
Sementara itu Aruna yang pada akhirnya bisa melihat Arthur tidur dengan tenang setelah hampir semalaman menangis tanpa henti, pada akhirnya membuat Aruna memutuskan untuk mendatangi unit Apartment Pandu.
Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, namun Aruna yakin jika Pandu telah mengetahui segalanya tentang ia dan juga *Aruna. Mengingat ekspresi raut wajah yang ditunjukkan Pandu semalam tepat ketika Arthur berteriak histeris karena melihat cap cake yang ia bawa. Bukankah bertemu dengan Pandu sekarang atau nanti akan sama saja? Lagi pula Pria bejat sepertinya terkadang memang harus di beri pelajaran.
Saat ini Aruna sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya, apa yang dilakukan oleh Pandu benar-benar telah keterlaluan dan membuatnya begitu geram. Apalagi jika Aruna mengingat bagaimana Arthur menangis semalam sambil menggenggam tangannya dengan erat, benar-benar membuat hatinya begitu hancur.
**
Aruna yang telah memastikan jika Arthur telah beristirahat saat ini, lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang bergegas keluar dari unit Apartemennya kemudian berhenti tepat di unit Apartemen milik Pandu saat itu.
"Apapun yang terjadi aku harus memberi Pria itu pelajaran! Apa yang dilakukan olehnya benar-benar sudah keterlaluan." ucap Aruna dengan raut wajah yang memerah menahan amarahnya.
Dok dok dok
Suara pintu yang di gedor cukup keras lantas terdengar menggema di unit Apartment Pandu pagi itu. Aruna benar-benar tidak lagi mempunyai kesabaran saat ini, sehingga sedari tadi terus menggedor pintu unit Apartment Pandu tanpa jeda.
Sampai kemudian ketika pintu unit Apartment Pandu mulai terlihat terbuka, Aruna mendadak langsung mendorong tubuh Pandu dengan keras masuk ke dalam, membuat tubuh Pandu lantas terhuyung hingga mundur beberapa langkah dari tempatnya.
"Ada apa ini?" tanya Pandu dengan raut wajah yang kebingungan.
Namun Aruna sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Pandu barusan dan tanpa aba-aba Aruna langsung memukul dengan keras bagian perut Pandu baru setelah itu area pipi sebelah kirinya. Membuat Pandu yang mendapat serangan secara mendadak lantas langsung terkejut seketika di tempatnya.
"Apa yang kau lakukan ha?" ucap Pandu dengan nada yang kesal.
Meski tubuh Aruna kecil tapi pukulannya masih terasa menyakitkan bagi Pandu. Pandu bahkan terkejut ketika membuka pintu dan mendapati Aruna langsung melayangkan serangan kepada dirinya.
"Itu untuk tingkah mu yang seperti hewan dan ini untuk kau yang selalu saja tak tahu diri!" ucap Aruna sambil kembali melayangkan tendangan pada perut Pandu.
Apa yang dilakukan Aruna benar-benar mengejutkan bahkan hingga membuat Pandu berguling beberapa kali karena menahan rasa sakit akibat pukulan Aruna yang mengenai uluh hatinya.
"Aku bahkan tidak melakukan apapun kepadamu, tapi kau malah seenaknya melakukan ini kepadaku. Kau pikir kau siapa ha?" teriak Pandu yang terlihat kesal akan tingkah Aruna.
"Kau memang tidak melakukannya kepadaku tapi kepada Aruna... Kau bahkan lebih buruk dari sekedar hewan melata!" ucap Aruna dengan nada yang meninggi.
Aruna yang melihat ekspresi raut wajah Pandu yang terkejut tentu saja langsung tersenyum dengan tipis. Aruna kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Pandu berada dan mengambil posisi berjongkok tepat dihadapan Pandu.
