
"Hanya serakah dan tidak tahu diri!" ucap sebuah suara yang lantas membuat Maxim dan juga Maria menoleh ke arah sumber suara.
Tak tak tak
Suara derap langkah kaki sepatu hak tinggi terdengar menggema di ruangan tersebut, membuat Maria yang mengetahui jika suara tersebut berasal dari Felia lantas terlihat memutar bola matanya dengan jengah.
Felisa menghentikan langkah kakinya tepat di antara Maria dan juga Maxim kemudian mengambil posisi bersendekap dada dan menatap ke arah keduanya secara bergantian. Seulas senyuman sinis nampak terlihat menghiasi raut wajah Felisa saat itu, membuat Maxim lantas menatap dengan tatapan yang bertanya ke arah Felia.
"Apa kamu tahu apa yang membuat ku terkadang geli? Dia.. Dia datang ke rumah ini tanpa apapun dan sekarang bertindak seolah-olah Nyonya besar di sini, ada perbedaan di antara kita berdua dan seharusnya hal itu membuat Dia sadar, tapi nyatanya kekayaan Papa ku membutakan matanya!" ucap Felia sambil menunjuk ke arah Maria dengan nada yang menyindir.
Melihat arah tunjuk Felia membuat Maxim yang tidak terima dengan tingkah Felia, lantas mengambil jari tunjuk Felia dan menurunkannya ke bawah secara perlahan.
"Aku tahu apa yang di lakukan Mama adalah salah, tapi tidak sepatutnya kau menunjuk orang tua seperti itu, meski kau tidak menyukainya namun hormat lah sedikit pada orang tua, apa kau juga tidak di ajari akan hal itu?" ucap Maxim dengan nada penuh penekanan.
"Kau jangan sombong, orang tua itu harusnya memberikan sesuatu contoh yang baik bagi anak-anaknya atau paling tidak kepada orang lain. Tapi dia... Dia malah sebaliknya, apakah orang tua seperti ini masih bisa untuk di hargai?" ucap Felia dengan nada yang meninggi.
"Kau..." ucap Maxim sambil tanpa sadar mengangkat tangannya hendak menampar Felia namun berhenti tepat di awang-awang.
Melihat hal tersebut lantas membuat Felia menatap ke arah Maxim dengan tatapan yang sinis, Felia jelas tahu apa arti dari tangan Maxim yang diangkat dan hendak mendarat tepat di area pipinya.
"Mengapa kau berhenti? Apa kau sudah sadar siapa yang harus di hormati di sini? Jika kalian berdua masih ingin menumpang dan hidup dengan bahagia di rumah ini, sebaiknya kalian berdua jaga sikap kalian!" ucap Felia dengan tatapan yang tajam sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan keduanya.
Maria yang melihat Maxim begitu membelanya, lantas membuat Maria yakin dengan ini Maxim akan lebih membuka matanya dan menuruti setiap perkataannya. Maria yang melihat Maxim terdiam di tempatnya kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Maxim berada dan menepuk pundak putranya, membuat Maxim langsung menoleh dengan seketika.
"Bukankah kakak tiri mu sangat keterlaluan? Mama bahkan tidak melakukan apapun, apa kamu..." ucap Maria dengan nada yang dibuat-buat namun langsung dipotong dengan tatapan yang tajam dari Maxim.
"Hentikan Ma! Aku melakukan hal itu bukan berarti menyetujui mu, jalan kita berdua berbeda dan aku hanya ingin hidup dengan tenang, jadi jangan mengganggu ku Ma!" ucap Maxim dengan nada penuh penekanan kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Maria seorang diri di sana.
Maria menatap kepergian putranya dengan tatapan yang intens, sambil mengambil posisi bersendekap dada menatap ke arah setiap langkah kaki Maxim, yang terlihat mulai melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga menuju ke lantai atas. Helaan napas terdengar berhembus dengan kasar dari mulut Maria ketika melihat kepergian putranya.
