
"Maria duduk di tempat mu kembali!" ucap Bagas dengan nada penuh peringatan.
"Apa lagi Pa? Aku benar-benar tidak ingin berurusan dengan masalah ini, lagi pula aku bukanlah bagian dari keluarga ini. Jadi untuk apa aku di sini?" ucap Maria dengan nada yang sinis.
Baru setelah mengatakan hal tersebut Maria tetap berlalu pergi begitu saja tanpa mendengarkan perkataan Bagas yang menyuruhnya untuk berhenti. Melihat hal tersebut lantas membuat Bagas ikut bangkit dan menyusul kepergian Maria dari sana dengan langkah kaki yang bergegas.
Keheningan kembali terjadi ketika Bagas meninggalkan area meja makan. Arthur yang merasa sudah tidak ada urusan lagi, lantas langsung bangkit dan mengajak Aruna untuk pulang bersama dengannya.
"Bolehkah aku kamar mandi sebentar?" ucap Aruna dengan nada yang memohon karena ingin membuang hajatnya sebentar.
"Tentu, kamu pergilah ke arah sana lurus dan jalan beberapa langkah ke arah kiri kamu akan menemukan toilet di sana. Aku akan menunggumu di depan, apakah kamu baik-baik saja? Atau mau aku temani?" ucap Arthur kemudian sambil menunjukkan arah kepada Aruna.
"Tidak perlu aku bisa pergi sendiri, tunggu aku sebentar.." ucap Aruna kemudian yang lantas di balas Arthur dengan anggukan kepala.
Setelah keduanya sepakat lantas langsung mulai membawa langkah kaki mereka masing-masing untuk mulai berlalu pergi dari sana. Aruna terlihat pergi ke arah kamar mandi sedangkan Arthur pergi ke arah depan untuk menanti Aruna menyelesaikan urusannya.
Maxim yang melihat satu persatu orang-orang mulai bangkit dari tempat duduknya, lantas ikut bangkit dan berlalu pergi dari sana. Entah apa yang harus Maxim katakan, tapi yang jelas Maxim sama sekali tidak bisa ataupun ingin ikut campur atas segala urusan yang terjadi di keluarga itu. Yang bisa ia lakukan hanya melihat dan menyaksikan segalanya terjadi tepat di hadapannya tanpa bisa protes atau bahkan berpendapat dalam masalah keluarga ini.
"Sepertinya aku sudah tidak di butuhkan lagi di sini, jadi sebaiknya aku permisi.." ucap Maxim yang lantas membuat Felia hanya menoleh ke arahnya dengan sekilas.
Di saat Maxim mulai melangkahkan kakinya berlalu pergi dari area meja makan. Lain halnya dengan Fadli dan juga Felia yang tetap duduk di area meja makan dengan malas. Ditatapnya Fadli saat ini dengan tatapan yang malas, Felia bahkan sudah tidak lagi berniat untuk mengatakan apapun lagi kepada Fadli saat ini, membuat Fadli yang mengetahui hal tersebut lantas menghela napasnya dengan panjang.
"Aku..." ucap Fadli berusaha untuk menjelaskan kepada Felia namun langsung di potong olehnya.
"Bukannya aku sudah mengatakan kepadamu untuk tetap diam dan melanjutkan seperti apa yang sudah aku rencanakan? Jika sudah begini apa yang bisa kita dapatkan? Bahkan hanya untuk memperbanyak harta warisanku saja kau tidak bisa!" ucapan Felia dengan tatapan yang tajam ke arah Fadli saat ini.
"Aku sungguh sama sekali tidak berpikir sampai ke arah sana, yang ada di pikiranku hanya mempertanggungjawabkan segala perbuatanku dan mencegah mu untuk tidak melakukan hal tersebut. Bukankah seharusnya kamu punya sedikit hati nurani kepada anak ini?" ucap Fadli dengan nada yang lebih yang lembut kepada Felia, namun Felia yang mendengar hal tersebut malah memutar bola matanya dengan jengah.
"Jangan bersikap sok pahlawan atau bahkan sok simpati akan anak ini, aku jelas tahu apa yang kau lakukan selama ini di belakangku. Antara aku dan dirimu hanya terisi dengan main-main saja, aku sama sekali tidak pernah menganggapnya serius jadi aku meminta kepada mu untuk stop dan berpura-pura baik terhadapku. Kau pikir aku gadis yang bodoh? Tentu saja tidak! Lagi pula anak ini pasti akan menyusahkan nantinya.." ucap Felisa yang tentu saja langsung membuat Fadli terkejut begitu mendengarnya.
"Kau selama ini sudah tahu? Lalu mengapa kau pura-pura bersikap polos di depanku? "ucap Fadli kemudian yang tentu saja langsung membuat Felia menatap ke arahnya dengan tatapan yang sinis.
"Ayolah... Aku juga butuh hiburan, sekali-kali bermain dengan seorang lelaki yang mirip gigolo sepertimu.. Bukankah itu sangat menyenangkan? Hanya saja bodohnya aku sama sekali tidak menyadari jika kau sengaja melakukan penanaman kepada rahim ku agar aku membuahkan anakmu yang sialan itu!" ucap Felia dengan tatapan yang malas sambil mulai bangkit dari tempat duduknya.
"Bagaimana kau bisa mengatakan hal tersebut? Bukankah apa yang kita lakukan sebelumnya benar-benar di dasari atas dasar suka sama suka? Perkataanmu barusan benar-benar terlalu kejam, aku bahkan tidak memanfaatkan mu sama sekali." ucap Fadli dengan nada yang mulai kesal akan perkataan Felia yang terus saja menyudutkannya dan menganggap remeh dirinya.
"Cih aku benar-benar tidak percaya jika kamu tidak memanfaatkan ku, bukankah semua orang begitu tergila-gila akan harta milik keluarga besar Gavanza? Jangan mengira aku terlalu bodoh hingga tidak mengetahui apa maksud dan niatan mu sebenarnya." ucap Felia kemudian sebelum pada akhirnya berlalu pergi begitu saja meninggalkan Fadli seorang diri di area meja makan.
Fadli yang melihat kepergian Felia dari sana hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang kesal, entah mengapa ia begitu menganggap remeh Felia sehingga tidak terlalu memikirkan apa yang akan terjadi hari ini kepadanya.
"Benar-benar sial, mengapa semuanya jadi begini? Ini semua gara-gara gadis itu, bagaimana bisa dia tiba-tiba muncul dan mengacaukan segala rencana ku? "ucap Fadli dengan tatapan yang kesal menatap ke arah kamar mandi ketika baru teringat jika Aruna sedang berada di kamar mandi saat ini.
**
Area kamar mandi
Aruna yang baru saja menyelesaikan hajatnya, lantas langsung terlihat mencuci tangannya di area wastafel sambil bercermin dan membenarkan beberapa helai rambutnya yang terlihat sedikit berantakan.
Setelah menyelesaikan urusannya Aruna mulai kemudian mulai melangkahkan kakinya keluar dari area kamar mandi bersiap untuk menyusul ke arah di mana Arthur berada saat ini dan pulang kembali ke Apartemennya.
Hanya saja ketika langkah kaki Aruna baru saja sampai keluar area kamar mandi, sebuah tarikan tangan yang tiba-tiba membawanya hingga ke sudut area tembok kamar mandi, lantas langsung membuat Aruna terkejut dengan seketika.
"Aw"
Bersambung