Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Bertingkah aneh



Di sebuah lobi gedung Apartment tepat lima belas menit sebelum kejadian. Terlihat Fadli tengah melangkahkan kakinya masuk ke dalam area lobby Apartemen tersebut. Sambil mendial nomor seseorang pada ponsel miliknya, Fadli mulai memasuki area lift dan menuju ke lantai atas.


"Halo..." ucap sebuah suara di seberang sana yang lantas membuat seulas senyum terlihat terbit dafi wajah Fadli saat itu.


"Karina kamu di mana? Aku ada tugas penting untuk mu. Jika kamu berhasil menjalankan tugas ini, aku akan menambahkan bonus dua kali lipat untuk mu!" ucap Fadli tanpa basa basi pada seseorang di seberang sana.


"Tentu saja dengan senang hati, kirimkan saja detailnya aku akan langsung bergerak sekarang juga." ucap Karina dengan nada yang berbinar.


"Bagus, lakukan dengan baik karena jika sampai gagal maka kamu akan habis di tangan ku!" ucap Fadli kemudian sebelum pada akhirnya memutus sambungan telponnya.


***


GV Company


Arthur yang baru saja keluar dari lobi perusahaannya, lantas langsung memasuki area dalam mobilnya dengan gerakan yang cepat. Arthur benar-benar tidak sabar untuk menantikan masakan spesial yang akan disajikan oleh Aruna saat ini. Entah mengapa ia sudah begitu merindukan gadis itu, padahal hanya sehari ia tidak bertemu dengan Aruna namun rasanya bagi Arthur sudah bertahun-tahun lamanya.


"Akan aku pastikan aku sampai di rumah sepuluh menit dari sekarang, aku bahkan sudah benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan Aruna." ucap Arthur sambil mulai melajukan mobilnya keluar dari area gedung GV Company.


Arthur melajukan mobilnya dengan perlahan keluar dari area gedung GV Company. Hanya saja ketika mobil miliknya baru melaju beberapa meter dari sana, seseorang perempuan mendadak menyebrang begitu saja di depan mobilnya. Membuat Arthur yang mendapati hal tersebut, lantas terkejut bukan main dan langsung menginjak pedal remnya dengan kuat.


Ckit...


"Ah..." pekik sebuah suara di luar sana.


"Ah sial! Mengapa gadis itu ceroboh sekali sih?" ucap Arthur dengan nada yang menggerutu sambil melangkahkan kakinya keluar dari area dalam mobilnya begitu saja.


Arthur nampak berdecak dengan kesal begitu keluar dari mobil dan sudah mendapati seorang gadis tengah terduduk kesakitan sambil memegangi area lututnya saat itu.


"Ah maafkan aku.. Aku sungguh tidak tahu jika kamu hendak melintas di hadapan ku." ucap Arthur sambil mengambil posisi berjongkok hendak berusaha melihat luka gadis tersebut.


"Akh sakit sekali... Tolong saya Tuan..." ucap seorang gadis tersebut yang ternyata adalah Karina.


Karina yang mendapati jika Arthur mengambil posisi berjongkok saat ini, ia lantas langsung memeluk tubuh Arthur begitu saja dan bergelayut mesra padanya sambil berakting kesakitan.


"Sekali lagi maafkan aku... Sebaiknya kita ke Rumah sakit saat ini." ucap Arthur kemudian hendak berusaha untuk mengangkat tubuh gadis itu ke dalam mobilnya.


Hanya sana sebuah panggilan yang tak asing di pendengarannya, lantas langsung membuat Arthur menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.


"Tuan, apa yang anda lakukan di sini?" ucap Faris dengan raut wajah yang kebingungan.


***


Tepat setelah mendengar perkataan dari Fadli barusan, mendadak fokus Aruna tak lagi terlihat jernih. Mata Aruna benar-benar sangat sayu seakan seperti entah melayang ke mana, namun Aruna masih tetap merasa berada di lantai keramik unit Apartment Arthur. Aruna mencoba untuk menggelengkan kepalanya beberapa kali, seakan berusaha untuk mengembalikan fokusnya. Namun lagi dan lagi pandangan matanya nampak berputar-putar dan tidak bisa fokus. Seakan seperti tengah terjadi gempa bumi di sekitarnya.


