
Sore harinya
Di sebuah ruangan perkantoran, terlihat Arman tengah sibuk mengetik sebuah artikel yang berisi tentang kebenaran dari putra pebisnis nomor satu di negara ini yang mungkin akan menjadi hot line ketika berita ini di terbitkan.
Setelah Arman melihat langsung rekaman kamera pengawas yang terdapat pada flashdisk yang di berikan oleh Pandu tadi di Cafe, lantas memunculkan sebuah ide berita yang mungkin akan membuat beberapa nilai saham perusahaan keluarga besar Gavanza merosot dengan tajam, bukankah dengan begitu seorang wartawan akan mendapat sebuah keuntungan?
Seulas senyum terlihat dengan jelas terbit dari wajah Arman saat itu ketika melihat sebuah judul artikel buatannya.
"Rahasia terdalam putra keluarga Gavanza! Sepertinya judul ini tidak lah buruk, em atau mungkin aku bisa menggantinya dengan Rahasia kelam seorang Arthur. Bukankah hal tersebut nampak begitu ironi? Benar-benar sesuatu yang luar biasa." ucap Arman dengan senyuman yang mengembang tak henti-hentinya menghiasi raut wajahnya.
Sampai kemudian disaat Arman tengah sibuk menyiapkan beritanya yang akan tayang esok hari. Seseorang nampak langsung melempar sebuah artikel dengan tiba-tiba tepat di sebelah Arman, yang tentu saja langsung mengejutkan dirinya saat itu juga.
"Sunting berita ini dalam setengah jam karena akan langsung di tayangkan malam ini juga." ucap Aldi yang tentu saja membuat Arman langsung mengernyit begitu mendengar perkataan Aldi barusan.
Arman yang penasaran akan berita apa yang diberikan oleh atasannya tersebut, lantas terlihat melirik ke arah artikel itu. Betapa terkejutnya Arman ketika mendapati jika artikel yang baru saja diberikan oleh atasannya. Sebuah berita di mana di dalamnya memuat tentang Pandu dan juga Agam Atmaja. Melihat hal tersebut tentu saja membuat manik mata Arman membulat dengan seketika.
Entah ini sebuah kebetulan atau apa, namun kedua artikel ini seakan terjadi secara disengaja. Seperti seakan Arthur mengetahui jika Pandu saat ini tengah mengincarnya.
"Tapi Pak.. Saya bahkan sudah menyiapkan sebuah artikel yang mungkin akan menjadi hot line ketika berita ini dinaikkan." ucap Arman sambil menunjuk ke arah layar komputer miliknya.
Mendengar hal tersebut lantas membuat atasannya melirik ke arah layar komputer milik Arman dan membacanya secara sekilas.
"Sebuah berita murahan seperti ini kau anggap hot news? Apa kah sudah kehilangan akal? Sebuah pertukaran jiwa? Cih.. Kau itu sedang menyiapkan sebuah artikel atau naskah drama. Jangan pernah coba-coba untuk menayangkannya tanpa seijin ku! Kau benar-benar sudah tidak waras!" ucap Aldi sambil tersenyum meremehkan.
"Ini sungguh terjadi pak, saya bahkan mempunyai cuplikan videonya.. Cobalah anda lihat sebentar." ucap Arman tak pantang menyerah sambil menarik tangan atasannya agar duduk dan melihat rekaman kamera pengawas tersebut.
Dengan ogah-ogahan Aldi nampak mulai mengambil duduk dan menonton vidio itu hingga habis. Dari awal hingga akhir rekaman kamera pengawas tersebut ekspresi Aldi tetaplah sama tanpa ada perubahan sama sekali, membuat Arman yang melihat hal tersebut lantas langsung mengernyit dengan tatapan yang bertanya akan ekspresi yang di tunjukkan oleh Aldi saat ini.
"Vidio begini kau anggap sebagai bukti? Coba kau pikirkan jika tiba-tiba aku datang dan mengatakan jika aku adalah Jokowi, apa kau akan langsung percaya?" ucap Aldi sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Saya... Saya..." ucap Arman dengan raut wajah yang bingung karena apa yang dikatakan oleh Aldi barusan ada benarnya juga.
