
Setelah menyuruh asistennya untuk menangani sebentar konsumennya. Felia terlihat melangkahkan kakinya membawa Maxim ke tempat yang lebih sepi untuk berbicara. Felia hapal betul dengan saudara tirinya itu yang tidak akan datang jauh-jauh hingga kemari jika tidak ada sesuatu hal yang penting. Membuat Felia yang hapal akan tingkah saudara tirinya itu lantas menghentikan langkah kakinya ketika ia merasa tempat ini aman dari orang-orang.
"Apa yang kau inginkan sekarang?" ucap Felia kemudian dengan langsung tanpa basa-basi sama sekali.
Maxim yang mendengar perkataan Felia barusan lantas tersenyum ke arahnya, tujuannya datang ke sini benar-benar terbaca rupanya. Membuat Maxim kemudian langsung mulai merogoh saku jasnya dan mencoba untuk mengambil sebuah amplop berwarna coklat dan langsung Maxim berikan kepada Felia. Felia yang menerima amplop berwarna coklat tersebut tentu saja langsung menatap dengan tatapan yang bingung ke arah Maxim seakan bertanya akan isi di balik amplop tersebut. Felia yang melihat Maxim tidak menjawab ataupun memberi penjelasan kepadanya lantas mulai membuka amplop tersebut kemudian merogoh isinya dan mengeluarkannya secara perlahan.
Sebuah hal yang tak terduga sama sekali bagi Felia mendadak terlihat muncul ketika ia berhasil mengeluarkan isi dari amplop berwarna coklat tersebut, satu-persatu foto nampak Felia lihat dengan seksama yang tentu saja hasilnya membuat Felia terkejut begitu mengetahui hal tersebut. Felia yang tahu arti dari foto tersebut kemudian mulai menatap ke arah Maxim dengan tatapan yang bertanya.
"Apa semua ini Max?" tanya Felia kemudian yang lantas membuat Maxim tersenyum seketika begitu mendengar pertanyaan dari Felia barusan.
"Mengapa kau malah menanyakannya padaku? Bukan dirimu sendiri tahu jawabannya Felia?" ucap Maxim dengan tersenyum lebar menatap ke arah Felia saat ini.
Felia yang mendengar perkataan Maxim barusan tentu saja langsung terdiam seketika. Sebuah foto yang menunjukkan dirinya berada tepat di sebelah mobil minibus yang menabrak Arthur kala itu terpampang sangat jelas di sana, Felia bahkan terlihat berada di beberapa sisi dan nampak berbicara dengan si pengendara mobil minibus tersebut. Keringat dingin mulai bermunculan pada pelipis Felia ketika seseorang menangkap gambarnya seperti ini, Felia bahkan tidak tahu bagaimana Maxim bisa memperoleh gambar tersebut bahkan sampai mencetaknya. Jika sampai Arthur tahu Felia yakin Arthur pasti akan sangat marah kepadanya.
"Aku bahkan tidak menyangka jika seorang saudara kandung bisa melakukan hal sekeji ini, apa kau sama sekali tidak menyayangi adik mu itu? Kau benar-benar sudah gila!" ucap Maxim yang semakin membuat panas keadaan.
Felia yang mendengar perkataan dari Maxim tersebut lantas menatap dengan tajam ke arah Maxim, membuat Maxim ikut menatapnya dengan tajam pula.
"Tutup mulut mu itu! Aku dan kau bahkan tidak ada bedanya sama sekali, bukankah kau juga menginginkan harta keluarga ku? Kau di sini hanyalah anak tiri dan bukan siapa-siapa, jadi berhenti ikut campur ke dalam masalah ku!" ucap Felia dengan nada penuh penekanan sambil menunjuk ke arah dada bidang milik Maxim.
Maxim yang menerima hal tersebut lantas langsung memegangi tangan Felia dengan kuat berusaha untuk menghentikan gerakannya yang terus mendorong tubuhnya itu. Maxim kemudian mendekatkan tubuhnya ke arah Felia dan membisikkannya sesuatu, membuat Felia langsung terdiam seketika begitu mendengar bisikan tersebut.