"Apa yang kau lakukan kepadaku sebenarnya?" ucap Aruna sambil berusaha untuk bangkit dari posisinya, hanya saja tak bisa berpijak dengan benar dan malah berakhir sempoyongan.


Melihat obat tersebut sudah mulai bereaksi kepada Aruna, lantas membuat Fadli tersenyum dengan tipis sambil mulai mengambil langkah kakinya mendekat ke arah di mana Aruna berada saat ini. Fadli lantas menggenggam dengan erat kedua pundak Aruna saat itu.


"Bagaimana Run? Apakah kamu sudah merasa lebih ringan? Aku akan memberikan mu servis terbaik jika kamu bisa menjadi anak yang manis." ucap Fadli dengan senyum yang mengembang.


Aruna yang mendengar perkataan dari Fadli barusan bukannya terkejut malah tertawa dengan kencang. Entah mengapa mendengar kata servis keluar dari mulut Fadli saat itu, membuat Aruna tergelitik hingga tertawa tanpa bisa berhenti sama sekali.


"Apakah anak manis seperti ini? Guk.. Guk... Hahahaha" ucap Aruna sambil berjongkok layaknya seorang anak anjing kecil, membuat tepukan tangan terdengar menggema yang berasal dari Fadli saat itu.


"Bagus sekali Run hahaha!" pekik Fadli yang seakan begitu menyukai akan hal ini.


Mendapati Aruna yang terus-terusan berjongkok sambil melompat ke sana kemari, membuat Fadli kemudian lantas berusaha untuk mengangkat tubuh Aruna dan mengajaknya bangkit dari sana. Namun sayangnya Aruna tidak menurut begitu saja dan malah mencoba untuk mendorong tubuh Fadli agar menjauh dari dirinya.


"Ayolah Run saatnya untuk berpesta... Kau pasti akan sangat menyukai hal ini, kita lakukan secara perlahan oke? Aku janji..." ucap Fadli lagi sambil menggendong tubuh Aruna dan meletakkannya di sofa unit Apartment Arthur saat itu.


"Hahahaha benar-benar menggelikan.. Lucu sekali... Aku mau di gendong seperti itu lagi, gendong aku... Gendong aku.. Gendong aku...." ucap Aruna dengan tawa keras menggema di ruangan tersebut, membuat Fadli ikut tertawa begitu melihat tingkah lucu dari Aruna saat ini.


Mendengar perkataan dari Aruna barusan, lantas membuat seulas senyum terlihat terbit dari wajah Fadli saat ini. Fadli yang tak ingin menyia-nyiakan waktunya lagi, lantas langsung berusaha untuk membuka blazer atau baju luaran yang dikenakan oleh Aruna saat ini dan hanya menyisakan sebuah tank top melekat jelas di tubuh Aruna sekarang.


Melihat hal tersebut tentu saja membuat manik mata Fadli berbinar dengan seketika. Bentuk dua gunung kembar milik Aruna yang begitu menonjol di balik tank top yang ia gunakan, menumbuhkan gelayer aneh di tubuh Fadli saat itu.


"Pantas saja si Arthur itu begitu menggilai mu, ternyata bentuk tubuh mu benar-benar menggairahkan!" ucap Fadli sambil tersenyum dengan tipis.


"Benarkah? Aku rasa aku memang benar-benar seksi, bukan?" ucap Aruna tanpa sadar sambil menggigit bibir bagian bawahnya dan kembali tertawa lagi dan lagi.


"Ya ya ya.. Kau benar-benar luar biasa ha ha ha!" ucap Fadli kemudian.


Fadli yang sudah tidak sabar akan Aruna lantas bersiap untuk melakukan gerakan hendak mencumbu Aruna saat itu. Namun sebuah suara tombol pintu seperti hendak di buka dari arah luar, lantas langsung menghentikan gerakan Fadli dengan seketika.


"Siapa lagi yang mengganggu ku? Bukankah aku sudah menyuruh Karina untuk beraksi? Apakah dia gagal menjalankan tugas? Ah sial!" pekik Fadli yang seakan terkejut dengan suara itu, namun Aruna yang mendapati hal tersebut malah tertawa dengan kencang.


Bersambung