Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Aku mencintai mu



Arthur yang terlihat menyesal ketika membuang sebuah kertas berisi nomor kontak milik Alina saat itu, lantas langsung melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah ruang tengah. Tanpa membuang waktu lagi, diambilnya tempat sampah yang saat itu tengah berisi beberapa kertas dan juga bungkus makanan ringan yang berserakan di dalamnya. Arthur memilah satu persatu, bahkan menumpahkan seluruh isinya untuk mencari selembar kertas yang berisi nomor ponsel milik Alina saat itu.


Entah apa yang sedang ada di pikiran Arthur saat itu, hingga ia mendadak membuang selembar kertas tersebut begitu saja tanpa tanpa memikirkan segala sesuatunya lebih panjang lagi. Mungkin karena terlalu marah akan keadaan yang terjadi diantara keduanya, membuat Arthur menjadi gelap mata.


Seharusnya pertemuan antara ia dan juga Alina berlangsung dengan sangat dramatis, atau bahkan dilalui dengan pelukan dan tangisan yang haru. Namun nyatanya ketika semua emosi sedang berkumpul menjadi satu di kepalanya saat itu, membuat Arthur malah meluapkan segala emosinya kepada Alina.


Arthur berdecak dengan kesal ketika ia tidak mendapati kertas tersebut meskipun ia telah mengobrak-abrik sampah saat itu. Mendapati hal tersebut membuatnya lantas langsung memukul tempat sampah itu cukup keras, hingga membuatnya bergulung-gulung dan menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.


"Arg kemana sebenarnya kertas tersebut? Aku bahkan yakin membuangnya di sini tadi." ucap Arthur kemudian dengan nada yang kesal.


Sampai kemudian disaat rasa frustasi dan juga kesal yang berkumpul menjadi satu di dalam dirinya saat itu. Sebuah suara yang berasal dari area belakangnya, lantas langsung membuat Arthur menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.


"Apa kamu sedang mencari ini Tuan?" ucap sebuah suara yang berasal dari Aruna.


Arthur yang mendapati kertas tersebut berada di tangan Aruna saat ini, lantas langsung bangkit dari tempatnya kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Aruna berada. Diambilnya kertas tersebut dengan spontan sambil menatap ke arah kertas tersebut, untuk melihat sebuah tulisan yang berisi nomor ponsel Alina saat itu.


Helaan napas lega terdengar berhembus dari mulut Arthur saat itu, membuat Aruna yang mendapati hal tersebut lantas tersenyum dengan simpul.


"Bagaimana ini bisa ada padamu? Bukankah tadi ada di tempat sampah?" ucap Arthur dengan tatapan yang bingung menatap ke arah Aruna saat itu.


Aruna yang mendapat pertanyaan tersebut malah hanya membalasnya dengan senyuman, membuat Arthur lantas kebingungan akan ekspresi raut wajah yang ditunjukkan oleh Aruna saat ini.


"Saya tahu jika anda akan menyesali perbuatan anda, jadi saya memutuskan untuk menyimpannya tepat setelah anda membuangnya. Lagi pula perasaan amarah tidak akan bertahan dengan lama, ia akan mereda ketika perasaan merindu dan juga mencintai lebih besar dari amarah itu sendiri." ucap Aruna dengan raut wajah yang polos.


Mendapati penuturan Aruna barusan tentu saja langsung membuat Arthur tertegun karenanya. Perkataan Aruna tidak hanya tertuju pada permasalahannya dan juga Alina, namun juga kesalahpahaman yang terjadi di antara dirinya dan juga Aruna.


Arthur yang mendengar penuturan dari Aruna barusan, entah mengapa ia merasakan ketenangan di dalam hatinya. Arthur yang begitu bahagia akan sosok wanita yang saat ini berada di hadapannya, lantas langsung memeluknya dengan erat. Membuat Aruna yang diperlakukan seperti itu tentu saja langsung membeku di tempatnya, namun detik selanjutnya membalas pelukan tersebut dengan erat sambil tersenyum simpul.


"Jangan memanggil ku Tuan dan satu lagi hilangkan kata anda dan juga saya, aku benar-benar tidak menyukai hal tersebut." ucap Arthur sambil melepas pelukannya kepada Aruna saat itu.


