Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Tidak ingin berdebat



"Arthur? Ini benar-benar kamu?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Arthur langsung mengernyit dengan bingung ketika mendengar suara tersebut.


"Siapa dia?" ucap jiwa *Aruna dalam hati seakan bertanya-tanya tentang sosok perempuan yang saat ini tengah berdiri dihadapannya.


Belum sempat pertanyaannya terjawab sosok perempuan dihadapannya nampak berlarian dan langsung memeluk tubuh Arthur dengan erat. Membuat Arthur atau lebih tepatnya jiwa *Aruna yang saat ini tengah mendiami tubuh Arthur, tidak tahu apa-apa tentang perempuan tersebut lantas hanya bisa terdiam di tempatnya dengan kebingungan antara membalas pelukannya atau malah menghempaskannya begitu saja.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucap *Aruna dalam hati.


Keheningan benar-benar terjadi diantara keduanya ketika perempuan itu memeluk tubuh Arthur dengan eratnya. Hingga setelah perempuan itu merasa ada yang salah dengan respon Arthur kepadanya, membuat perempuan tersebut lantas mulai melepaskan pelukannya kepada Arthur dengan perlahan.


"Jangan bertingkah seakan-akan seperti kamu melupakan ku ya! Aku tahu perjodohan kita gagal tapi bukankah kamu janji akan tetap berperilaku seperti biasa?" ucap perempuan itu yang semakin membuat jiwa *Aruna bertanya-tanya dan nampak seperti orang bodoh karena memang posisinya yang tidak tahu apa-apa tentang perempuan dihadapannya.


Sedangkan perempuan itu yang tak kunjung mendengar respon dari Arthur lantas menatap Arthur dengan tatapan yang menelisik dan bertanya-tanya. Membuat Arthur yang mendengar perkataan tentang perjodohan yang gagal malah semakin dibuat menjadi bingung. Arthur terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal beberapa kali kemudian memutuskan untuk berlalu pergi sebelum nantinya ia salah dalam mengambil langkah dan kembali mendapat amukan dari Aruna nantinya.


"Maaf aku sedang sibuk nanti saja kita lanjut lagi..." ucap Arthur sambil berlalu pergi begitu saja meninggalkan perempuan tersebut.


"Tunggu sebentar Ar aku..." ucap perempuan itu namun sosok Arthur terlebih dahulu meninggalkannya tanpa mendengarkan ataupun menanggapi perkataannya.


Helaan napas lantas terdengar berhembus kasar dari mulut perempuan itu ketika melihat Arthur pergi, membuat raut wajah perempuan tersebut berubah menjadi sendu, di tatapannya kepergian Arthur dengan tatapan yang intens. Hingga kemudian pandangannya terhenti pada tangan Arthur yang terlihat membawa sebuah merk pemb*lut dengan entengnya bahkan tanpa malu sama sekali. Perempuan itu mengernyit dengan tatapan yang bingung seakan tidak percaya dengan yang baru saja dilihatnya.


"Seorang Arthur membawa pemb*lut wanita? Tidakkah ini sebuah momen langka? Atau memang aku yang sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk kembali?" ucap perempuan tersebut sambil terus menatap kepergian Arthur hingga menghilang dari pandangannya.


***


Apartment *Arthur


Arthur yang baru saja masuk ke dalam Apartment sambil membawa kantong kresek di tangannya, lantas terlihat mengedarkan pandangannya ke arah sekitar mencoba mencari keberadaan Aruna di sana. Ada sedikit perasaan bertanya-tanya dalam diri Arthur yang tak kunjung melihat batang hidung Aruna di area ruang tamu maupun ruang bersantai, membuat Arthur lantas sedikit mengernyit sambil terus melangkahkan kakinya menyusuri area Apartment mencari keberadaannya.


"Apakah Arthur sudah pergi sebelum kedatanganku?" ucap *Aruna dalam hati sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekitaran.


