Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Sebuah kepercayaan



"Mama" pekiknya yang terkejut ketika mendapati Aruna bersama dengan seseorang yang ia rindukan sejak bertahun-tahun lalu.


Mendapati seseorang yang begitu ia kenal meski telah bertahun-tahun lamanya berpisah, lantas langsung membuat Arthur terdiam di tempatnya dengan seketika. Entah apa yang ia rasakan saat ini, namun yang jelas seketika dunianya berhenti secara mendadak. Seseorang yang begitu ia rindukan dan juga begitu ia benci mendadak muncul dan bersama dengan seseorang yang ia sayangi, bukankah hal tersebut terlalu tiba-tiba baginya?


Arthur yang melihat semuanya hanya bisa terdiam di tempatnya dengan seketika, entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Namun tiba-tiba kakinya membeku dan tidak bisa digerakkan sama sekali, membuat Arthur hanya bisa menatap tanpa bisa mendekat ke arah Alina saat itu.


"Bagaimana bisa Mama dan juga Aruna bersama? Apa mereka saling kenal? Tapi mengapa Aruna tidak pernah menceritakan hal tersebut kepada ku?" ucap Arthur dengan raut wajah yang begitu penasaran akan kedekatan keduanya saat ini.


Beberapa menit berdiam diri di tempatnya, Arthur kemudian mulai terlihat melangkahkan kakinya ketika mendapati mobil yang ditumpangi oleh Alina berlalu pergi meninggalkan Aruna di area depan lobby. Arthur yang sudah tidak lagi bisa menahan rasa penasaran di dalam hatinya, lantas mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah di mana Aruna berada saat itu.


"Apa yang kamu sembunyikan dari ku selama ini sebenarnya?" pekik Arthur sambil menarik tangan Aruna dengan tiba-tiba saat itu.


Jeduar...


Suara petir yang menyambar saat itu, lantas menambah suasana semakin terasa aneh di antara keduanya. Aruna yang ditarik tangannya begitu saja oleh Arthur, tentu saja terkejut bukan main. Entah apalagi yang saat ini tengah dipertanyakan oleh Arthur, tapi yang jelas Aruna sendiri tidak tahu dan tidak mengerti akan hal tersebut.


"Apalagi ini Tuan? Mengapa anda selalu saja mengatakan hal-hal yang sama sekali tidak aku perbuat? Apakah aku selalu saja salah di mata anda?" ucap Aruna dengan raut wajah yang kebingungan.


Satu masalahnya saja belum selesai dan kini Arthur sudah menambahnya dengan yang baru. Bukankah hal tersebut begitu membingungkan? Aruna sendiri tidak tahu di mana arah pembicaraan Arthur saat ini, Arthur tiba-tiba datang dan menarik tangannya begitu saja di sertai dengan kata-kata yang tajam membuat Aruna lantas kebingungan.


Sedangkan Arthur yang mendengar perkataan dari Aruna barusan, lantas menarik napasnya dalam-dalam. Diusapnya raut wajahnya dengan kasar kemudian kembali menatap ke arah Aruna dengan tatapan yang menelisik.


"Aku tanya siapa wanita barusan yang bersama mu? Tentu saja tidak mungkin kamu tidak mengenalnya, bukan?" ucap Arthur kemudian dengan nada yang datar, namun berhasil membuat Aruna mengernyit ketika mendengar pertanyaan tersebut keluar dari mulut Arthur barusan.


Sepertinya Aruna sudah mulai lelah dengan sikap Arthur yang mulai tidak percaya kepadanya. Bukankah sebuah hubungan harus di landasi oleh rasa percaya? Untuk apa sebuah hubungan di lanjutkan tanpa sebuah kepercayaan. Jika untuk kesalahan semalam mungkin Aruna masih bisa menerimanya, yang Aruna lakukan mungkin ia akan mencari bukti untuk membuktikan jika ia tidak bersalah. Namun untuk yang satu ini, bukankah Arthur keterlaluan?


Tadinya Aruna pikir setelah ia mendapati bahwa wanita yang beberapa kali bertemu dengannya adalah Ibu kandung Arthur, lantas membuatnya hendak berlari dan memberitahukan segalanya. Mungkin dengan begitu kemarahan Arthur akan mereda kepadanya. Namun saat ini yang ia dapati malah sebaliknya, jika sudah begini bukankah semuanya sia-sia saja.