Aruna yang mendengar perkataan Arthur barusan tentu saja langsung mengernyit dengan tatapan yang bertanya-tanya. Membuat Arthur langsung mencubit gemas hidung Aruna saat itu.


"Aw" rintih Aruna kemudian.


"Bukankah kita berjanji untuk selalu bersama jadi mari hilangkan kecanggungan ini dan mulai dengan hal yang baru. Bagaimana jika aku dan kamu? Atau bisa juga... Sayang? Ayo coba katakan sekarang Run..." ucap Arthur sambil dengan nada yang menggoda Aruna saat itu.


Aruna yang mendengar hal tersebut pipinya tentu saja langsung berubah warna menjadi memerah. Lidahnya mendadak menjadi keluh, entah apa yang harus Aruna katakan saat ini namun yang jelas hal tersebut terasa begitu asing baginya.


"Ak...u dan kam...u" ucap Aruna dengan nada yang terdengar aneh.


"Satu lagi Run, aku ingin mendengarnya." ucap Arthur dengan senyum yang mengembang.


Tanpa aba-aba Arthur mendadak mencium bibirnya kemudian tersenyum dengan tipis. Membuat sebuah pukulan ringan mendadak mendarat di dada Arthur saat itu. Namun Arthur yang mendapati hal tersebut bukannya marah malah mengangkat tubuh Aruna dan meletakkannya di meja makan saat itu, yang tentu saja membuat Aruna terkejut bukan main ketika mendapati hal tersebut.


"Apa yang kamu lakukan?" ucap Aruna dengan raut wajah yang memerah.


"Ikuti saja Run... Aku tidak akan menyakiti mu."


Tepat setelah kata-kata tersebut keluar dari mulut Arthur. Arthur secara perlahan-lahan mengarahkan tengkuk Aruna lebih dekat dan mendaratkan bibirnya di sana, sehingga kemudian ciuman tersebut terjadi di antara keduanya.


Aruna yang awalnya begitu canggung, setelah beberapa kali melakukannya bersama dengan Arthur. Nyatanya saat ini Aruna lebih merasa santai dan mengikuti alur ritmenya, dibanding dengan pertama kali ia melakukannya ketika di kolam renang saat itu.


Aruna yang terbawa akan ritme alur permainan Arthur, lantas tanpa sadar mengalunkan kedua tangannya di area leher Arthur. Hingga tanpa sadar semakin membangkitkan gairah Arthur yang menggebu-gebu ketika Aruna tanpa sengaja menyentuh daerah sensitif miliknya.


Arthur tersenyum dengan simpul ketika mendapati Aruna sudah pandai dalam mengimbanginya, sampai kemudian Arthur nampak menghentikan lu***annya dan membisikkan sesuatu di telinga Aruna.


"Aku mencintai mu Aruna..." bisik Arthur tepat di telinganya.


"Aku juga mencintai mu Arthur Alterio Gavanza." ucap Aruna sambil tersenyum dengan lebar.


**


Keesokan harinya


Pesta pernikahan antara Felia dan juga Fadli di gelar besar-besaran di sebuah ballroom hotel. Terlihat beberapa tamu undangan nampak berlalu lalang menikmati acara Pesta pernikahan Fadli dan juga Felia saat itu.


Suasananya begitu ramai dan juga riuh dengan beberapa sorak suara dari tamu undangan saat itu. Aruna dan juga Arthur yang ikut dalam acara pesta Pernikahan tersebut, lantas terlihat berdiri di sudut ruangan sambil menatap ke arah altar pernikahan.


Disaat semua orang tengah berbahagia atas Pernikahan kedua mempelai, lain halnya dengan Arthur yang tampak begitu gelisah berdiri menatap ke arah Altar Pernikahan saat itu.


"Apa yang terjadi? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Aruna ketika merasa ada yang aneh dengan Arthur saat itu.


"Aku baik-baik saja." jawabnya dengan nada yang datar.


Sampai kemudian suara pintu ballroom hotel yang terbuka dengan lebar di tengah-tengah acara saat itu. Lantas membuat semua mata tertuju kepada pintu masuk ballroom hotel tersebut.


"Bukankah dia..."


Bersambung