
Attention please
Jangan lupa ya gengs sekedar mengingatkan bahwa...
*Aruna : Jiwa Aruna yang terperangkap didalam tubuh Arthur.
*Arthur : Jiwa Arthur yang terperangkap di dalam tubuh Aruna.
...Happy reading...
"Apa kau sebenarnya bukan lah Arthur? Katakan... Ketika kecelakaan terjadi kau pasti tertukar bukan?" ucap Felia dengan tiba-tiba sambil menatap tajam ke arah Arthur, membuat Maxim dan juga Maria lantas langsung mengernyit bingung sambil menatap ke arah Arthur.
"Uhuk-uhuk"
Arthur yang mendengar perkataan nyeleneh tapi benar yang berasal dari Felia tentu saja langsung tersedak seketika. Jiwa *Aruna bahkan sampai terkejut ketika mendengarnya langsung keluar dari mulut kakak kandung dari Arthur tersebut. Sedangkan Maxim yang melihat Arthur tersedak lantas langsung mengambil air putih pada gelas yang berada di sebelahnya kemudian memberikannya kepada Arthur, membuat Arthur dengan spontan kemudian meminumnya berusaha untuk meredakan batuk akibat tersedak barusan.
"Jika memang benar begitu pas sekali karena aku sudah menaruh racun ke dalam gelasnya saat ini." ucap Maxim tanpa di duga-duga dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Sedangkan Arthur yang mendengar perkataan Maxim yang aneh itu, kembali dibuat terkejut sampai menyemburkan air yang ada di mulutnya saat ini. Membuat gelak tawa lantas terdengar jelas menggema di area meja makan. Arthur yang mendengar tawa tersebut tentu saja langsung menatap tajam ke arah keduanya yang nampak masih menertawakannya.
"Hentikan tawa kalian berdua! Jika kalian ingin main-main jangan disini tapi di taman bermain sana!" pekik Maria yang kesal akan Felia dan juga Maxim yang malah bercanda disaat ia sedari tadi mendengarkan keduanya dengan serius.
Padahal tadinya Maria sudah benar-benar curiga bahwa Arthur yang berada disini bukanlah Arthur yang asli. Namun ketika mendengar gelak tawa keduanya yang menggema memenuhi ruangan, membuat Maria mengurungkan niatnya dan malah menjadi kesal karena putranya itu malah ikut-ikutan gila seperti Felia. Sambil berdecak dengan kesal Maria kemudian pada akhirnya memilih untuk berlalu pergi dari area meja makan meninggalkan ketiganya di sana. Membuat Felia yang melihat kepergian Maria dari sana hanya memutar bola matanya dengan jengah kemudian kembali menatap ke arah Arthur.
"Aku mau pulang dan pergi kencan kalian kalau mau tetap di sini silahkan saja!" ucap Felia kemudian dengan nada yang lebih serius.
Setelah mengatakan hal tersebut Felia kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan keduanya di area meja makan dengan langkah kaki yang angkuh. *Aruna yang melihat kepergian Felia dari sana hanya bisa menatap ke arah Felia dengan tatapan yang tidak biasa karena merasa heran dengan sikap Felia yang seperti mempunyai kepribadian ganda. Ekspresi wajah dan juga tingkah lakunya benar-benar bisa berubah dalam hitungan detik saja. Membuat jiwa *Aruna yang berada di dalam tubuh Arthur lantas sedikit bingung ketika melihat perubahan ekspresi dan juga sikap Felia.
Maxim yang tahu sedari tadi Arthur hanya menatap ke arah kepergian Felia lantas menepuk pundak Arthur cukup keras, membuat Arthur lantas terkejut seketika disaat menerima tepukan tersebut.
Arthur yang tak ingin membuat Maxim curiga kepadanya, lantas langsung bangkit dari tempat duduknya sambil membenarkan saku jasnya secara perlahan.
"Sejak kapan kita terlalu dekat untuk menceritakan sesuatu hal yang bersifat privasi? Tentu tidak pernah bukan? Jadi aku harap kamu bisa mengerti batasan mu, aku permisi." ucap Arthur kemudian yang lantas membuat raut wajah Maxim berubah seketika.
Jika melihat dari perubahan ekspresi wajah tersebut sepertinya Maxim nampak tersinggung akan ucapan dari Arthur barusan. Sedangkan Arthur yang tak ingin terlalu lama berada di lingkungan ini, lantas meninggalkan Maxim begitu saja yang masih berdiri di area meja makan sambil menatap ke arah kepergiannya hingga punggung Arthur tidak lagi terlihat pada pandangannya.
Pandangan mata Maxim menatap lurus ke arah depan dengan gigi yang di gesekkan dengan sengaja oleh Maxim, seakan sudah menjadi kebiasaan baginya ketika ia sedang kesal terhadap sesuatu.
"Jika tidak untuk mendapatkan posisi utama di keluarga ini tentu aku tidak akan mau melakukan hal ini kepadanya." ucap Maxim kemudian dengan manik mata yang penuh dengan kilatan amarah.
***
Sementara itu di area luar mansion, terlihat Arthur tengah melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang bergegas. Diusapnya area dadanya yang sedikit merasa lega ketika ia sudah bisa pergi dari lingkup tersebut dengan waktu yang lumayan singkat.
"Bukankah tadi aku sangat keren? Meski ada sedikit masalah yang terjadi tapi setidaknya aku masih bisa mengatasinya." ucap *Aruna dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah mobil yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
Dengan raut wajah yang sumringah Arthur mulai membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya dengan senyum yang masih mengembang di sana. Sambil mendudukkan tubuhnya pada kurai pengemudi, Arthur mulai membuka pembicaraan sambil bercerita dan melaporkannya kepada Aruna. Namun ketika Arthur telah menceritakan segalanya dengan nada yang berapi-api, Arthur sama sekali tidak mendengar jawaban dari Aruna sedari tadi, walau ia sudah berada di dalam mobil sekalipun.
Arthur yang tak kunjung mendengar jawaban dari Aruna sama sekali, lantas langsung menoleh ke arah sebelah dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh Aruna saat ini. Hingga ketika Arthur yang melihat Aruna dalam posisi tertidur hanya bisa menghela napasnya dengan panjang karena sedari tadi ternyata ia hanya bercerita dengan angin lalu tanpa di dengarkan sama sekali oleh Aruna.
"Aku yakin tuan pasti lelah sekali hingga tertidur di dalam mobil seperti ini." ucap Arthur dalam hati ketika melihat Aruna yang memejamkan matanya dengan tenang.
Arthur yang merasa kasihan ketika harus melihat Aruna tidur dalam posisi seperti itu, lantas membuatnya berinisiatif untuk menurunkan sedikit jok mobilnya. Setidaknya ketika bangun nanti punggungnya tidak akan terlalu sakit karena harus tertidur dalam posisi yang seperti itu. Dengan gerakan yang perlahan Arthur mulai mencoba untuk mengatur ketinggian dari kursi yang di duduki Aruna dengan posisi ia yang berada tepat di atas Aruna dan sedang berusaha mengusahakan agar kursinya turun dalam posisi tiduran. Hingga ketika Arthur tengah asik mengatur ketinggian yang pas untuk Aruna, Arthur yang terkejut ketika melihat manik mata Aruna yang tiba-tiba terbuka. Membuat Arthur tanpa sengaja malah mengaturnya menjadi posisi duduk dan mengakibatkan kursi tersebut langsung tertarik naik dan membuat bibir milik Aruna mendarat tepat di bibir Arthur tanpa sengaja.
Cup
Bersambung