Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Sebuah ciuman



Di sebuah gubuk yang terletak agak ke pinggir dari posisi pohon besar yang ada di sana, terlihat Aruna dan juga Arthur nampak terduduk di sana dengan raut wajah yang aneh. Sedangkan di hadapan keduanya seorang wanita dengan mengenakan tudung di kepalanya disertai eyeliner berwarna hitam gelap di area matanya, membuat Arthur yang melihat penampilan wanita itu lantas langsung menelan salivanya dengan kasar.


Melihat hal tersebut Arthur kemudian mulai mendekatkan tubuhnya ke arah Aruna dan membisikkannya sesuatu.


"Tuan... Apa yang akan kita lakukan di sini? Bukankah wanita itu terlihat aneh?" ucap Arthur dengan nada yang berbisik.


Brak...


Suara yang keras terdengar menggema di telinga Aruna dan juga Arthur. Arthur bahkan benar-benar terkejut akan suara tersebut, sepertinya wanita itu mendengar pembicaraan dari Arthur barusan sehingga nampak begitu marah dan menatap tajam ke arah Arthur saat ini. Arthur yang mengetahui akan hal tersebut lantas langsung terdiam dan tak mengatakan sepatah kata apapun lagi, membuat Aruna yang mengetahui hal itu lantas langsung tersenyum dengan tipis, raut wajah terkejut Arthur benar-benar sangat lucu.


"M...maaf..." ucap Arthur kemudian.


Mendengar permintaan maaf tersebut lantas membuat wanita itu menghela napasnya dengan panjang.


"Panggil saya madam Lili, saya tahu alasan kalian datang ke sini, lalu apa yang ingin kalian ketahui sekarang?" ucap wanita tersebut yang lantas membuat Arthur kembali menelan salivanya dengan kasar begitu mendengar hal tersebut.


"Saya ingin mengetahui alasan tentang mengapa jiwa kami tertukar? Dan mengapa kami berhasil kembali ke raga kami masing-masing namun hanya dalam waktu semalam saja?" ucap Aruna kemudian secara langsung.


Mendengar hal tersebut membuat Arthur langsung melongo dengan seketika. Bukankah kemarin Aruna mengatakan tidak mempercayai dukun? Lalu apa sekarang? Mengapa mendadak Aruna malah percaya dengan begituan? Arthur bahkan sampai menatap tak percaya ke arah Aruna ketika mendengar perkataan yang keluar dari mulut Aruna baru saja.


Mendapat pertanyaan tersebut lantas membuat Lili mengambil beberapa bunga melati dan langsung memakannya begitu saja sambil membaca sebuah mantra yang sama sekali tidak diketahui oleh Aruna maupun Arthur. Beberapa detik kemudian langsung melotot sambil menyemburkan remahan bunga yang tadi ia makan tepat ke arah Aruna dan juga Arthur, membuat keduanya langsung terkejut dengan seketika.


"Hahaha jiwa kalian yang bertukar adalah sebuah takdir dan juga pelajaran hidup dari Sang Pencipta, Kamu yang sombong dan kamu yang terlalu sering mengeluh akan kehidupan mu, membuat Dia lantas membuat jiwa kalian bertukar agar bisa saling merasakan kehidupan kalian masing-masing." ucap Lili sambil melotot tajam ke arah Aruna dan juga Arthur.


Mendengar perkataan dari Lili barusan tentu saja membuat Aruna kesal bukan main. Aruna bahkan hendak memarahi Lili saat itu juga, namun karena Arthur yang menahan tangannya saat itu lantas langsung membuat Aruna menarik napasnya dalam-dalam seakan mencoba untuk menenangkan dirinya.


"Jika memang seperti itu, lalu mengapa kami bisa kembali ke raga kami namun hanya sebentar saja?" ucap Arthur kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


Mendapat pertanyaan tersebut lantas membuat seulas senyum terlihat terbit dari wajah Lili saat itu juga.


