
Dapur
Setelah menata setiap jenis masakan di piring saji, Aruna kemudian mulai meletakkan satu persatu piring ke atas meja makan. Ditatapnya satu persatu piring yang berisi makanan begitu enak dan tentu saja lezat dengan seulas senyum yang mengembang di wajahnya.
"Semoga saja Aruna suka dengan makanan ini..." ucap Aruna sambil tersenyum simpul menatap ke arah meja makan.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya tentang urusan makanan, Aruna yang tak kunjung melihat Arthur kembali juga lantas mulai menatap ke arah pintu kamarnya. Aruna benar-benar penasaran akan apa yang sedang dilakukan oleh Arthur di dalam sana hingga begitu lama, padahal hanya untuk melihat sebuah hadia untuknya.
Aruna yang penasaran akan Arthur yang tak kunjung kembali juga sedari tadi, pada akhirnya memutuskan untuk menyusul keberadaan Arthur di kamar. Sambil melangkahkan kakinya secara perlahan Aruna kemudian mulai berjalan menuju ke arah kamarnya.
**
Kamar *Arthur
Aruna terlihat menghentikan langkah kakinya sejenak ketika ia berada tepat di depan pintu kamarnya. Diketuknya perlahan pintu kamar tersebut karena takut jika Arthur sedang berganti pakaian atau melakukan sesuatu hal lainnya yang bersifat privasi. Aruna yang tak kunjung mendapati jawaban dari Arthur tentu saja langsung kebingungan dan memutuskan untuk mulai memutar handel pintu kamar tersebut.
"Bagaimana? Apakah kamu suka hadiahnya?" ucap Aruna kemudian sambil membuka pintu kamar tersebut.
Seulas senyum yang semula terbit dari wajah Aruna lantas perlahan-lahan mulai berubah dengan raut wajah yang penuh kebingungan. Aruna kemudian terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Arthur berada yang saat ini terlihat tengah duduk sambil termenung menatap ke arah hadiah pemberiannya.
"Apa ada sesuatu Run?" tanya Aruna kemudian yang lantas membuyarkan lamunan Arthur saat itu.
Mendapat pertanyaan tersebut tentu saja langsung membuat Arthur menatap ke arah sumber suara, Arthur bahkan benar-benar tidak menyadari akan kehadiran Aruna di sana. Melihat kedatangan Aruna yang tiba-tiba membuat Arthur lantas memasang raut wajah yang cemberut, membuat Aruna menjadi bertanya-tanya akan ekspresi raut wajah Arthur saat ini.
"Apa Tuan sedang mengejek ku saat ini? Tuan bahkan tahu jika tubuh kita masih tertukar namun Tuan malah memberikan ku hadiah seperti ini, bukankah hadiah ini harusnya bukan untuk saya melainkan untuk anda Tuan?" ucap Arthur kemudian.
Aruna yang tadinya tidak mengerti akan ekspresi yang ditunjukkan oleh Arthur barusan, lantas menghela napasnya dengan panjang begitu mengetahui alasan dari Arthur yang memasang raut wajah cemberut.
"Ah maksudmu tentang dress itu?" ucap Aruna kemudian dengan senyum yang tipis terlihat di wajah cantiknya.
"Aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu bersedih karena memberikanmu sebuah dress yang tentu tidak akan muat jika dipakai di tubuhku. Aku memberikanmu hadiah tersebut yaitu dengan maksud agar kamu semangat untuk bisa kembali ke tubuh kita masing-masing. Apakah kamu sama sekali tidak menginginkannya? Bukankah akan sangat menyenangkan jika kita bisa kembali ke tubuh kita masing-masing?" ucap Aruna kemudian sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Arthur berada dan mengambil duduk tepat di sebelahnya.
"Yang jadi masalahnya adalah tidak semudah itu kita kembali ke dalam tubuh kita masing-masing Tuan, semua membutuhkan perasaan dan aku rasa kita berdua tidak memilikinya sama sekali." ucap Arthur kemudian dengan raut wajah yang sendu.
"Kita bisa melakukannya dan aku yakin akan hal itu." ucap Aruna dengan nada yang begitu terdengar yakin.