"Punya anak satu susah sekali di atur, apa yang harus aku lakukan agar membuatnya tunduk kepadaku? Benar-benar memuakkan, sepertinya aku yang harus turun tangan secara langsung, dasar anak bodoh!" ucap Maria pada diri sendiri sebelum pada akhirnya ikut berlalu pergi dari sana.
***
Hotel Tamara
Setelah pembicaraan yang memakan cukup banyak waktu, setelah kepergian Bagas dari kantor CEO lantas membuat Arthur mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya untuk mencari keberadaan Aruna di sekitaran sana. Ditatapnya area sekitaran mencoba mencari keberadaan Aruna namun sayanya tidak kunjung ia temui. Sampai kemudian langkah kakinya terhenti ketika melihat Faris tengah berada di pantry saat ini.
Mendengar pertanyaan tersebut lantas membuat Faris langsung menoleh ke arah sumber suara, kemudian terdiam sejenak seakan tengah mengingat-ingat di mana ia terakhir kali bertemu dengan Aruna tadi.
"Ah sepertinya Tuan sedang berada di Rooftop karena tadi aku melihatnya naik melalui tangga darurat." ucap Faris sambil mengingat-ingat.
"Terima kasih banyak." ucap Arthur kemudian berlalu pergi meninggalkan Faris begitu saja.
Melihat hal tersebut membuat Faris lantas hanya menatap kepergian Arthur dengan tatapan yang mengernyit, namun selanjutnya mengangkat bahunya begitu saja, seakan tidak mau terlalu ikut campur akan urusan keduanya saat ini.
"Sudahlah biarkan mereka berdua saling berbicara, aku benar-benar lapar saat ini.. Apakah Tuan tidak jadi mentraktir? Ah sayang sekali, lalu apa yang harus aku makan sekarang?" ucap Faris sambil menggerutu dengan kesal.
**
Sementara itu Arthur yang baru saja mendapat informasi jika Aruna ada di atas, lantas mulai melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga menuju ke arah atas. Dengan langkah kaki yang bergegas Arthur terus membawa langkah kakinya naik ke atas. Sampai ketika ia berada tepat di depan pintu menuju Rooftop kemudian membuat langkah kaki Arthur terhenti seketika.
Sambil mengatur napasnya dengan perlahan setelah berlarian sedari tadi, Arthur kemudian mulai terlihat memutar handel pintu dan mulai melangkahkan kakinya.
Ditatapnya area sekitaran mencoba mencari keberadaan Aruna di sekitaran sana. Sampai kemudian pandangannya terhenti pada seseorang yang tak asing di pendengarannya. Melihat hal tersebut kemudian membuat Arthur mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Aruna berada saat ini.
"Tuan...." panggil Arthur kemudian yang lantas membuat Aruna langsung menoleh dengan seketika begitu mendengar panggilan tersebut berasal dari Arthur.
Helaan napas terdengar berhembus dengan kasar dari mulutnya. Entah mengapa pikiran Aruna saat ini terasa begitu kacau tepat setelah mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Bagas tadi lewat earphone yang ia pakaikan di telinga Arthur tadi.
Arthur yang melihat Aruna hanya terdiam setelah panggilannya barusan, lantas memutuskan untuk mengambil duduk di sebelah Aruna saat itu.
"Apakah dia sudah pulang?" tanya Aruna kemudian.
Arthur yang mendapat pertanyaan tersebut, lantas tersenyum dengan simpul kemudian mengangguk dengan perlahan.
"Ya, dia baru saja pulang Tuan... Em.. Apa anda baik-baik saja Tuan?" ucap Arthur kemudian.
Entah mengapa sebuah pertanyaan tersebut mendadak terlintas di benaknya, membuat Arthur dengan spontan menanyakan hal tersebut kepada Aruna saat ini.
"Aku..."
Bersambung