"Sebuah rasa, di saat bulan purnama penuh jika kalian menaruh rasa pada ciuman kalian dan menyadari kesalahan antara satu sama lain maka kalian akan kembali ke tubuh kalian masing-masing." ucap Lili dengan senyum yang mengembang sambil menaik turunkan alisnya, membuat keduanya langsung bergidik ngeri ketika mendengarnya.


"Apa?" pekik Aruna dan juga Arthur secara bersamaan.


***


Sementara itu di sebuah hotel berbintang yang terletak di Ibukota, terlihat Felia dan juga Fadli tengah melakukan olahraga panas di tengah cuaca siang hari yang begitu panas dan juga terang. Keduanya sama-sama menikmati setiap hal yang keduanya lakukan saat itu. Sampai kemudian ketika entah yang kesekian kalinya Felia dan juga Fadli melakukan ronde olahraga mereka, membuat Fadli dan juga Felia terlihat berbalik dengan posisi yang berjajar di sana.


"Apakah aku bisa membeli saham di perusahaan induk? Aku sungguh ingin bergabung dengan keluarga mu, Papa mu pasti akan sangat suka." ucap Fadli kemudian yang lantas membuat raut wajah Felia berubah dengan seketika.


Felia bukannya tidak mau memberikan sahamnya untuk Fadli, hanya saja keadaan perusahaan yang sudah kacau dengan perginya Arthur beberapa waktu ini lantas membuat hal tersebut sama sekali tidak memungkinkan.


"Jangan sekarang ya? Mungkin nanti, situasinya tengah buruk belakangan ini." ucap Felia kemudian dengan raut wajah yang merasa bersalah karena tidak bisa mewujudkan keinginan dari Fadli.


Sedangkan Fadli yang tak mendapatkan sesuatu sesuai dengan keinginannya, lantas langsung menggeser tubuh Felia agar sedikit menjauh darinya kemudian mulai bangkit dari tempat tidurnya. Fadli terdiam di tempatnya sambil menatap lurus ke arah depan seakan kecewa akan keputusan Felia barusan, membuat Felia yang melihat hal tersebut lantas ikut bangkit dan langsung memeluk tubuh Fadli dari arah belakang.


"Aku minta maaf ya... Aku janji setelah semuanya lebih reda aku akan memberikan saham milik ku kepadamu." ucap Felia mencoba untuk membujuk Fadli agar tidak marah lagi.


Mendengar bujukan Felia barusan lantas membuat Fadli menghela napasnya dengan panjang.


"Janji..." ucap Fadli kemudian.


Felia yang mendengar perkataan tersebut kemudian langsung mencium pipi Fadli dengan lembut.


"Tentu saja sayang." ucap Felia sambil kembali memeluk tubuh Fadli dengan erat.


***


Sementara itu setelah Aruna dan juga Arthur keluar dari rumah Lili, keduanya lantas melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang gontai menuju ke arah mobil milik *Arthur yang terparkir tak jauh dari pohon besar tersebut. Pikiran keduanya melayang entah kemana memikirkan segala hal yang tadi diucapkan dengan jelas oleh Lili, keduanya seakan percaya dan tidak percaya namun hal tersebut benar-benar terjadi, membuat helaan napas lantas terdengar berhembus dengan kasar dari mulut keduanya.


Keduanya yang saling menghela napas mereka secara bersamaan, membuat Aruna dan juga Arthur saling pandang antara satu sama lainnya.


"Apa yang kau risaukan?" tanya Aruna kemudian ketika melihat rau wajah gelisah dari Arthur barusan.


"Entahlah Tuan saya juga tidak tahu, lalu bagaimana dengan anda?" tanya Arthur yang juga penasaran akan helaan napas yang berasal dari mulut Aruna barusan.


"Aku pun juga tidak tahu akan hal itu." ucap Aruna kemudian.


"Apa kita akan benar-benar melakukan ciuman tersebut?" ucap Arthur kemudian.


Bersambung