Sebuah gerakan yang sama sekali tidak pernah Arthur duga sebelumnya mendadak Aruna lakukan dan tentu saja langsung menghentikan perkataan Arthur dengan seketika. Sebuah ciuman mendarat begitu saja di bibir Arthur menyisakan sebuah rasa yang mendadak menggetarkan hati Arthur saat itu. Arthur menutup matanya karena merasa takut akan hal ini, membuat Aruna yang menyadari hal tersebut lantas langsung memegang tengkuk Arthur dengan perlahan dan menempatkannya semakin masuk ke dalam permainan Aruna saat itu.
Arthur benar-benar terbawa dalam permainan yang begitu cantik dan menggairahkan, sampai tanpa sadar mulai membuka mulutnya dan memberikan jalan kepada Aruna untuk mengeksplore bagian dalam mulutnya. Aruna tersenyum dengan tipis di saat merasakan hal tersebut, membuat Aruna yang mendapat sambutan dengan sukarela tentu saja tidak lagi sungkan dan malu untuk lebih menambah permainannya.
Ketika tautan di antara keduanya terasa semakin dalam dan juga memanas sebuah percikan yang entah berasal dari mana mendadak keduanya rasakan. Dalam sepersekian detik tubuh Aruna dan juga Arthur merasa seperti tersengat listrik hingga membuat keduanya langsung melepas kedua tautan mereka antara satu sama lainnya.
"Apa yang terjadi?" ucap *Aruna namun terkejut dan langsung menutup mulutnya dengan rapat ketika mendengar suaranya kembali berubah menjadi suara wanita seperti sedia kala.
***
Kediaman Gavanza
Di area ruang keluarga terlihat Felia tengah berdiri tepat di dekat Bagas, yang saat itu tengah sibuk menikmati waktu sorenya dengan bersantai membaca sebuah koran sambil meminum secangkir kopi favoritnya. Felia benar-benar tidak tahu bagaimana untuk memulai obrolan diantara keduanya, membuat Felia hanya berdiri diam ditempatnya tanpa berani untuk mendekat ke arah Bagas saat ini.
"Apa yang harus aku katakan untuk memulai pembicaraan ini, sepertinya Papa tidak terlalu menyukai tentang orang baru di hidup ku." ucap Felia dalam hati seakan bertanya-tanya pada diri sendiri.
Tanpa Felia sadari Bagas yang sedari tadi sibuk membaca koran nyatanya menyadari akan kehadiran Felia di dekatnya, membuat Bagas lantas mulai melipat koran yang ia baca dan meletakkannya di samping.
Bagas mengambil secangkir gelas yang berisi kopi kemudian meminumnya secara perlahan lalu tersenyum seakan tahu jika Felia tengah bimbang saat ini.
"Apa kamu akan terus berdiri seharian penuh di sana Fel?" ucap Bagas pada akhirnya membuat Felia terkejut seketika disaat mendengar perkataan Bagas barusan yang langsung membuyarkan lamunannya.
"Emm apa Papa menyadari kehadiran ku sedari tadi?" ucap Felia kemudian memberanikan diri bertanya sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Bagas berada saat ini.
Felia mendudukkan dirinya tepat di sebelah Bagas kemudian menatapnya dengan tatapan yang menelisik, membuat Bagas yang menyadari akan tatapan itu lantas membuatnya langsung meletakkan cangkir tersebut ke tempatnya.
"Aku tahu mungkin ini agak sedikit mengejutkan tapi aku rasa ini juga saat yang tepat untuk mengatakannya kepada Papa. Bolehkah aku...." ucap Felia namun terhenti seketika karena Bagas yang tiba-tiba memotong pembicaraannya begitu saja.
"Putuskan dia karena Papa tidak menyukainya!" ucap Bagas kemudian yang langsung membuat manik mata Felia membulat seketika.
"Apa yang Papa katakan barusan?" ucap Felia dengan raut wajah yang terkejut setelah mendengar perkataan dari Bagas bahkan sebelum Felia mengatakannya sekalipun.
Bersambung