Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Sesuatu yang berbeda



Mall


Alina yang penasaran akan gelagat dan pembicaraan aneh Arthur, lantas memutuskan untuk mengikuti ketiganya hingga sampai di counter ramen. Alina mengambil duduk tepat di bangku sebelah ketiganya dan memesan ramen selayaknya seorang pelanggan.


Sambil menikmati makanannya Alina mencoba mencuri dengar tentang pembicaraan keduanya yang terkesan absurd bagi Alina. Entah Alina yang tidak paham atau memang pembicaraan mereka yang terkesan tak masuk akal, membuat Alina semakin bingung karena hanya bisa menerka-nerka seorang diri tanpa bisa bertanya langsung kepada mereka berdua.


Sampai ketika pembahasan mereka tentang pertukaran jiwa, membuat Alina lantas mengernyit ketika mendengar pembicaraan tersebut.


"Tapi apakah anda yakin, cara ini bisa membuat kita kembali ke tubuh kita masing-masing? Kita bahkan bertukar jiwa karena sebuah kecelakaan, bagaimana mungkin kita kembali hanya dengan sebuah ciuman?" ucap Arthur dengan nada sedikit lirih berharap tidak ada yang mendengarnya.


Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Alina terkejut, meski terkesan tidak percaya namun ketika melihat gelagat Aruna yang lebih mirip dengan Arthur membuat Alina mulai sedikit mengerti tentang apa yang terjadi kepada putranya.


"Apa? Bertukar jiwa?" ucap Alina yang duduk tepat di belakang kursi keduanya, membuat Aruna dan juga Arthur langsung menoleh dengan seketika.


Alina yang tanpa sadar berkata dengan nada yang tinggi tentu saja langsung menutup mulutnya. Sedangkan Aruna dan juga Arthur yang mendengar hal tersebut lantas mulai penasaran akan sosok wanita di sebelah mereka, membuat Aruna mulai bangkit dari kursinya hendak melihat siapa wanita tersebut. Aruna takut jika dia adalah seorang mata-mata yang dikirim Maria atau musuhnya yang lain.


Hanya saja ketika langkah kaki Aruna sampai tepat di sebelah wanita tersebut, Aruna melihat jika wanita itu tengah membaca website tentang sebuah drama yang mengkisahkan pertukaran jiwa, hal itu tentu saja lantas membuat Aruna mengernyit begitu mendengarnya.


"Wah sepertinya drama ini bagus, aku yakin pasti bakal booming nantinya." ucap Alina sambil menatap layar ponsel miliknya.


Alina yang sadar jika Aruna berada di sebelahnya, lantas membuat Alina mendongak menatap ke arah Aruna dengan tersenyum, membuat Aruna yang melihat senyuman tersebut tentu saja langsung tertegun seketika.


Pikiran Aruna mendadak melayang ketika melihat senyuman yang begitu tidak asing di ingatannya. Aruna bahkan seperti sangat mengenal senyuman itu namun ia lupa pernah melihatnya dimana, membuat Aruna hanya diam tertegun sambil mencoba memutar otaknya dimana ia melihat senyuman tersebut.


"Apakah ada sesuatu nak? Ah sepertinya Ibu mengganggu mu ya? Maaf ya nak Ibu tadi senang banget soalnya ada drama baru yang akan tayang sebentar lagi, maklum Ibu-ibu pecinta drakor jadi kalau ada drama baru suka lepas kontrol, sekali lagi Ibu minta maaf ya." ucap Alina dengan senyuman yang mengembang mencoba untuk mengecoh Aruna.


Alina yang tak melihat adanya respon dari Aruna saat itu, lantas membuat Alina bangkit dari posisinya dan hendak berlalu pergi dari sana. Hanya saja ketika Alina hendak melangkahkan kakinya berlalu, sebuah suara yang berasal dari Aruna lantas menghentikan langkah kakinya dengan seketika.


"Apa aku mengenalmu atau pernah bertemu dengan mu? Rasanya aku seperti tidak asing ketika melihat mu..." ucap Aruna kemudian.


