Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Tidak ada lain kali



Rumah sakit


Sesuai janjinya kemarin kepada Bagas ketika makan malam berlangsung, Felia terlihat melangkahkan kakinya dengan langkah kaki perlahan menuju ke arah sebuah ruang perawatan VIP tempat di mana Arthur dirawat saat ini. Dengan langkah kaki yang perlahan Felia terlihat berjalan dengan angkuhnya menyusuri area koridor Rumah sakit menuju ruang perawatan Arthur. Sebenarnya kedatangan Felia ke Rumah sakit ini bukanlah untuk menjenguk Arthur melainkan memastikan keadaan Arthur apakah saat ini baik-baik saja atau tidak.


Felia tidak terlalu peduli akan keadaan Arthur saat ini, ia malah senang jika Arthur terus sakit dan tidak bisa memimpin perusahaan karena dengan begitu maka perusahaan tentu saja akan langsung jatuh ke tangannya dengan mudah tanpa perlu Felia bersusah payah lagi untuk merebutnya. Sampai kemudian langkah kaki Felia yang tadinya hendak membuka pintu ruang perawatan Arthur, mendadak terhenti seketika disaat ia mendengar percakapan dari dalam ruangan perawatan Arthur tersebut.


"Baik tuan saya pastikan semua akan berjalan sesuai dengan keinginan anda." ucap Faris dengan nada yang yakin ketika mendengar perintah dari *Arthur barusan.


Ucapan dari seseorang yang terdengar mencurigakan di telinga Felia, membuat Felia lantas langsung dengan buru-buru membuka pintu ruang perawatan Arthur dengan tergesa-gesa kemudian memasang senyuman dengan kepura-puraan. Seakan mencoba untuk terlihat senatural mungkin ketika ia masuk dan menyela diantara ketiganya.


"Apanya yang berjalan sesuai perintahnya? Apa aku ketinggalan sesuatu yang penting?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Arthur, Aruna dan juga Faris dengan spontan menoleh ke arah sumber suara.


*Arthur yang melihat kedatangan Felia masuk ke dalam ruang perawatannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu langsung terdiam seketika seakan tengah memikirkan sesuatu. Sedangkan *Aruna yang juga melihat kedatangan seorang perempuan dengan wajah yang asing menetap ke arah ketiganya, lantas langsung terdiam seketika sambil bertanya-tanya siapa wanita tersebut. Pikirannya kini bahkan tengah melalang buana entah ke mana, ia benar-benar takut akan kedatangan wanita itu yang tiba-tiba. *Aruna takut jika ia salah dalam mengambil langkah dan malah mengacaukan segalanya.


Hingga kemudian ketika sebuah suara yang tiba-tiba membisikkan sesuatu ke telinganya, lantas membuat *Aruna terdiam seketika dan mendengarkan suara bisikan tersebut dengan hati-hati dan membuka telinganya dengan lebar.


"Dia adalah Felia Jasmine Gavanza kakak pertama dari tuan Arthur, sikapnya yang cerewet dan juga melodramatis membuat semua orang mudah tertipu olehnya, Aku harap kamu bisa menanganinya dan hati-hati dengan ucapannya karena ia adalah ular yang berbisa." ucap Faris memberitahu *Aruna informasi singkat tentang seorang wanita yang ternyata adalah Felia kakak kandung Arthur.


Jiwa *Aruna yang berada di dalam tubuh Arthur lantas mengangguk dengan perlahan ketika menerima informasi dari Faris barusan, sambil terus mengingat-ingat dan mencerna informasi yang baru saja ia dapatkan. *Aruna lantas menatap ke arah Felia yang langkah kakinya kian terlihat semakin mendekat ke arahnya dengan memasang senyum yang terus mengembang diwajahnya.


"Ada apa dengan ekspresi wajah kalian yang seperti itu? Apakah aku seperti hantu? Tunggu sebentar... Bukankah kau masih sakit mengapa sudah memakai setelan jas kerja?" tanya Felia dengan raut wajah yang penasaran.


