Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Sebuah keputusan



Malam harinya


Arthur yang tidak tahu harus bagaimana dan dengan cara apa mengatakannya kepada Bagas, lantas sengaja kembali ke kediaman Gavanza tepat tengah malam berharap dengan begitu Bagas sudah tertidur dan tidak lagi mencari dirinya.


Arthur terlihat melangkahkan kakinya mondar-mandir di area ruang keluarga sekaligus mengulur waktu dan berharap Bagas tidak lagi mencarinya. Hanya saja ketika Arthur baru saja hendak mendudukkan pantatnya ke sofa ruang keluarga, sebuah panggilan seseorang yang menyebut namanya lantas mengurungkan niat Arthur yang hendak duduk di sana.


"Tuan muda Arthur anda di tunggu tuan besar di ruangannya." ucap sebuah suara yang berasal dari Arkan membuat Arthur lantas terkejut karena tadinya ia mengira bahwa Bagas sudah terlelap dalam tidurnya.


"Papa? Apa Papa masih belum tidur sampai sekarang?" ucap Arthur yang menatap tak percaya ke arah Arka ketika mendengar bahwa Bagas tengah mencarinya.


"Belum tuan muda, silahkan anda sudah di tunggu sedari tadi..." ucap Arka kemudian sambil menunjuk ke arah ruangan Bagas.


Melihat hal tersebut membuat Arthur lantas menghela napasnya dengan panjang. Rencananya untuk kembali tengah malam dan berharap Bagas tidur ketika ia sampai di Rumah malah berakhir gagal total. Pada akhirnya membuat Arthur mau tidak mau lantas menemui Bagas dan bersiap untuk mendapat sidang keputusan dari yang mulia hakim penguasa tertinggi rumah ini (Sepertinya pengibaratan ini terlalu berlebihan 🤔).


***


Ruang kerja Bagas


Dari arah pintu masuk terdengar suara pintu di ketuk selama beberapa kali, baru setelah itu terlihat Arthur tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah kursi kebesaran Bagas dengan langkah kaki yang perlahan dan raut wajah yang berusaha sebisa mungkin terlihat datar agar Bagas tidak curiga akan perubahan kepribadian Arthur beberapa waktu yang lalu tepatnya setelah kecelakaan tersebut terjadi.


Bagas yang melihat Arthur melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya, lantas terlihat bangkit dari kursi kebesarannya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Arthur berada sambil mengambil posisi bersendekap dada.


"Papa ingin kamu putus dengan wanita itu!" ucap Bagas kemudian membuka pembicaraan.


Mendengar perkataan Bagas yang tiba-tiba itu lantas membuat Arthur terkejut seketika. Arthur bahkan belum mengatakan niatannya untuk menikahi Aruna tapi Bagas sudah lebih dahulu menyuruhnya untuk putus dengannya.


"Pa.. Papa tidak bisa begitu aku.." ucap Arthur namun terpotong dengan perkataan Bagas yang menebaknya dengan tepat.


"Kamu ingin menikahinya? Itu sudah basi Ar... Perempuan seperti mereka hanya menginginkan harta kita saja. Masalah bayi biarkan dia sampai melahirkan baru nanti kita akan memikirkan langkah selanjutnya." ucap Bagas dengan nada yang datar membuat Arthur terkejut seketika disaat mendengar perkataan dari Bagas barusan.


Arthur benar-benar tidak menyangka bahwa Bagas dapat dengan mudah menebak pemikirannya saat ini. Arthur terdiam sejenak di tempatnya seakan mencoba untuk merenungi setiap perkataan yang keluar dari mulut Bagas barusan. Hanya saja entah mengapa perkataan Bagas barusan terdengar begitu menyakitkan bagi Arthur saat ini.


Arthur menghela napasnya dengan panjang seakan mencoba untuk mengkondisikan hatinya yang saat ini tengah bergejolak.


"Aku minta maaf Pa... keputusan ku untuk menikahi Aruna sudah bulat dan aku harap Papa bisa mengerti." ucap Arthur pada akhirnya seakan membulatkan tekad untuk mengatakan hal tersebut.