"Jangan bercanda Run... Jika kamu tidak mengenalnya, bagaimana bisa kamu datang bersama dengannya? Apa kamu pikir aku bodoh Run?" ucap Arthur yang seakan mengatakan jika ia tidak percaya akan perkataan Aruna barusan.


Aruna yang mendengar semua jawaban yang keluar dari mulut Arthur barusan, lantas tersenyum dengan simpul. Sepertinya kepercayaan Arthur benar-benar telah habis untuknya, bahkan hanya karena hal sepele seperti ini Arthur tidak percaya kepadanya.


"Baik, terserah kepada anda. Andai anda tahu Tuan saya tidak pernah sedikitpun melakukan hal buruk di belakang anda. Untuk masalah semalam saya berani bersumpah jika saya tidak melakukan hal tersebut. Malam itu Fadli datang dan memaksa ku untuk menelan pil yang aku sendiri tidak tahu apa itu. Beberapa menit setelah itu kesadaran ku hilang dan aku tidak mengingat apapun. Paginya aku sudah mendapati diriku tertidur di ranjang, sungguh aku tidak mengingat apapun Tuan. Aku sudah berusaha untuk menjelaskannya kepada anda, namun anda sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskannya. Dan untuk saat ini..." ucap Aruna menjeda kalimatnya membuat Arthur langsung terdiam seketika.


Mendengar hal tersebut lantas membuat Arthur tersadar, tujuan awal Arthur ingin menemui Aruna adalah untuk memperjelas segala situasinya saat itu. Setelah mendengar segala penjelasan dari Faris, Arthur langsung bergegas berlarian dan menyusul Aruna hendak meminta maaf atas sikapnya yang tidak memberikan Aruna kesempatan sama sekali.


Hanya saja sayangnya Ketika Arthur mendapati jika Aruna turun dari mobil yang dikendarai oleh Alina, tentu saja membuat segala permintaan maaf yang tadinya hendak ia katakan kepada Aruna, lantas langsung menghilang dengan seketika dan berganti dengan perasaan yang marah. Arthur menganggap jika Aruna menyembunyikan hal yang begitu penting di belakangnya.


"Dan untuk saat ini, aku sama sekali tidak mengenal wanita itu. Beberapa kali aku bertemu dengannya tapi wanita itu tidak pernah memperkenalkan dirinya kepadaku? Kau tahu Tuan? Manik mata wanita itu selalu saja terlihat sendu ketika bertemu dengan ku, namun ia tidak pernah menjelaskan apapun kepadaku. Pagi ini dia mengajak ku pergi dan mengatakan sesuatu, dia meminta maaf kepadaku atas kesalahannya di masa lalu. Kesalahan karena telah meninggalkan anak-anaknya yang seharusnya sama sekali tidak pernah ia lakukan. Ia begitu menyesal karena kesalahan tersebut membuatnya begitu jauh dengan anda dan juga nona Felia. Dari situ saya menyadari satu hal, jika ternyata dia adalah Ibu anda. Apa anda tahu satu hal lagi yang mengejutkan Tuan? Dia memanggilku dengan nama anda yang itu berarti jika dia tahu bahwa jiwa kita pernah tertukar. Tadinya saya pikir saya akan memberitahukan hal ini kepada anda, namun ternyata malah jadi seperti ini." ucap Aruna pada akhirnya mengeluarkan unek-unek dalam dirinya.


"Aku..." ucap Arthur yang seakan terkejut akan setiap kata yang keluar dari mulut Aruna saat itu.


"Ada apa Tuan? Mengapa anda diam? Apa anda menyesal ketika mendengar semua penjelasan yang keluar dari mulut saya? Saya bahkan berusaha untuk menjelaskan dan meminta sedikit waktu kepada anda agar memberikan saya kesempatan untuk berkata. Tapi anda sama sekali tidak memberikan jeda dan terus memarahi saya, apakah sekarang anda sudah menyesal? Asal anda tahu Tuan, sebuah hubungan dilandasi atas dasar kepercayaan. Jika anda tidak mempercayai saya, bagaimana hubungan kita bisa berlanjut nantinya?" ucap Aruna sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan Arthur menerobos derasnya hujan yang mengguyur Ibukota saat itu.


Bersambung