Mendapat pertanyaan tersebut, *Aruna tentu saja langsung mati kutu. Entah apa yang akan ia jawab untuk pertanyaan dari Felia barusan, membuat *Arthur yang sedang berada dalam raga Aruna lantas hanya bisa menghela napasnya dengan kasar ketika melihat kelakuan *Aruna yang hanya diam saja seperti itu tanpa menanggapi pertanyaan dari Felia barusan.


"Dia benar-benar bodoh atau oon sih? Jika terus begini, bagaimana ia bisa menjadi seorang Arthur dengan lancar?" ucap *Arthur dalam hati sambil terus melihat interaksi yang terjadi diantara keduanya.


Jiwa *Arthur yang masuk ke dalam tubuh Aruna, lantas melangkahkan kakinya mendekat tepat di sebelah Arthur kemudian langsung menyenggol lengan Arthur dengan sengaja, membuat jiwa *Aruna lantas langsung dengan spontan berdehem untuk memecah suasana di ruang perawatan tersebut.


"Tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Lagi pula perusahaan sudah lama tidak ada yang mengurus jadi sudah seharusnya aku kembali ke kantor saat ini juga, bukan? ucap Arthur kemudian dengan nada yang datar, membuat tangan Felia langsung mengepal dengan erat seketika di saat mendengar perkataan dari adiknya barusan.


Ada sedikit perasaan kesal dalam diri Felia ketika mendengar jawaban dari Arthur yang menyangkut tentang perusahaan, ia bahkan berharap dengan kecelakaan adiknya kemarin dapat memudahkannya menyingkirkan Arthur dan membuat Felia masuk ke dalam perusahaan inti. Namun sayangnya semua itu hanya sia-sia dan hanya menjadi angannya semata tanpa bisa tercapai sedikitpun juga, nyatanya Arthur kembali sembuh dan dapat memimpin perusahaan kembali seperti sedia kala.


"Benar-benar sialan!" ucap Felia dalam hati sambil menatap tak suka ke arah Arthur saat ini.


Jiwa *Arthur yang tahu suasana kian menjadi tidak enak, lantas langsung melangkahkan kembali kakinya sedikit lebih mendekat lagi ke arah Arthur dan juga Felia.


"Maaf menyala pembicaraan anda, mohon maaf sebelumnya tuan Arthur akan ada pertemuan 5 menit lagi jadi saya harap tuan Arthur agar bisa segera menuju ke kantor saat ini juga." ucap Aruna dengan nada yang penuh penekanan namun masih terdengar lebih halus sambil mendorong punggung Arthur agar segera melangkahkan kakinya pergi dari sana.


"Oh iya meeting, aku sampai melupakannya. Ayo kita pergi... Maaf ya kak aku ada urusan, terima kasih atas kedatangannya." ucap Arthur dengan nada yang datar kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Felia disusul dengan Aruna dan juga Faris dibelakangnya.


Sedangkan Felia yang melihat kepergian Arthur dari sana tentu saja langsung berbalik badan dan mengikuti arah kepergian Arthur yang kian menjauh dari tatapannya, Felia benar-benar tidak mengerti. Bagaimana mungkin Arthur bisa selamat dari kecelakaan itu, padahal mobil bagian depan Arthur ringsek. Bukankah jika dalam keadaan seperti itu harusnya pengemudi sudah tewas di tempat?


Felia lantas berdecak dengan kesal ketika punggung Arthur tidak lagi terlihat pada kedua bola matanya. Sambil mengambil posisi bersendekap dada Felia lantas memutar bola matanya dengan jengah.


"Baiklah jika kali ini kamu selamat, aku yakin tidak ada lain kali bagimu Arthur." ucap Felia dengan nada yang ketus sambil menatap ke arah pintu keluar ruang perawatan VIP tersebut.


Bersambung