
Malam harinya di Apartment *Arthur
Di area meja makan terlihat Aruna tengah menanti Arthur yang saat ini tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
Aruna menekuk wajahnya ketika melihat Artur yang tak kunjung selesai walau sudah berkutat cukup lama di dapur.
"Apakah kamu akan selesai memasak hingga matahari terbit? Jika memang seperti itu aku akan pergi tidur dan bangunkan aku ketika sudah selesai." ucap Aruna dengan nada yang ketus.
Mendengar gerutuan Aruna saat ini lantas membuat Arthur mendengus dengan kesal. Sambil membawa mangkuk besar berisi sup buntut buatannya, Arthur nampak meletakkan mangkuk tersebut dengan raut wajah yang kesal.
"Ayolah Tuan.. Memasak sup buntut itu membutuhkan dedikasi yang tinggi, semuanya butuh proses dan tingkat kematangan yang pas. Siapa suruh anda malam-malam begini minta di buatkan sup buntut, untung semua bahannya ada di kulkas." ucap Arthur sambil melangkahkan kakinya kembali ke arah dapur untuk mengambil dua mangkuk kecil dan juga peralatan makan lainnya.
"Apa sekarang kamu sedang itung-itungan dengan ku? Aku bahkan hanya meminta sup buntut, jika kamu tidak mau ya jangan melakukannya!" ucap Aruna dengan nada yang kesal.
Sedangkan Arthur yang mendengar nada ketus dari Aruna barusan hanya bisa menghela napasnya dengan panjang. Sepertinya sifat menyebalkan *Arthur sudah mendarah daging, hanya perkara makanan saja malah menjadi berbuntut panjang seperti ini.
Arthur yang dari arah dapur membawa dua mangkuk dan juga sendok makan, lantas meletakkannya dengan full senyum tepat di hadapan Aruna saat ini.
"Bukankah anda mengatakan jika ingin lebih lembut lagi? Lalu apa ini Tuan?" ucap Arthur dengan senyuman yang lebar membuat Aruna langsung menghela napasnya dengan panjang.
"Baiklah-baiklah aku minta maaf ya? Terima kasih makanannya cantik..." ucap Aruna kemudian dengan senyuman yang di buat-buat sambil mengambil mangkuk yang baru di letakkan oleh Arthur di hadapannya.
Jujur saja Aruna sudah benar-benar lapar saat ini, entah mengapa sepertinya Aruna sudah mulai terbiasa dengan masakan Arthur yang memiliki cita rasa rumahan. Rasanya ketika Aruna memakan semua masakan Arthur ia seperti kembali ke dalam rumah dengan nuansa penuh kebahagiaan. Sehingga semenjak Arthur tinggal bersamanya ia sama sekali tak pernah absen untuk memakan masakan Arthur dan mengurangi makan di luar jika mereka tidak sedang meeting atau bahkan tugas luar kota.
"Benar-benar luar biasa dia!" ucap Arthur dalam hati sambil mendudukkan pantatnya di kursi bersiap untuk mengambil makanan.
Di saat keduanya tengah asyik menikmati sup buntut buatan Arthur, sebuah bel pintu masuk lantas terdengar menggema di ruangan tersebut. Membuat Aruna dan juga Arthur yang mendengar hal tersebut lantas langsung saling pandang antara satu sama lainnya seakan bertanya-tanya, siapa yang bertamu malam-malam begini?
Arthur yang mendengar suara bel pintu berbunyi, lantas bangkit dari posisi duduknya bersiap untuk membuka pintu.
"Aku akan melihat siapa yang datang Tuan, anda lanjutkan saja makannya." ucap Arthur sambil mulai melangkahkan kakinya berlalu pergi dari area meja makan.
**
Dengan langkah kaki yang perlahan Arthur mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah pintu masuk. Arthur yang mengira jika itu hanyalah petugas room servis, lantas membuatnya langsung membuka pintu tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang datang melalui layar yang terletak di dekat pintu masuk.
Ceklek
Pandangan mata Arthur benar-benar tertuju pada sebuah dus box transparan dimana di dalamnya terlihat cup cake warna-warni yang cantik. Sebuah ingatan tentang masa lalu dimana kejadian tragis yang menimpanya sebelum pelecehan oleh Pandu terjadi beberapa tahun yang lalu, lantas langsung berputar di kepala Arthur ketika melihat cup cake yang berada di dalam dus box tersebut adalah cake yang sama.
Bruk...
Arthur terjatuh seketika di lantai membuat sosok yang berada di balik dus box tersebut, lantas langsung tersenyum menyeringai ketika mengira bahwa yang barusan membuka pintu adalah Aruna.
Disaat dus box tersebut Pandu tenteng di bawah, ada sedikit perasaan terkejut dimana ia malah mendapati Arthur dalam posisi terduduk di lantai menatap dengan tatapan yang takut kepada cake yang di bawa olehnya.
"Aku minta maaf tadinya aku kira jika kamu adalah Aruna, aku..." ucap Pandu sambil hendak menolong Arthur hanya saja terhenti ketika Pandu mendengar teriakan Arthur barusan yang mengingatkannya akan sesuatu.
"Jangan sentuh aku Ndu! Jangan menyentuh ku!" pekik Arthur dengan nada yang tinggi.
Mendengar teriakan yang tidak asing dari Arthur barusan lantas membuat Pandu mengingat sesuatu. Entah bagaimana Arthur bisa bereaksi sama seperti Aruna beberapa tahun yang lalu. Membuat Pandu lantas terkejut seketika begitu melihat ekspresi dari Arthur saat ini.
"Bagaimana bisa? Apa yang telah terjadi sebenarnya?" ucap Pandu dalam hati.
Pandu yang merasa curiga ada sesuatu yang aneh dengan Arthur saat ini, lantas mulai mengambil posisi jongkok dan mendekat ke arah dimana Arthur berada saat ini.
"Apa yang terjadi kepadamu? Aku bahkan tidak melakukan apapun..." ucap Pandu dengan raut wajah yang penuh kebingungan.
Mendengar perkataan tersebut keluar dari mulut Pandu tentu saja membuat Arthur menatap tak suka ke arahnya. Arthur mendorong tubuh Pandu cukup keras hingga membuatnya terjungkal dari posisinya dengan raut wajah yang terkejut karena tidak bersiap akan serangan dari Arthur barusan.
"Kau bilang tidak melakukan apapun? Setelah kau merenggut kesucian..." ucap Arthur namun terhenti ketika mendengar sebuah suara yang lantas membuatnya tersadar jika ia telah hilang kendali.
Dari arah dalam, Aruna yang mendengar suara ribu-ribut lantas membuat Aruna yang penasaran mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Arthur berada saat ini.
"Apa yang terjadi Ar? Bukankah kamu mengatakan akan segera kembali?" ucap Aruna sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu utama.
Pandu yang melihat Aruna melangkahkan kakinya dengan santai lantas semakin di buat terkejut, kemudian ia kembali menatap ke arah Arthur yang menatapnya dengan raut wajah penuh ketakutan dan juga amarah yang bercampur menjadi satu. Sebuah reaksi yang seharusnya terbalik ketika melihat kedatangannya. Dimana yang seharusnya bereaksi ketakutan adalah Aruna dan yang beraksi santai adalah Arthur. Namun entah mengapa reaksi mereka malah terbalik dan menimbulkan sebuah kecurigaan besar dalam diri Pandu saat ini ketika melihat keduanya dengan tatapan yang intens.
"Mengapa mereka malah melakukan hal yang berlawanan? Apakah sesuatu telah terjadi?" ucap Pandu dalam hati bertanya-tanya.
Bersambung