Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Apa yang sedang kau lakukan?



Setelah dari Rumah Sakit, tanpa mengenal kata istirahat setelah pengobatan. *Arthur dan juga Faris menggembleng *Aruna untuk melakukan aktifitas yang begitu padat. Tubuh keduanya bahkan masih butuh banyak istirahat namun tuntutan kerja dan juga beberapa deadline yang harus selesai dalam minggu ini, membuat ketiganya mau tidak mau lantas mengejar waktu ketertinggalan mereka dalam urusan pekerjaan.


Satu-persatu klien mulai mereka bertiga temui, *Aruna yang masih menyesuaikan dirinya yang kini berada di dalam tubuh Arthur, lantas terlihat mulai bosan karena harus di suruh meneken beberapa kontrak dan membahas masalah kerja sama dengan klien. *Arthur yang mulai melihat *Aruna ogah-ogahan lantas terlihat beberapa kali memperingatkan *Aruna agar bisa lebih fokus lagi dalam pekerjaan.


*Aruna yang terus di gembleng bagai berada di dunia kemiliteran, lantas terlihat mendengus dengan kesal sekaligus mencebikkan mulutnya ketika lagi-lagi ia mendapat teguran keras dari Arthur. Dengan gerakan yang terpaksa pada akhirnya mau tidak mau membuat *Aruna lantas harus bermain serius dengan urusannya kali ini. Seorang Arthur tentu akan bersikap sangat tegas meski kepada dirinya sendiri. Hal ini terbukti jelas dengan kondisi tubuh keduanya yang belum terlalu fit. *Aruna saja merasakan jika tubuh *Arthur masih terasa begitu lemas dan sedikit gemetar ketika terlalu lama berdiri. Namun ketika *Aruna melihat tubuhnya, Arthur nampak memposisikan tubuhnya yang sekuat tenaga. Dalam raut wajahnya bahkan tidak terlihat raut wajah yang lelah sedikit pun maupun kesakitan.


"Benar-benar gila tuh orang, apa dia gak lelah? Mungkin yang ada di kepalanya hanya kerja kerja dan kerja saja tanpa ada yang lainnya lagi." ucap *Aruna menggerutu dengan kesal akan tingkah Arthur yang tetap saja begitu walau di hari libur sekalipun.


***


Ruangan CEO


Arthur yang baru saja menyelesaikan urusannya lantas begitu masuk ke dalam ruangan tersebut dan melihat sebuah sofa empuk berderet panjang di ruangan tersebut. Membuat jiwa *Aruna yang berada di dalam tubuh Arthur lantas mempercepat langkah kakinya dan bersiap untuk mendaratkan bokongnya di sana. Namun sayang sebuah suara yang berasal dari Aruna, lantas membuat pantat Arthur tertahan seketika sebelum berhasil mendaratkan pantatnya pada sofa empuk tersebut.


"Runa buatkan aku coffee late seperti biasa dan juga kopi hitam untuk Faris." ucap Aruna memberikan perintah.


"Tidak perlu tuan nanti saya akan membuatnya sendiri." ucap Faris menolak dengan halus.


*Arthur yang mendengar perkataan dari Faris barusan tentu saja langsung menatap tajam ke arah Faris ketika mendapat sebuah penolakan yang sama sekali tidak pernah ia ingin dengar. Membuat Faris yang melihat tatapan tajam dari Aruna hanya bisa menutup mulutnya dan diam seakan berusaha untuk tidak kembali mengucapkan kata-kata protes kepada *Arthur.


Sedangkan jiwa *Aruna yang berada di dalam tubuh Arthur tentu saja langsung terkejut seketika disaat mendapat perintah tersebut dari *Arthur. Padahal jelas-jelas *Arthur tahu bahwa *Aruna baru saja hendak mendudukkan pantatnya untuk sekedar beristirahat di sana. Bukankah *Arthur terdengar sangat kejam kepada *Aruna?


Dengan gerakan yang malas Arthur lantas membenarkan posisinya yang setengah duduk dan setengah berdiri tersebut, kemudian menghentakkan kakinya perlahan dan mulai melangkahkan kakinya dengan kesal menuju ke arah pantry untuk membuatkan pesanan dari *Arthur barusan.


