
"Apa kau bilang?" pekik Bagas yang terkejut setelah mendengar bisikan dari Arka barusan.
"Bagaimana bisa anak itu tidak datang ke kantor hari ini? Apa kau tidak menghubungi Faris?" ucap Bagas dengan menatap tajam ke arah Arka.
Arka yang mendapat tatapan tajam dari Bagas barusan tentu saja langsung menelan salivanya dengan kasar. Kemarahan Bagas saat ini bahkan sudah bisa di prediksi semenjak ketidak hadiran Arthur di kantor pusat hari ini.
"Anu tuan.. Asisten dan juga sekretarisnya sama-sama tidak hadir pagi ini." ucap Arka dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Bagas.
Bagas yang mendengar perkataan dari Arka barusan tentu saja langsung murka. Digebraknya meja kerjanya dengan keras seakan kesal dengan sikap putranya yang seperti itu.
"Apa kah kali ini dia sungguh-sungguh ingin di keluarkan dari akta ahli waris? Baiklah kalau begitu mari kita lihat apa yang bisa ia lakukan setelah memutuskan untuk pergi dari perusahaan." ucap Bagas kemudian dengan raut wajah yang menahan amarahnya.
"Lalu anda ingin saya melakukan apa untuk menenangkan hati anda tuan?" tanya Arka kemudian dengan nada yang hati-hati karena takut bahwa akan semakin membuat Bagas murka nantinya.
"Blokir semua card dan fasilitas lainnya milik Arthur, aku ingin lihat seberapa lama ia bertahan." ucap Bagas dengan tersenyum sinis menatap lurus ke arah depan.
"Baik tuan" ucap Arka baru setelah itu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan tersebut untuk melaksanakan perintah dari Bagas barusan.
***
Sementara itu di taman mansion kediaman Gavanza, terlihat Maria tengah menikmati minuman di cangkirnya dengan raut wajah yang begitu bahagia dan terlihat sangat jelas di sana. Kabar tentang Arthur yang tak datang ke perusahaan hari ini benar-benar membuat suasana hati Maria begitu senang dan juga pastinya bahagia.
"Tinggal sedikit lagi aku akan bisa mendepak anak itu untuk hengkang dari keluarga besar Gavanza.... Ya tinggal sedikit lagi." ucap Maria pada diri sendiri dengan raut wajah yang begitu sumringah.
Sementara itu dari arah ruangan tengah terlihat Maxim yang melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Maria berada untuk menanyakan sesuatu kepada Maria.
"Ma... Apa mama melihat berkas kerja ku yang ada di map merah? Aku sudah mencarinya di kamar tapi aku tidak bisa menemukannya." ucap Maxim kemudian ketika langkah kakinya berada tepat di sebelah Maria.
Mendengar perkataan putranya itu yang selalu menanyakan segala hal kepadanya. Lantas membuat raut wajah Maria berubah dengan seketika. Dengan raut wajah yang datar Maria mulai bangkit dari tempat duduknya dan menatap ke arah Maxim dengan tatapan yang menelisik, membuat Maxim lantas bertanya-tanya apa maksud dari tatapan tersebut.
"Kau itu selalu saja seperti ini, coba saja kau punya istri pasti tidak akan sibuk mencari barang-barang milik mu kepada ku! Apa kamu kira Mama ini tempat penampungan barang hilang?" ucap Maria dengan raut wajah yang kesal.
Sedangkan Maxim yang mendengar perkataan dari Maria barusan lantas hanya bisa menanggapinya dengan senyuman kecut sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lagi dan lagi selalu saja pembahasan ini yang dibicarakan oleh Maria membuat Maxim menjadi muak ketika kembali mendengarnya keluar dari mulut Maria.
Maria yang mendengar putranya mengatakan akan membawa calon mantu tentu saja langsung terkejut seketika. Bayangan tentang bagaimana Arthur membawa wanita yang tak jelas asal usulnya ke rumah lantas membuat Marian langsung menggeleng dengan keras seakan tidak ingin hal tersebut kembali terulang oleh Maxim.
"Sudahlah tak perlu, Mama tidka mau kau main comot wanita untuk kau nikahi. Biar mama saja yang akan mencari kan seorang pendamping untuk mu." ucap Maria kemudian sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Maxim yang mendengar perkataan dari Maria barusan tentu saja langsung terkejut dengan seketika dan mulai mengejar langkah kaki Maria yang masuk ke dalam.
"Tak perlu Ma.... Aku bisa mencarinya sendiri, Ma... Mama..." teriak Maxim sambil terus melangkahkan kakinya mengejar Maria yang lebih dahulu masuk ke dalam.
***
Sementara itu di Apartment Arthur
Setelah Aruna mengatakan bahwa mereka tidak akan lagi datang ke kantor, lantas terlihat terdiam di sofa ruang tamu tanpa melakukan apapun. Arthur benar-benar bosan karena sedari tadi yang ia lakukan hanya duduk diam di sana sedangkan Aruna dan juga Faris asyik mengobrolkan sesuatu di dalam ruangan kerja Arthur.
Ditatapnya ruangan kerja yang posisinya berada di dekat ruang tamu. Sambil menghela napasnya dengan panjang Arthur nampak menerka-nerka apa yang saat ini tengah Aruna dan juga Faris bicarakan. Keduanya bahkan tidak lagi terlihat setelah sarapan tadi pagi. Arthur mendengus dengan kesal ketika ia hanya dibiarkan menunggu tanpa kepastian saat ini. Apa yang dilakukannya sedari tadi dengan duduk termenung di atas sofa ruang tamu benar-benar membuatnya bosan.
"Sebenarnya apa yang tengah mereka kerjakan saat ini? Mengapa lama sekali? Aku benar-benar bosan saat ini. ucap Arthur kemudian dengan nada yang menggerutu kesal sambil terus menatap ke arah ruangan kerja milik Arthur itu.
Arthur yang mulai bosan dan tidak tahu hendak melakukan hal apa, lantas pada akhirnya memutuskan untuk bangkit dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah ruangan tersebut.
Arthur yang penasaran apa yang dilakukan oleh keduanya kemudian mulai menempelkan telinganya ke arah pintu ruangan tersebut namun ia sama sekali tak mendengar suara apapun juga, membuat Arthur lantas kembali mendengus dengan kesal.
"Memangnya serahasia apa sih pembicaraan mereka? Aku bahkan sampai tidak bisa mendengarnya sama sekali." ucap Arthur kemudian sambil menatap ke arah pintu ruangan tersebut.
Arthur yang sudah penasaran dan juga gatal sekali ingin mengetahui apa yang sedang keduanya lakukan di dalam, lantas mulai mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu ruangan tersebut. Namun sebelum Arthur berhasil mengetuk pintu luar ruangan tersebut, pintu itu nampak perlahan-lahan dibuka dari arah dalam membuat posisi antara Arthur, Faris dan juga Aruna nampak terlihat canggung dimana ketiganya hanya berbatasan dengan ambang pintu yang sudah terbuka. Keheningan terjadi diantara ketiganya dimana Faris dan juga Aruna yang hendak keluar dari ruangan tersebut ketika melihat di ambang pintu ada Arthur yang sudah hendak mengetuk pintu ruangan tersebut, lantas mengerutkan keningnya dengan bingung seakan bertanya-tanya apa yang akan dilakukan oleh Arthur saat ini.
"Tuan..." panggil Arthur kemudian dengan senyum yang mengembang membuat Aruna yang mendengar panggilan tersebut langsung mengernyit dengan seketika.
Bersambung