
"Apa kalian tetap akan memamerkan kemesraan kalian di depan ku, agar aku segera pergi dari sini?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Arthur dan juga Aruna langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.
Mendengar nada suara Bagas barusan yang sedikit meninggi, lantas membuat Aruna langsung memperbaiki posisinya dan tersenyum dengan ramah ke arah Bagas.
"Maafkan saya Pak, silahkan di minum kopinya.. Saya permisi." ucap Aruna kemudian berlalu pergi namun sambil mengkode Arthur untuk segera memasang earphone tersebut.
Setelah kepergian Aruna dari sana Bagas nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Arthur berada. Bagas mengambil duduk tepat di depan Arthur kemudian meminum kopi yang baru saja di suguhkan oleh Aruna barusan.
"Lumayan juga, pantas saja kamu begitu menyukainya, kopi buatannya enak." ucap Bagas dengan nada yang terdengar begitu santai membuat Arthur lantas mengernyit dengan seketika begitu mendengar hal tersebut.
"Apa ada sesuatu hal yang penting Pa?" ucap Arthur kemudian dengan ragu-ragu.
Namun ketika susana sedang tegang-tegangnya, Arthur yang mengira earphone itu hanyalah sebuah mainan saja mendadak berbunyi dan langsung mengejutkan Arthur.
"Bisa tidak kamu sedikit lebih santai lagi? Suara mu benar-benar terdengar aneh di sini!" pekik Aruna
"Oh astaga!" ucap Arthur yang terkejut akan teriakan Aruna di telinganya.
"Apakah ada sesuatu?" tanya Bagas dengan raut wajah yang bingung ketika melihat tingkah Arthur saat ini.
Mendapat pertanyaan tersebut membuat Arthur langsung menoleh ke arah Bagas dan tersenyum dengan garing, Arthur sendiri bahkan tidak tahu lagi harus membuat alasan apa untuk Bagas saat ini.
"Tidak ada Pa hanya... Nyamuk, ya nyamuk besar." ucap Arthur sambil berakting menepuk nyamuk di sekitarnya.
"Nyamuk? Apa kamu yakin? Sepertinya Papa tidak melihat atau mendengar apapun di sini." ucap Bagas sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar yang lantas membuat Arthur langsung tertawa dengan seketika untuk mencairkan suasana.
"Dasar bodoh!"
"Diam lah saja Tuan dan jangan berbicara jika tidak ada yang penting!" ucap Arthur dengan nada yang berbisik di sela-sela tawanya.
"Apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya Bagas kembali karena Arthur saat ini terlihat begitu aneh baginya.
"Tidak ada Pa, silahkan di minum lagi kopinya..." ucap Arthur kemudian dengan senyuman yang aneh.
Mendengar perkataan Arthur barusan lantas membuat Bagas kembali meminum kopinya, namun sambil menatap aneh ke arah Arthur seakan masih penasaran akan tingkah Arthur yang aneh saat ini.
"Em ngomong-ngomong Papa ingin berbicara apa tadi?" ucap Arthur kemudian mulai membuka pembicaraan kembali.
Helaan napas lantas terdengar dengan jelas berhembus dari mulut Bagas begitu mendapat pertanyaan tersebut. Ditatapnya manik mata Arthur dengan intens membuat Arthur lantas bertanya-tanya akan maksud dari tatapan Bagas saat ini.
"Papa ingin kamu kembali ke Perusahaan!" ucap Bagas kemudian yang tentu saja langsung membuat Arthur dan juga Aruna terkejut begitu mendengarnya.
Arthur terdiam seketika begitu mendengar permintaan tersebut seakan menunggu jawaban dari Aruna saat ini, namun sayangnya yang terjadi di seberang sana hanyalah keheningan membuat Arthur lantas menghela napasnya dengan panjang.
"Bukankah Papa sendiri yang menginginkan hal ini? Lalu mengapa Papa kini malah menyuruh ku kembali ke Perusahaan?" ucap Arthur kemudian seakan berusaha untuk menjadi penengah di antara keheningan yang saat ini tengah melanda Aruna di seberang sana.