Mendengar perkataan Aruna barusan membuat hati Alina berdesir, Alina bahkan tidak menyangka jika Aruna akan mengenalinya walau ia melupakannya. Sebuah harapan mulai tumbuh dalam hati wanita paruh baya itu. Sambil mulai berbalik badan dengan perlahan di tatapnya manik mata Aruna dalam-dalam.


Sebuah tatapan yang berasal dari Aruna benar-benar mengingatkannya pada masa lalu, kini Alina benar-benar yakin jika jiwa *Arthur berada di dalam tubuh seorang gadis yang saat ini tengah berdiri di hadapannya. Alina tak pernah salah mengenali putranya dan Alina yakin akan hal tersebut.


"Ya dia adalah putra ku, putra yang sudah lama tak pernah aku temui. Bagaimana bisa kamu mengalami hal sesulit ini nak? Apakah Papa mu mengetahuinya?" ucap Alina dalam hati dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apakah ada sesuatu?" tanya Arthur kemudian yang langsung memutus tatapan keduanya.


"Entahlah aku merasa..." ucap Aruna namun terpotong oleh perkataan Alina.


"Mungkin kita pernah bertemu beberapa kali, wajah ku memang terkesan pasaran jadi mungkin kamu pernah melihatku di suatu tempat." ucap Alina kemudian sebelum pada akhirnya memutuskan untuk berlalu pergi dari sana meninggalkan keduanya dengan setetes air mata yang membasahi pipinya.


Arthur yang melihat kepergian wanita itu dan juga wajah aneh Aruna saat ini, tentu saja hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang penuh kebingungan.


"Ada apa sebenarnya Tuan? Apakah anda mengenalnya?" ucap Arthur dengan raut wajah yang penasaran, membuat helaan napas lantas terdengar berhembus kasar dari mulutnya.


"Tidak ada, sebaiknya kamu segera susul Faris dan kita lanjutkan pekerjaan kita." ucap Aruna kemudian.


"Apa anda yakin Tuan?" tanya Arthur sekali lagi.


"Tentu pergilah..." ucap Aruna lagi yang pada akhirnya di balas anggukan kepala oleh Arthur dan mulai melangkahkan kakinya pergi untuk menyusul Faris di kamar mandi.


"Entah mengapa aku merasakan sesuatu yang berbeda ketika menatap matanya, siapa sebenarnya dia? Mengapa aku sama sekali tidak bisa mengingatnya." ucap Aruna sambil terdiam menatap ke arah pintu keluar counter makanan tersebut, seakan mencoba mencari keberadaan wanita itu namun sayangnya sudah tidak lagi terlihat berada di sekitaran sana.


***


Apartment Golden Place


Pandu yang mengetahui jika Aruna saat ini tinggal serumah dengan Arthur, pada akhirnya memutuskan untuk pindah lebih dekat lagi dengan Aruna. Kebetulan sekali bukan? Jika ketika itu sebuah unit Apartment di lantai yang sama dengan milik Arthur sedang kosong. Meski unit Apartment tersebut cukup merogoh kocek dalam bagi Pandu, namun hal itu sama sekali tidak menjadi masalah selagi ia bisa bertemu dan lebih dekat lagi dengan Aruna.


Hari ini adalah hari pindahan bagi Pandu yang lantas membuatnya terlihat mulai membawa beberapa barang pribadi dan juga perabotan miliknya. Beberapa orang nampak mulai mengusung perabot rumah tangga masuk ke dalam unit Apartment Pandu yang baru. Sedangkan Pandu ketika langkah kakinya hendak masuk ke dalam unit Apartemennya, langkah kaki Pandu terlihat berhenti di area lorong.


Ditatapnya pintu unit Apartment Arthur yang saat ini tengah tertutup dengan rapat, yang lantas membuat seulas senyum terlihat terbit dari wajah Pandu saat itu.


"Kemanapun kamu pergi akan aku pastikan aku menemukan mu walau ke lubang semut sekalipun!" ucap Pandu kemudian dengan senyuman yang menyeringai.


Bersambung