
"Apa ini?" ucap Maria yang terkejut akan beberapa foto yang baru saja ia lihat.
Sebuah foto yang mampu mengundang tanda tanya besar di kepala Maria ketika ia semakin masuk dan melihat satu persatu foto yang di berikan oleh Indra. Maria yang tidak mengerti arti dari foto-foto yang diberikan oleh Indra barusan, lantas berganti menatap ke arah Indra dengan tatapan yang bertanya seakan seperti sedang menunggu jawaban dari Indra tentang isi dari amplop pemberiannya itu.
"Wanita ini adalah Aruna Nyonya, dia asisten sekaligus sekertaris baru tuan muda Arthur. Ada yang aneh dari setiap foto yang saya dapatkan dimana beberapa kali tuan muda nampak begitu menurut dan patuh terhadap wanita ini, bukankah menurut anda ini aneh Nyonya? Mengingat tuan muda Arthur bukanlah pria yang mudah untuk ditaklukan seperti yang tertangkap di beberapa foto ini." ucap Indra kemudian mulai menjelaskan informasi yang baru saja ia terima.
Mendengar penjelasan dari Indra barusan membuat Maria langsung terdiam seketika seakan mencoba mencerna perkataan demi perkataan yang diucapkan oleh Indra barusan. Memang terkesan biasa saja bagi sebagian orang namun jika untuk pihak keluarga yang benar-benar mengetahui segalanya tentang Arthur, tentu saja terasa aneh dan sulit untuk di percaya mengingat Arthur adalah seseorang yang sangat sulit sekali untuk di atur.
"Atur pertemuan ku dengan gadis ini, sepertinya akan ada hal menarik di sini." ucap Maria sambil tersenyum dengan sinis menatap lurus ke arah depan.
"Baik Nyonya secepatnya akan saya atur pertemuan tersebut." ucap Indra sambil memohon undur diri dari hadapan Maria.
Setelah kepergian Indra dari sana seulas senyum nampak terlihat terbit dari wajah Maria, sambil mengambil posisi bersendekap dada Maria lantas menatap lurus ke arah depan masih dengan senyum yang mengembang.
"Baiklah Arthur kita lihat apa kelemahan mu kali ini, agar aku dapat segera menendang mu keluar dari silsila keluarga ini." ucap Maria dalam hati dengan raut wajah yang sumringah sambil membayangkan detik-detik Arthur turun dari jabatannya.
***
Rooftop
Arthur yang merasa tersinggung akan perkataan Aruna yang keterlaluan tadi, lantas terlihat mencari udara segar di Rooftop gedung perkantoran ini. Sambil menatap lurus ke arah langit siang itu Arthur terdengar berdecak dengan kesal ketika mengingat kembali setiap kata yang keluar dari mulut Aruna kembali terlintas dibenaknya saat ini.
"Benar-benar tuan angkuh bermulut tajam, tidak bisakah dia sedikit menghargai kerja keras seseorang? Untung saja jiwa kami tertukar jika tidak mungkin aku sudah melarikan diri sejak awal karena tidak betah akan tutur katanya yang begitu tajam." ucap Arthur menggerutu sambil terus mengomel meluapkan segala unek-uneknya mumpung situasinya saat ini sangat memungkinkan untuknya bercerita kepada alam.
"Aku tahu perkataan tuan tadi sangat tidak adil bagimu, tapi percayalah tuan bukanlah orang yang jahat." ucap sebuah suara yang lantas mengejutkan Arthur.
Arthur yang mendengar sebuah suara tak asing di pendengarannya, lantas langsung berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara. Dari arah tak jauh dari posisinya berada Arthur yang melihat Faris melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya lantas mendengus kesal. Membuat Faris yang melihat ekspresi wajah Arthur langsung tersenyum dengan kecil.