"Ada apa dengan ekspresi raut wajah mu itu? Bukankah kau sudah mengetahuinya? Aku datang untuk memberikan klarifikasi secara langsung, tapi kau malah seakan pura-pura tidak tahu. Wah hebat sekali akting mu kali ini." ucap Aruna dengan nada yang sinis membuat Pandu langsung menatap tidak suka ke arah Aruna.
"Beraninya mulut kecil mu mengatakan sesuatu tentang ku..." ucap Pandu sambil hendak melayangkan pukulannya.
Hanya saja tangan Aruna berhasil menahan pukulan itu, sehingga membuat Pandu begitu terkejut karenanya. Tubuh Aruna memanglah kecil tapi tenaganya begitu besar dan membuat Pandu kewalahan karenanya.
"Aku datang untuk memperingatkan mu satu hal, jangan berani-beraninya mengganggu Aruna karena aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi." ucap Aruna dengan tatapan yang tajam sambil memelintir tangan Pandu, yang lantas membuatnya mengaduh kesakitan.
Melihat raut wajah menahan sakit milik Pandu tentu saja membuat seulas senyum terlihat terbit di wajahnya, membuat Aruna kemudian langsung menghempaskan tangan Pandu begitu saja ke udara dan langsung bangkit dari sana. Sepertinya Aruna sudah cukup puas memberi Pandu peringatan, sehingga membuatnya langsung melangkahkan kakinya berlalu pergi begitu saja dari sana.
Namun ketika langkah kaki Aruna sampai di ambang pintu, sebuah suara yang berasal dari Pandu lantas menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
"Kau benar-benar terlalu percaya diri Tuan Arthur Alterio Gavanza. Aku sangat bersyukur, bahkan tanpa aku bersusah payah mencari tahu tentang kebenarannya kau sudah membukanya kepada ku secara terang-terangan. Apa kau tidak takut aku menyebarkannya ke media?" ucap Pandu dengan tersenyum tipis sambil bangkit dari posisinya.
Pandu mengusap sudut bibirnya yang terlihat noda darah akibat pukulan dari Aruna tadi. Pandu tersenyum ketika melihat raut wajah datar milik Aruna saat ini. Sedangkan Aruna yang mendengar semua perkataan Pandu hanya menatapnya dengan tatapan yang datar tanpa berkomentar sama sekali.
"Bukankah hal tersebut akan sangat bagus? Seorang pewaris keluar Gavanza mengalami sebuah insiden yang menyebabkan jiwanya tertukar dengan asistennya sendiri. Apakah artikel itu terdengar bagus? Aku rasa lumayan, apalagi ketika melihat para pemegang saham kelabakan menangani penurunan harga saham karena takdir mu yang kurang beruntung itu." ucap Pandu dengan tawa yang menggema di ruangan tersebut.
Mendengar segala perkataan Pandu, membuat Aruna lantas mengambil posisi bersendekap dada kemudian tersenyum dengan sinis menatap ke arah Pandu saat ini.
"Bagus sekali aku sangat menyukai artikel tersebut, aku bahkan sangat menantikannya. Tapi aku rasa artikel tersebut sepertinya terlalu membosankan? Bagaimana jika di ganti dengan... Kebobrokan anak ketua dewan yang telah menguntit mantan pacarnya setelah keluar dari penjara? Bukankah itu menambah kesan penasaran bagi seorang pembaca? Aku yakin karir orang tua mu akan langsung wus...... Dan boom!" ucap Aruna sambil memperagakan gerakan pesawat yang jatuh dan meluncur ke bawah, membuat manik mata Pandu langsung menatap tak suka ke arah Aruna saat ini.
Baru setelah itu Aruna melangkahkan kakinya berlalu pergi dari unit Apartment Pandu dengan seulas senyum yang mengembang, membuat Pandu yang melihat hal tersebut tidak lagi bisa berkutik dan menutup mulutnya dengan rapat.
"Benar-benar sialan kau Arthur!" pekik Pandu tepat setelah pintu unit Apartemennya tertutup dengan rapat.
Bersambung