Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Tidak masuk di akal



Di sebuah ruangan VIP terlihat Arthur sudah bersiap dengan setelan jas miliknya. Sambil menekuk wajahnya dengan kesal Arthur mematut dirinya di cermin. Ditatapnya Aruna yang saat ini tengah sibuk melihat ke arah ponsel miliknya dengan perasaan yang kesal. Harusnya saat ini ia masih beristirahat dan tidur dengan nyenyak. Bagaimana bisa seseorang yang baru saja bangun dari komanya dipaksa untuk masuk bekerja setelah ia siuman. Bukankah hal itu sungguh tidak manusiawi?


Sebuah ketukan pintu lantas membuat Aruna menghentikan gerakan tangannya dan langsung menatap ke arah sumber suara, begitu pula dengan Arthur yang juga terlihat penasaran akan siapa yang datang ke ruang perawatan ini. Seorang pria berpakaian jas rapi terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya sambil menunduk. Membuat Arthur sedikit tersentak ketika melihat pria tersebut memberi hormat kepadanya.


"Saya datang tuan" ucap pria tersebut yang semakin membuat Arthur kian bingung ketika mendengarnya.


Sedangkan Aruna yang melihat tingkah Arthur yang seperti itu hanya bisa menghela napasnya dengan panjang kemudian mendengus dengan kesal karena jiwa *Aruna sama sekali tidak bisa melakukan apapun, walau mulut Aruna sudah berbusa sekalipun jiwa *Aruna yang mendiami tubuhnya saat ini tidak akan bisa benar-benar menggantikannya.


"Kemarilah Faris, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan kepadamu!" perintah Aruna dengan nada yang datar.


Faris yang mendengar seorang wanita tepatnya asisten pengganti dirinya memperlakukannya seperti bawahannya agak sedikit bingung dan tidak mengerti, mengingat posisi Faris yang lebih tinggi, bukankah sudah sepantasnya Aruna sedikit menghormati Faris sebagai seniornya? Faris yang tidak ingin salah sangka kemudian lantas melirik sekilas ke arah Arthur seakan tengah bertanya apa yang harus ia lakukan saat ini. Membuat Arthur yang mengerti akan maksud dari tatapan Faris kepadanya langsung mengangguk dengan seketika. Hingga pada akhirnya membuat Faris mau tidak mau lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Aruna berada saat ini.


Aruna yang melihat Faris melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana ia berada, lantas langsung menggeser ponsel ditangannya ke arah Faris agar ia bisa melihatnya.


"Aku sudah memindah tugaskan dirimu kembali ke Indonesia untuk berada di sisiku. Sementara untuk segala hal yang berkaitan dengan bisnis di Itali aku sudah meminta Andre untuk menghandle segalanya dan memastikan semua berjalan dengan lancar. Lagipula sudah seharusnya kau kembali karena aku sudah tidak menyukai asisten pengganti mu ini!" ucap Aruna mengatakan panjang kali lebar kali tinggi.


Sedangkan Faris yang mendengar setiap perkataan keluar dari mulut Aruna hanya bisa mendengarkannya dengan bingung. Faris benar-benar tidak mengerti apa yang tengah terjadi hingga tiba-tiba seorang asisten pengganti malah menyuruh-nyuruhnya seperti ini dan seenak jidatnya memindahkan tugasnya kembali kemari. Faris menatap bingung ke arah Aruna kemudian ke arah Arthur selama beberapa kali.


"Apa yang sedang terjadi sebenarnya tuan?" ucap Faris pada akhirnya menatap ke arah Arthur dengan raut wajah yang kebingungan.


"Tuan mu itu dia bukan aku!" ucap Arthur dengan nada yang entengnya sambil menunjuk ke arah Aruna yang memasang wajah songong saat ini.


Faris yang kembali mendengar hal aneh lantas mengikuti arah tunjukan Arthur dan melihat Aruna tengang mengangguk beberapa kali sambil memasang wajah angkuh khas tuannya, yang tentu saja membuat Faris semakin tidak mengerti juga akan apa yang terjadi sebenarnya disini.


"Tidak perlu bingung karena jiwa kami berdua tertukar ketika kami mengalami kecelakaan beberapa waktu yang lalu, dan ini semua terjadi karenanya yang lalai dalam menjalankan tugasnya!" ucap Aruna sambil menunjuk ke arah Arthur dengan ekor matanya.


"Mengapa jadi saya tuan? Andai saja waktu itu anda tidak mengajak saya berbicara ketika di lampu merah mungkin ini semua tidak akan terjadi." ucap Arthur tidak mau kalah.


"Maaf permisi menyela sebentar, jadi jiwa kalian berdua benar-benar telah bertukar begitu?" tanya Faris kemudian kembali memastikan ucapan Aruna di kala keduanya masih sibuk dengan adu mulut mereka masing-masing.


"Iya!" teriak Arthur dan juga Aruna yang lantas mengejutkan Faris yang seperti masih belum percaya akan fakta yang baru saja ia terima dengan tiba-tiba.


"Apa kau masih belum bisa mengenali tuan mu sendiri Ris? Kau dan aku bahkan sudah bekerja dalam waktu yang lama. Apa kau belum bisa menemukan perbedaannya juga?" ucap Aruna dengan nada yang ketus.


Mendengar perkataan dari Aruna barusan membuat Faris langsung yakin seratus persen bahwa jiwa *Arthur benar-benar masuk ke dalam tubuh Aruna saat ini, semua itu terbukti ketika Faris mendapatkan kata-kata mutiara dari Aruna. Bukan sebuah kata mutiara yang berupa nasihat melainkan sebuah kata-kata yang menukik tajam dan tentu saja pedas. Sungguh khas dan hanya dimiliki oleh Arthur seorang saja.


**


Setelah mendengar keseluruhan ceritanya kini Faris mulai mengerti akan keduanya. Perlahan-lahan Faris mulai belajar membedakan bahwa yang berada di tubuh Arthur sekarang adalah Aruna sedangkan di tubuh Aruna adalah Arthur. Sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal Faris mulai menatap keduanya secara bergantian seakan mencoba untuk mencerna apa yang telah terjadi kepada Arthur dan juga Aruna. Namun sayangnya walau Faris mencoba untuk terus memikirkannya, entah mengapa tetap saja tidak masuk di akalnya sama sekali. Membuat Faris hanya bisa menghela napasnya dengan panjang tanpa tahu harus berbuat apa saat ini.


"Lalu apa rencana anda saat ini tuan?" tanya Faris kemudian sambil menatap ke arah Arthur.


Sedangkan Arthur yang ditatap seperti itu oleh Faris lantas mengkode Faris ke arah Aruna, seakan mengisyaratkan Faris bahwa ia salah orang dan malah bertanya kepada jiwa *Aruna yang mendiami tubuh Arthur saat ini.


"Maaf saya masih perlu beradaptasi dengan hal ini." ucap Faris kemudian sambil menggeser pandangannya ke arah Aruna saat ini.


"Kita mulai dengan berakting, ajari dia bagaimana menjadi seorang Arthur Alterio Gavanza. Aku tidak ingin ada yang terlewat sama sekali, apa kau mengerti?" ucap Aruna memberikan perintah.


"Baik tuan saya pastikan semua akan berjalan sesuai dengan keinginan anda." ucap Faris dengan nada yang yakin ketika mendengar perintah dari *Arthur barusan.


"Apanya yang berjalan sesuai perintahnya? Apa aku ketinggalan sesuatu yang penting?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Arthur, Aruna dan juga Faris menoleh ke arah sumber suara.


Bersambung