"Aku tidak mau tahu apapun alasan mu, yang aku mau tayangkan berita itu malam ini juga dan simpan artikel yang kau buat untuk dirimu saja!" ucap Aldi sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Arman di ruangan tersebut.
***
Dibawah cahaya sinar bulan purnama keduanya hanyut ke dalam permainan lum**an demi lum**an masing-masing. Tidak ada yang bisa menghentikan keduanya malam ini. Tangan Aruna perlahan mulai naik dan melingkar ke leher Arthur saat itu, sedangkan tubuhnya sudah dalam posisi berada di paha Arthur saat ini. Membuat suasana kian terasa semakin intim di tambah dengan angin malam yang menerpa keduanya kala itu.
Deburan ombak pantai malam hari begitu terdengar nyaring di telinga keduanya, seakan sebagai saksi akan keduanya yang semakin terhanyut ke dalam ciuman panas yang mereka lakukan sebagai jalan menuju ke raga mereka masing-masing.
Perlahan-lahan tautan keduanya terlepas dengan posisi kelopak mata mereka yang saling terpejam saat ini. Entah perasaan apa yang sedang menyelimuti keduanya, namun baik Arthur dan juga Aruna merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam diri mereka tepat ketika bibir keduanya saling bertautan.
Aruna dan juga Arthur nampak mulai membuka kelopak mata mereka masing-masing dan saling menatap ke dalam manik mata antara satu sama lainnya dengan tatapan yang tak biasa.
"Tuan...." ucap Aruna yang lantas membuat mulutnya langsung menutup dengan rapat ketika menyadari jika dirinya telah kembali ke tubuhnya dengan sempurna.
Sampai kemudian setetes air mata nampak terlihat menetes dengan begitu saja dari sudut mata Aruna membuatnya langsung bangkit dari paha Arthur detik itu juga.
"Ah maaf Tuan sepertinya saya terlalu terharu karena bisa kembali ke dalam tubuh saya seperti sedia kala." ucap Aruna kemudian sambil berbalik badan seakan enggan untuk menatap lebih dalam lagi manik mata milik Arthur saat ini.
Sementara Arthur yang memperhatikan setiap gerak-gerik Aruna, tentu saja merasakan jika ada sesuatu yang terjadi kepada Aruna saat ini. Jika untuk sebuah kebahagian karena berhasil kembali ke dalam tubuh mereka masing-masing, tentu air mata kesedihan tidak akan pernah terlihat dalam wajah Aruna.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu saat ini?" tanya Arthur kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
Mendengar pertanyaaan tersebut tentu saja langsung membuat Aruna menghapus air matanya dengan kasar kemudian berusaha memasang raut wajah yang tersenyum dan dengan spontan berbalik badan menatap ke arah Arthur.
"Anda itu bagaimana Tuan? Jika anda menanyakan hal tersebut tentu saja saya akan menjawabnya dengan banyak jawaban. Ini adalah pertama kalinya saya kembali ke dalam tubuh saya, entu saya harus mulai memikirkan segalanya termasuk kos-kosan saya, baju, pekerjaan dan juga segala hal lainnya yang harus saya lakukan sebagai seorang Aruna bukan sebagai Arthur." ucap Aruna dengan nada yang terdengar cepat, membuat senyuman tipis lantas terlihat jelas dari wajah Arthur saat itu.
"Ternyata kau sudah benar-benar kembali ke mode sekertaris super cerewet dan ceroboh seperti sedia kala rupanya." ucap Arthur dengan senyuman yang tipis.
"Tentu saja Tuan, tapi tunggu sebentar... Apakah saya secerewet itu? Saya rasa tidak terlalu buruk, bukankah begitu Tuan?" ucap Aruna yang seakan tidak terima dengan perkataan Arthur barusan.
"Tentu saja tidak karena hari-hari ku akan menjadi kosong jika tidak mendengar ocehan mu itu." ucap Arthur dengan nada yang santai sambil bangkit dari posisinya dan berlalu meninggalkan Aruna saat ini.
"Apa Tuan..."
Bersambung