Tapi Pa.. Halo.. Pa..." ucap Arthur namun tak kunjung mendapat jawaban apapun dari seberang sana, yang tentu saja membuat Arthur langsung berdecak dengan kesal begitu mengetahui jika sambungan telponnya terputus begitu saja tanpa mendengar perkataannya sama sekali.
Arthur benar-benar kesal akan sikap Bagas yang selalu saja bertindak sesuka hatinya tanpa bertanya terlebih dahulu kepadanya apakah ia benar-benar berangkat atau tidak. Membuat Arthur lantas memasang raut wajah kesal dan langsung menelan salivanya dengan kasar karena mengetahui jika ia salah dalam mengambil waktu untuk mengatakan segalanya kepada Arthur.
"Apa yang terjadi Tuan..." ucap Aruna kemudian yang melangkahkan kakinya menghampiri Arthur begitu mendengar Arthur yang begitu kesal saat ini.
Arthur menoleh dengan seketika begitu mendengar pertanyaan dari Aruna barusan. Membuat raut wajah penasaran lantas terlihat dengan jelas terlukis di wajah Aruna saat itu. Sampai kemudian helaan napas lantas terdengar dengan jelas berhembus dari mulut Arthur saat itu.
"Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku jelaskan kepadamu, tapi untuk saat ini aku harap kamu mengerti dan tidak melakukan hal-hal yang tidak penting sama sekali. Aku tidak akan pernah menerima surat pengunduran diri dari mu, jadi aku harap jangan berpikir aneh-aneh dan melakukan segala sesuatunya sendiri tanpa mengatakannya terlebih dahulu kepadaku." ucap Arthur kemudian sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Aruna dengan tatapan yang tak biasa menatap ke arah kepergian Arthur saat ini.
Melihat kepergian Arthur dari sana tentu saja menyisakan sebuah perasaan penuh ke khawatiran terhadap Arthur saat ini, Aruna benar-benar takut jika Pandu melakukan sesuatu kepada Arthur sebelum sempat ia bergerak pergi menjauh dari sisi Arthur.
"Aku akan mencobanya Tuan... Aku akan tetap melakukannya. Apapun yang aku lakukan aku harap kamu tidak marah Tuan..." ucap Aruna kemudian yang langsung melangkahkan kakinya berlaku pergi dari sana.
**
Malam harinya.
Setelah memastikan bahwa Arthur telah pergi menuju ke kediamannya, Aruna lantas mulai berkemas dengan gerakan yang cepat mengemasi beberapa pakaian. Aruna mengepak baju seperlunya dan meninggalkan beberapa pakaian dan juga aksesoris yang telah dibeli oleh Arthur. Bukannya Aruna tidak ingin membawanya sekali bersama dengannya, hanya saja Aruna tidak ingin terikat lebih dalam lagi dengan sosok Arthur. Lagi pula dengan membawa begitu banyak pakaian bermerek yang diberikan oleh Arthur, hal itu tentu akan membuatnya terus teringat akan sosok Arthur yang selama ini sudah melekat di dalam hatinya.
Setelah menyelesaikan segalanya dan mengepak beberapa pakaian miliknya, Aruna lantas mengedarkan pandangannya ke arah kamar tidur dan juga beberapa sudut yang terdapat di sana. Membuat sebuah perasaan sedih kembali menyapa hatinya saat itu ketika kembali menatap ke arah setiap sudut ruangan yang ada di Apartemen milik Arthur.
"Maafkan aku Tuan.. Aku rasa ini adalah keputusan yang terbaik untuk kita berdua." ucap Aruna sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana.
Bersambung.