Setelah kepergian *Aruna dari sana suasana kian hening dan hanya menyisakan jiwa *Arthur yang berada di dalam diri Aruna dan juga Faris di sana. *Arthur yang melihat kepergian *Aruna dari sana, lantas mengambil bolpoin di mejanya kemudian menuliskan sebuah plat nomor pada kertas tersebut dan memberikannya kepada Faris, membuat Faris lantas bertanya-tanya ketika ia melihat nomor plat tersebut.


"Saya akan langsung menyelidikinya tuan, anda tidak perlu khawatir." ucap Faris yang mulai mengerti akan maksud dari Aruna yang memberikannya sebuah nomor plat kendaraan kepadanya.


Ketika keduanya sedang sibuk membicarakan kejadian kecelakaan waktu itu, dari arah pantry terlihat Arthur tengah membawa nampan berisi dua cangkir gelas di atasnya. Melihat hal tersebut tentu saja langsung menghentikan pembicaraan mereka seketika. Faris yang masih belum terlalu terbiasa akan jiwa keduanya yang bertukar tubuh, membuat Faris yang melihat tubuh Arthur keluar dari pantry dengan membawa nampan berisi dua cangkir, tentu saja terasa sedikit aneh dan juga agak tidak biasa. Membuat Faris menjadi tidak tega ketika ia harus melihat tuannya membawa nampan seperti seorang pelayan menuju ke arah keduanya.


"Mengapa aku jadi merasa kasihan kepada tuan ya? Padahal jelas-jelas bahwa itu bukanlah tuan, namun mengapa aku tetap mengasihaninya?" ucap Faris dalam hati sambil menatap setiap gerak-gerik yang dilakukan oleh Arthur termasuk raut wajahnya yang terlihat seperti sedang menahan kesal tersebut.


Arthur yang membawa nampan ditangannya lantas terus melangkahkan kakinya menuju ke arah dimana meja kerja *Arthur berada dengan memasang raut wajah yang cemberut sedari tadi. Diletakkannya satu cangkir coffee late di hadapan Aruna kemudian yang satunya lagi pada meja sofa di ruangan tersebut untuk Faris. Setelah memastikan segalanya sudah selesai, *Aruna yang sedari awal memang ingin sekali mendudukkan pantatnya dan beristirahat sejenak. Lantas langsung bernapas dengan lega dan bersiap untuk mendudukkan bokongnya di sofa ruangan Arthur. Hingga sebuah suara yang lantas kembali menghentikan gerakan tubuhnya, membuat Arthur langsung memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengar nada suara tersebut berasal dari Aruna.


"Coffee late nya terlalu manis aku mau kau membuatkannya lagi untukku." ucap Aruna dengan nada yang datar sambil tetap menatap ke arah layar laptopnya.


*Aruna yang mendengar hal tersebut tentu saja kesal bukan main dan terlihat mulai mengepalkan tangannya. Faris yang melihat keadaan mulai terasa tidak enak lantas hendak melangkahkan kakinya ke arah *Arthur namun terhenti ketika melihat kode tangan dari Arthur yang seakan memintanya untuk tidak ikut campur dengan hal ini.


"Jangan lakukan apapun dan tetap diam di tempat mu itu sampai aku membutuhkan mu untuk melakukan sesuatu!" ucap Aruna dengan nada yang begitu santai, namun berhasil membuat siapapun yang mendengarnya sedikit terkejut seketika.


Pada akhirnya *Aruna hanya bisa pasrah dan kembali melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Aruna berada dan mulai mengangkat nampan tadi dimana di dalamnya terdapat secangkir coffee late milik *Arthur.


Dok dok dok


"Tuan Arthur berkas ini diminta oleh direktur pemasaran untuk segera anda tanda tangani... Aruna apa yang kau lakukan?" ucap sebuah suara tamu tak diundang yang mendadak terkejut ketika melihat Aruna duduk dengan santainya di kursi milik Arthur


Bersambung