Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Kedatangan tamu bulanan



Keesokan harinya di ruangan mansion milik Maxim


Terlihat Maxim tengah duduk termenung sambil menatap ke arah dinding tembok yang bercat warna cream di ruangannya. Pikiran Maxim melayang jauh memutar kembali ingatan demi ingatannya tentang Arthur yang terasa begitu aneh baginya. Ada beberapa hal yang terasa sama namun ada pula yang berbeda. Entah mengapa Maxim merasa ada yang aneh dengan Arthur saat ini entah dari sikapnya, cara bicaranya, maupun gerak-gerik gestur tubuhnya benar-benar terasa berbeda.


Maxim mengetuk-ketukan jari tangannya pada meja kerjanya selama beberapa kali seakan tengah memikirkan di bagian mananya ada yang salah dengan Arthur, namun entah mengapa semakin dipikirkan lagi semakin Maxim merasa bahwa semuanya tampak tidak masuk akal.


"Mengapa jadi aku yang pusing? Entahlah..." ucap Maxim dengan kesal sambil mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.


***


Apartment Arthur


Karena hari ini weekend baik Aruna maupun Arthur terlihat masih asyik berlayar ke pulau impiannya. Arthur yang pada akhirnya benar-benar di suruh tidur sekamar dengan Aruna, pada akhirnya semalam ia benar-benar tidur di kamar *Arthur, namun dengan posisi Aruna di ranjang sedangkan Arthur di sofa. Untuk ukuran *Aruna yang setiap harinya tidur di rumah kontrakan yang sederhana, tidur di sofa tidaklah terlalu buruk karena nyatanya sofa di Apartment *Arthur bahkan lebih empuk dari ranjang tempat tidurnya di rumah kontrakannya sendiri.


Arthur nampak mengerjapkan kelopak matanya berulang kali seakan berusaha untuk menyadarkan dirinya sambil mulai mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya masuk dan terkumpul. Setelah ia sudah benar-benar sadar barulah Arthur mulai bangkit dari posisi tidurannya dan melakukan perenggangan beberapa detik untuk membuat otot-ototnya agar tidak terasa kaku dan lebih lemas.


Disaat Arthur yang sedang asyik merenggangkan otot-ototnya, pandangan mata Arthur terhenti pada ranjang Aruna yang berwarna putih terang sudah terkena noda merah seperti bercak darah yang telah mengering. Arthur yang melihat hal tersebut tentu saja terkejut dan langsung bangkit dari posisinya kemudian berlarian mendekat ke arah dimana Aruna terlihat saat ini masih terlelap dalam tidurnya.


Dengan perasaan khawatir yang memenuhi hatinya Arthur langsung membuka selimut tebal yang membalut tubuh Aruna dengan cepat. Dan pandangan mata Arthur terhenti pada celana piyama kedodoran yang digunakan oleh Aruna, dimana di bagian bawahnya ada bercak noda darah yang sama di sana. Arthur menelan salivanya dengan kasar kemudian perlahan-lahan melihat kalender yang berada di atas nakas. Bola mata Arthur membulat ketika ia baru menyadari bahwa di minggu ini adalah tanggal dimana ia mens atau datang bulan.


Sambil menutup mulutnya dengan rapat Arthur mulai merutuki kebodohannya yang tak menjelaskan terlebih dahulu kepada jiwa *Arthur kemarin malam.


"Mati aku, aku yakin tuan akan marah sebentar lagi. Apalagi mengingat perempuan akan mood swing ketika ia sedang datang bulan!" ucap jiwa *Aruna dalam hati sambil menatap ke arah di mana ia masih melihat Aruna tidur dengan pulasnya.


Di goyangkannya bahu Aruna secara perlahan karena Arthur takut bahwa sang singa akan mengamuk jika ia membangunkannya secara kasar.


"Tuan...." panggil Arthur dengan nada yang lirih.


Arthur berusaha membangunkan Aruna dengan selembut mungkin karena takut Aruna akan marah, hingga kemudian sebuah suara dengan nada yang datar lantas langsung menghentikan gerakan tangan Arthur yang sedari tadi sibuk menggoyangkan bahu Aruna untuk membuatnya bangun.


"Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan? Pergilah dan jangan ganggu aku!" ucap sebuah suara yang langsung membuat Arthur terdiam seketika.


"Anu tuan... Itu..." ucap Arthur sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung hendak mengatakan apa kepada Aruna saat ini.


"Apa yang terjadi, mengapa perut ku nyeri sekali?" ucap Aruna sambil memegangi perutnya yang terasa begitu nyeri saat ini.


"Sebenarnya saya ingin menjelaskan hal ini kepada tuan hanya saja saya sedikit takut mengatakannya..." ucap Arthur dengan nada yang lirih namun masih bisa terdengar oleh Aruna saat ini. "Hari ini adalah waktunya saya datang bulan tuan." ucap Arthur kemudian melanjutkan perkataannya.


Mendengar hal tersebut membuat Aruna langsung menatap ke arah yang di tunjuk oleh Arthur saat ini, dimana di sana terlihat jelas noda darah yang hampir mengering. Membuat Aruna yang mengetahui hal tersebut lantas langsung menatap tajam ke arah Arthur saat ini seakan bersiap hendak menghabisinya.


"ARUNA!" pekik Aruna dengan nada yang kesal, membuat Arthur yang mendengar hal tersebut lantas langsung berlarian keluar dari kamar mencari tempat persembunyian agar dirinya tidak bisa di temukan oleh Aruna saat ini.


***


Swalayan terdekat.


Setelah berhasil kabur dari amukan Aruna, Arthur yang merasa bersalah akan hal ini lantas langsung bergegas menuju ke arah swalayan terdekat untuk membeli pemb*lut dan juga obat pereda nyeri untuk Aruna. Sambil menghela napasnya dengan panjang Arthur terlihat melangkahkan kakinya menuju ke area pemb*lut wanita dimana di sana terdapat berbagai jenis dengan merek dan kualitas yang tentu saja berbeda-beda.


Arthur menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan rak panjang berisi berbagai macam jenis pemb*lut wanita. Sambil berpikir dengan keras apa yang akan cocok ketika dipakai oleh Aruna, membuat Arthur lantas terlihat terdiam sambil berpikir.


"Aku memang biasanya memakai dengan merk C, tapi jika aku memberikan tuan pemb*lut dengan merk yang sama, apa mungkin dia akan bisa memakainya? secara dia kan higienis sekali..." ucap Arthur dalam hati sambil terus menatap ke arah rak yang berjajar begitu banyak jenis merk pemb*lut wanita.


Arthur mengambil satu merk ternama dan satu lagi merk termahal di sana. Arthur kemudian mulai membandingkan satu-persatu. Arthur tampak menimbang dengan cermat karena tuannya ini sangatlah cerewet dan juga pilih-pilih. Jika ia langsung main comot sesuatu, Arthur yakin ia akan kembali mendapat omelan dari Aruna.


"Aku rasa yang ini tidak terlalu buruk." ucap Arthur sambil mengembalikan merek yang satunya.


Ketika Arthur hendak berbalik badan dan pergi dari sana, sebuah suara perempuan yang asing bagi Arthur lantas terdengar dan langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.


"Arthur? Ini benar-benar kamu?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Arthur langsung mengernyit ketika mendengar suara tersebut.


"Siapa dia?" ucap jiwa *Aruna dalam hati seakan bertanya-tanya tentang sosok perempuan yang saat ini tengah berdiri dihadapannya.


Bersambung