"Papa tahu, tapi Papa melakukan hal itu hanya demi kebaikan mu. Awalnya Papa mengira kamu akan kembali dan mengemis kepada Papa meminta untuk kembali, tapi ternyata Papa salah... Nyatanya kamu bisa berdiri sendiri tanpa bantuan dari Papa sama sekali." ucap Bagas dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.
***
Kediaman Gavanza
Dari arah pintu utama terlihat Maxim tengah melangkahkan kakinya dengan perlahan memasuki area rumah menuju ke atas. Namun ketika Maxim baru saja melangkahkan kakinya hendak naik sebuah suara yang tentu tak asing di pendengarannya, lantas menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
"Kamu benar-benar masih saja seperti ini, disaat anak itu pergi harusnya kau itu bisa merayu Papa mu dan pergi ke perusahaan induk, bukan malah seperti ini. Kau bahkan terlihat seperti pengangguran meski mengelola sebuah hotel sekalipun." ucap Maria dari arah dapur yang lantas membuat Maxim langsung berbalik badan dengan seketika begitu mendengar suara Maria barusan.
Maxim yang semula hendak menaiki anak tangga lantas terlihat berputar arah dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Maria berada.
"Apa lagi kali ini Ma? Bukankah Papa sudah memberikan bagian ku dengan rata? Lalu mengapa aku masih harus merecoki bagian putra yang lainnya?" ucap Maxim namun dengan nada yang lembut karena Maxim sungguh tahu berbicara dengan Maria membutuhkan sebuah kesabaran bukan dengan kekerasan.
"Kau itu bisanya hanya ngomong saja, mana ada adil yang seperti ini? Felia dan Arthur bahkan mendapat bagian yang lebih besar, tapi kau.. Kau hanya mendapatkan bisnis hotel, apa itu yang di namakan adil?" ucap Maria kembali dengan nada yang menggerutu.
"Ma sudah cukup kita bahas tentang ini karena Max sama sekali tidak menginginkan pertengkaran di antara kita berdua hanya karena persoalan harta. Max naik dulu ke atas!" ucap Maxim kemudian memilih untuk mengakhiri pembicaraan ini sebelum tambah melebar kemana-mana.
"Jika kamu tidak mau melakukannya maka Mama yang akan melakukannya sendiri, Mama harap kamu bisa menerima hal itu karena Mama melakukan hal ini hanya untuk mu!" pekik Maria kembali yang lantas menghentikan langkah kaki Maxim lagi dan lagi.
"Ma ku bilang sudah cukup!" ucap Maxim masih dengan nada yang rendah.
"Tidak ada yang cukup bagi Mama karena kamu..." ucap Maria namun terpotong dengan ucapan Maxim.
"Sudah ku bilang berhenti Ma, sudah untung Papa tidak mengusir ku yang bukan siapa-siapa di sini, jadi Mama jangan terus-terusan mendorong ku untuk melakukan sesuatu yang lebih. Jika Mama tanya mengapa bagian ku dan juga mereka berbeda jawabannya karena aku bukanlah bagian dari keluarga ini, apa Mama belum mengerti juga? Anak tiri dan juga anak kandung tidak lah sama, aku bukanlah anak Papa jadi stop terus mengungkit soal pembagian yang tidak merata karena aku sudah muak akan hal itu!" ucap Maxim pada akhirnya meluap juga karena mulai kesal akan sikap Maria yang selalu saja egois dan memaksakan kehendaknya sendiri.
"Tapi Mama hanya..." ucap Maria namun tercekat di tenggorokan.
"Hanya apa Ma?" ucap Maxim dengan raut wajah yang kesal menatap ke arah Maria.
"Hanya serakah dan tidak tahu diri!" ucap sebuah suara yang lantas membuat Maxim dan juga Maria menoleh ke arah sumber suara.
Bersambung