Setelah berputar-putar cukup lama, langkah kaki Arthur lantas terhenti pada sebuah mini bar yang terletak di dapur. Dimana Aruna kini terlihat tengah menyandarkan kepalanya pada meja mini bar, membuat Arthur lantas mempercepat langkah kakinya ketika melihat Aruna yang seperti itu. Diletakkannya kantong kresek yang ia bawa sedari tadi di atas meja, kemudian Arthur mulai mengeluarkan pemb*lut yang tadi ia beli di swalayan dan langsung menyerahkannya kepada Aruna.


"Aku sedang tidak ingin berdebat, jadi jangan ganggu aku saat ini!" ucap Aruna dengan nada yang lirih tapi masih bisa di dengar oleh Arthur.


Mendengar perkataan Arthur barusan membuat Aruna lantas mendongak ke arah Arthur kemudian melirik sekilas ke arah sebuah benda yang diberikan oleh Arthur barusan. Aruna yang tahu benda apa yang diberikan oleh Arthur barusan lantas langsung melotot dengan tajam begitu mengetahui hal tersebut. Bukan pasal Aruna yang tersinggung karena Arthur memberinya pemb*lut, hanya saja lebih kepada kesal dan tidak bisa membayangkan tentang bagaimana malunya seorang Arthur Alterio Gavanza datang ke Swalayan dan membeli produk khusus wanita tersebut.


"Aru....." ucap Aruna hendak memanggil jiwa *Aruna dengan nada yang panjang namun terhenti ketika perutnya kembali nyeri.


"Nah kan... Sebaiknya anda segera ke kamar mandi ganti dan bebersih biar saya membuatkan minuman hangat untuk meredakan sakitnya." ucap Arthur kemudian sambil sedikit menarik tangan Aruna agar segera bangkit dari kursinya.


Aruna yang sudah tidak bisa menahannya lagi, lantas hanya bisa mengiyakan perkataan Arthur dan langsung bangkit dari tempatnya bergegas menuju ke arah kamar mandi.


"Setidaknya aku selamat" ucap Arthur dalam hati.


***


Setengah jam kemudian


Arthur yang baru saja selesai membuatkan Aruna minuman hangat seperti janjinya tadi, lantas terlihat sesekali melirik ke arah pintu kamar dimana terlihat masih tertutup dengan rapat membuat Arthur lantas sedikit mengernyit karena tak kunjung melihat Aruna keluar dari kamar walau sudah setengah jam lamanya berada di dalam.


"Sebaiknya aku susul saja, jika tuan tidak kunjung keluar minumannya akan dingin." ucap Arthur pada akhirnya membuat keputusan.


Setelah membuat keputusan Arthur kemudian lantas mulai terlihat melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar dan langsung membuka pintu kamar untuk masuk ke dalamnya. Di liriknya pintu kamar mandi yang hingga kini masih terlihat tertutup tersebut, membuat Arthur sedikit kebingungan akan apa yang dilakukan oleh Aruna atau lebih tepatnya jiwa *Arthur di dalam kamar mandi hingga menghabiskan waktu yang cukup lama di dalamnya.


Arthur yang mulai penasaran akan sesuatu hal yang di lakukan *Arthur di dalam, lantas mulai mengetuk pintu kamar mandi dan mencari tahu apa yang tengah dilakukan oleh Aruna di dalam sana.


"Tuan apa anda masih lama? Apa anda ingin saya bantu?" ucap Arthur mulai menawarkan bantuan.


Hening beberapa saat seakan tidak terdengar suara apapun di dalam sana. Hingga kemudian sebuah suara yang ragu-ragu terdengar mulai menggema dari dalam kamar mandi. Membuat Arthur yang berada di luar lantas langsung mengernyit ketika tiba-tiba mendapat pertanyaan aneh dari Aruna di dalam.


"Bagaimana kalian para wanita memakai benda ini? Benar-benar tidak berguna sama sekali!" ucap sebuah suara dari dalam kamar mandi yang lantas membuat Arthur bertanya-tanya akan maksud dari perkataan Aruba barusan.


"Maksudnya tuan?"


Bersambung