"Meski aku hanyalah anak tiri setidaknya aku tidaklah sekeji dirimu, berhenti bersikap seolah-olah kau yang paling polos di keluarga ini dan menjadikan ku kambing hitam, ingat itu!" ucap Maxim dengan penuh penekanan.
Setelah mengatakan hal tersebut Maxim kemudian menghempaskan begitu saja tangan Felia ke udara, baru setelah itu berlalu pergi meninggalkan Felia seorang diri di sana dengan tatapan kebencian yang mengarah kepada Maxim saat ini.
"Awas saja kau, dasar sok suci dan merasa paling benar!" ucap Felia sambil menatap kepergian Maxim hingga punggungnya tidak lagi terlihat pada mata Felia.
Sementara itu di ruangan CEO
Terlihat Arthur tengah duduk di sofa sambil menguap karena menahan kantuknya akibat begadang sambil menonton drakor semalam setelah menghabiskan semangkuk mie instan kuah pedas yang berhasil menggoyang lidahnya semalam. Setelah jiwa keduanya kembali bertukar pada akhirnya Aruna atau jiwa *Arthur memutuskan untuk meletakkan meja sekertaris di dalam ruangannya sedangkan di bagian depan di isi dengan Faris.
Arthur melirik sekilas ke arah Aruna yang saat ini tengah sibuk memeriksa beberapa dokumen di meja kerjanya, setelah ruangannya di pindah menjadi satu ruangan dengan CEO membuat Arthur sama sekali tidak bebas melakukan apapun seperti sebelumnya. Sambil mengetik beberapa laporan di laptopnya helaan napas terdengar dengan jelas berhembus dari mulut Arthur, membuat Aruna yang tengah sibuk memeriksa laporan keuangan lantas langsung menoleh dengan seketika begitu mendengar helaan napas yang terus-terusan terdengar dari mulut Arthur sedari tadi.
"Bisakah kau berhenti menghela? Suara napas mu itu benar-benar menganggu ku!" ucap Aruna dengan nada yang ketus membuat Arthur yang mendengar hal tersebut lantas langsung mendengus dengan kesal.
"Jika saya tidak bernapas maka saya akan mati tuan." jawab Arthur dengan nada yang memelas membuat Aruna langsung menatap dengan tatapan yang tajam ke arahnya.
"Kau selalu saja bisa menjawab, jika sudah tahu mangkanya jangan terus-terusan menghela seperti itu lagi pula itu tidak baik, kesannya seperti kau tidak pernah puas akan sesuatu dan tidak mensyukuri pemberian Sang Pencipta." ucap Aruna sambil masih tetap fokus menatap ke arah laporan di mejanya.
Arthur yang mendengar ucapan benar dari Aruna barusan tentu saja langsung terkejut seketika. Baru kali ini apa yang di katakan oleh bos nya itu adalah sebuah kebaikan, membuat Arthur langsung melongo seketika di saat mendengar perkataan tersebut. Aruna yang tak mendengar jawaban apapun dadi Arthur lantas meletakkan laporan di mejanya dan menatap ke arah Arthur, namun yang Aruna dapati ketika ia mendongakkan kepalanya malah tatapan melongo dari Arthur ke arahnya, membuat Aruna lantas memutar bola matanya dengan jengah ketika melihat hal itu.
"Tutup mulut mu atau kau akan membanjiri ruangan ku dengan air liur mu itu!" ucap Aruna dengan nada yang datar.
"Maaf tuan" jawab Arthur dengan spontan.
Hening sesaat setelah pembicaraan tersebut, sampai kemudian Arthur yang teringat akan perempuan yang ia temui beberapa waktu yang lalu lantas langsung bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah meja Aruna, membuat Aruna langsung menatapnya dengan tatapan yang bertanya ke arah Arthur.
"Saya bertemu seseorang beberapa waktu yang lalu tuan!" pekik Arthur ketika ia baru mengingat tentang hal tersebut.
"Siapa yang kau temui?" tanya Aruna kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
Bersambung