"Pantas saja sikap mu berubah beberapa waktu ini ternyata hanya karena wanita kampung yang saat ini tengah mengandung bayi mu rupanya!" ucap Bagas dengan nada yang menyindir membuat Arthur langsung terkejut seketika disaat mendengar perkataan Bagas barusan.


"Berubah atau tidaknya itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya Pa, aku harap Papa merestui pernikahan ku..." ucap Arthur setelah itu bergegas melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu karena takut ia akan hilang kendali dan semakin memperburuk suasana.


Namun ketika langkah kaki Arthur berada tepat di ambang pintu sebuah suara yang berasal dari Bagas lantas menghentikan langkah kakinya dengan seketika sambil langsung berbalik badan menatap ke arah dimana Bagas berada.


"Apa kau yakin akan tetap menikahinya walau nama mu sebagai ahli waris akan di coret sepenuhnya?" ucap Bagas kemudian dengan nada yang datar membuat Arthur langsung menelan salivanya dengan kasar ketika mendapat pertanyaan tersebut.


Arthur memejamkan matanya sebentar seakan mencoba mengambil keputusan terbaik dari pertanyaan tersebut. Hanya saja ketika kata-kata Bagas dan juga beberapa saudara Arthur yang begitu menyakiti hatinya, lantas membuat Arthur kemudian memutuskan bahwa ia akan tetap melanjutkan langkah kakinya.


"Tentu Pa, jika itu adalah keputusan terbaik yang telah dipertimbangkan oleh Papa.. Saya permisi..." ucap Arthur kemudian sambil kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Bagas seorang diri di ruangannya.


Bagas yang melihat kepergian Arthur dari ruangannya lantas menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Seulas senyuman tipis lantas terlihat terbit dari wajah Bagas ketika menatap kepergian putranya tersebut.


"Dasar bocah ingusan!" ucap Bagas dengan tersenyum tipis sambil mengambil sebuah foto wanita cantik dengan riasan yang tipis namun terlihat begitu menawan.


"Lihatlah Alina, putra mu itu ingin mengikuti jejak langkah ku di masa muda... Aku hanya takut jika ia akan mengalami sesuatu seperti yang aku alami nantinya jika tetap teguh pada pendiriannya. Bagaimana menurut mu?" ucap Bagas pada diri sendiri sambil terus menatap ke arah foto tersebut dengan tatapan yang sendu.


**


Sementara itu Arthur yang baru saja sampai di parkiran Apartment lantas terlihat menyandarkan kepalanya pada setir mobil dengan raut wajah yang frustasi. Kebodohan *Aruna yang mendarah daging mengantarkannya menuntun *Arthur menuju ke arah gelandangan. Arthur bahkan terlihat merutuki kebodohannya selama beberapa kali karena menyesal telah mengiyakan perkataan dari Bagas tadi padahal ia sama sekali belum meminta pendapat dari Aruna ketika mengatakannya tadi.


"Oh Arunaaaa mengapa kamu bodoh sekali..." pekiknya dengan nada yang kesal sambil tetap pada posisinya seakan tidak ingin beranjak sama sekali.


Sampai kemudian disaat Arthur tengah sibuk merutuki kebodohannya sambil menenggelamkan kepalanya pada setir mobil, sebuah suara ketukan kaca mobil yang berasal dari luar. Betapa terkejutnya Arthur ketika ia mendongak dan hendak melihat siapa yang mengetuk kaca mobilnya, dimana ternyata itu adalah Aruna yang saat ini nampak habis olahraga malam berkeliling taman Apartment.


"Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Aruna kemudian dengan menatap penuh tanda tanya ke arah Arthur yang tak kunjung turun dari mobilnya sedari tadi.


"Tuan..." ucap Arthur dengan nada yang lirih sambil menatap ke arah Aruna dnegan raut wajah yang tidak bisa diartikan sama sekali.


Bersambung