"Kamu mengatakan hal tersebut pasti karena ia tuan muda kesayangan mu, bukan? Sudah sana pergi aku sedang tidak mood untuk berdebat!" ucap Arthur kemudian dengan nada yang jengkel namun nyatanya sama sekali tak membuat Faris pergi malah mengambil posisi tepat di sebelah Arthur saat ini.
"Percayalah akan kata-kata ku, tuan Arthur hanya pedas pada tutur katanya saja selebihnya ia adalah sosok yang berwibawa dan juga hangat." ucap Faris kembali melanjutkan perkataannya.
"Aku tahu kamu pasti tidak akan percaya, namun ketika aku mengatakan perjalan kisah hidup tuan pasti pandangan mu kepada tuan akan berubah." ucap Faris kemudian yang langsung membuat Arthur berbalik badan dan menatapnya dengan raut wajah yang penasaran.
"Memangnya ada apa dengan kisah hidupnya? aku bisa menebak jika tuan angkuh itu sudah terlahir dengan sendok emas ditangannya mangkanya sikapnya seperti itu, bukankah begitu?" ucap Arthur masih dengan nada yang menyindir seakan tidak menerima sanggahan apapun yang mengatakan *Arthur bukanlah sosok yang seperti ia bayangkan.
Sedangkan Faris yang mendengar perkataan dari Arthur barusan hanya bisa tersenyum dengan sekilas kemudian mulai membuka suara dan menceritakan segalanya. Dalam ceritanya Faris mengatakan bahwa kedua orang tua Arthur bercerai di usia Arthur yang ke 10 tahun, satu tahun kemudian Ayah Arthur menikah lagi dengan Maria seorang janda dengan satu anak.
Tidak ada yang akur dalam keluarga ini karena semua anak menginginkan tahta kekuasaan tertinggi termasuk kakak kandung Arthur yaitu Felia. Bagas yang notabennya sebagai orang tua lantas memberikan bagian masing-masing untuk putra putrinya dimana nona muda Felia mengurus sanotharium dan juga galeri seni, tuan Arthur bidang properti dan juga perhiasan, sedangkan untuk putra tirinya tuan Maxim dipercaya untuk mengurus bisnis di bagian perhotelan.
Jika dilihat secara kacamata orang biasa pembagian harta tersebut memang tampak terlihat rata, namun jika dikalkulasikan bagian Arthur lebih mendominasi dan hampir mencapai 50 persen kekayaan keluarga Gavanza, membuat semua orang lantas berlomba-lomba untuk bisa menjatuhkan Arthur dan merebut segalanya dari Arthur. Ketika sebuah Rumah harusnya menjadi tempat untuk pulang dan berbagi cerita, bagi Arthur Rumah adalah medan peran yang siap untuk meluluhlantahkan nya jika Arthur lengah sedikit saja.
Hal itulah yang membuat Arthur tumbuh menjadi pria yang tegas dan juga kasar karena kehidupannya selama ini memaksanya untuk tumbuh dengan penuh duri sehingga sulit untuk di dekati oleh siapapun kecuali Monica.
"Monica?" tanya Arthur kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Iya Monica mantan tunangan tuan Arthur." ucap Faris mengiyakan perkataan dari Arthur barusan yang lantas membuat Arthur langsung terdiam seketika.
***
Area depan ruangan CEO
Arthur yang merasa bersalah kepada Aruna tepat setelah mendengarkan kisah seluruhnya, lantas terlihat menghembuskan napasnya secara perlahan kemudian mengetuk pintu ruangan tersebut dan mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan. Arthur yang melihat kursi kebesaran Aruna menghadap ke belakang lantas mengira bahwa Aruna saat ini pasti masih marah kepadanya.
"Tuan saya sungguh ingin minta maaf kepada anda karena telah bersikap arogan dan juga egois, saya..." ucap Arthur namun terpotong ketika melihat kursi kebesaran Aruna berputar.
"Tuan? Siapa yang kamu maksud sebenarnya?"
Bersambung