Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Sebuah ketenangan



"Tunggu! Bukan aku yang membunuhnya tapi perempuan paruh baya itu yang tiba-tiba jatuh dan membuat garpu itu menancap ke leher Aruna!" pekik Fadli sambil menutup matanya, membuat tangan Arthur yang sudah hampir sampai mendaratkan garpu tersebut ke leher Fadli, lantas terhenti dengan seketika.


"Apa?" ucap Arthur yang sama sekali tidak mengerti akan perkataan Fadli barusan.


Tangan Arthur terhenti di awang-awang, pikirannya saat ini berputar mencoba untuk mengulang kembali segala hal yang telah terjadi saat itu.


Jantungnya berdebar dengan kencang tak kala ia baru menyadari posisi yang terjadi saat itu tepat ketika kedatangannya. Lagi pula setelah Aruna di nyatakan meninggal ia belum bertemu dengan Alina atau bahkan Maria sama sekali, membuatnya semakin curiga jika apa yang di katakan oleh Fadli adalah sebuah kebenarannya.


"Sungguh aku tidak berniat membunuh Aruna, semua itu murni karena kecelakaan. Dia tiba-tiba jatuh dari atas di saat aku mencoba untuk membawa Aruna naik melalui tangga darurat. Aku juga terkejut mengapa garpu itu bisa sampai menancap ke leher Aruna, percayalah kepada ku. Meski aku seorang casanova tapi aku bukanlah pembunuh!" ucap Fadli mencoba untuk menjelaskan segalanya.


Mendengar perkataan Fadli barusan lantas semakin membuat pikiran Arthur terbelah saat itu. Entah apa yang sebenarnya terjadi saat itu, Arthur sendiri bahkan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.


"Apa yang kamu lakukan Ar.. Ayo lakukan dan jangan menjeda waktu seperti ini!" pekik Felia dengan nada yang terdengar begitu kesal.


Tingkah Arthur yang seperti ini malah membuat dirinya tidak tega akan ajal yang sebentar lagi merenggut calon Ayah dari bayinya. Bibirnya saat ini bahkan terlihat begitu bergetar ketika mendapati Fadli yang sudut tersudut saat itu.


Arthur yabg mendengar teriakan Kakaknya lantas menoleh sekilas ke arah Felia, raut wajah Felia benar-benar mengungkapkan yang sebaliknya. Manik mata itu seperti mengatakan kepada Arthur untuk berhenti, namun mulutnya malah mengatakan untuk melakukannya dengan cepat.


Mendapati hal tersebut membuat tangan Arthur yang memegang garpu tersebut lantas menggenggamnya dengan erat. Arthur benci situasi seperti ini, namun hatinya tidak puas jika melihat Fadli lolos dari hukumannya.


"Kamu tahu mengapa aku tidak membenci Ayah meski ia telah membunuh Ibu ku? Jawabannya karena aku tidaklah sama dengan mereka. Jika kejahatan di balas dengan kejahatan maka kamu tidak akan merasakan sebuah ketenangan. Semua emosi dan juga perasaan marah bersumber dari hati, jika kamu ingin mendapatkan ketenangan cobalah untuk merelakan karena itu adalah kunci menuju sebuah ketenangan." ucap sebuah suara yang berasal dari Aruna.


"Jangan mengatakan yang tidak-tidak, kalau aku jadi kamu maka aku akan membalas dendam dan memburu b4j1ng4n itu!" jawab Arthur dengan nada penuh penekanan.


"Jangan mengatakan hal itu karena kamu membuat bulu kuduk ku berdiri. Di setiap kehidupan pasti ada kematian, aku tahu apa yang diperbuat oleh Ayah ku adalah salah. Namun jika aku kembali membalaskan apa yang telah di perbuat oleh Ayah, bukankah itu tidak akan ada habisnya? Ayolah Tuan.. Cobalah berpikir dari sisi yang lainnya, kuncinya hanya tenang. Berjanjilah jika kamu tidak akan melakukan hal buruk lagi." ucap Aruna dengan tersenyum begitu manisnya menatap ke arah Arthur, seakan tengah memasang raut wajah sok manis agar Arthur mau mengikuti perkataannya.


Perkataan Aruna saat itu mendadak terlintas di benaknya begitu saja, gigi Arthur bahkan menggertak dengan kuat. Kata-kata Aruna sebelum kepergiannya benar-benar membuatnya tak kuasa menahan segala hal yang telah menimpanya.


Awalnya Arthur mengira jika perkataan Aruna hanyalah sebuah ungkapan semata agar ia bisa memaafkan Alina. Namun nyatanya perkataan tersebut lebih tepat mengarah kepada dirinya atas kejadian yang menimpanya saat ini, dibandingkan hubungan antara ia dan juga Alina yang memang sudah merenggang sejak dulu.


"Aaaaaa" pekik Arthur sambil mengayunkan tangannya mendekat ke arah Fadli saat itu.


Hanya saja setelah beberapa menit berlalu tidak ada apapun yang terjadi, kecuali suara garpu yang jatuh membentur keramik saat itu.


"Apa yang kamu lakukan Ar?" ucap Felia yang tidak percaya akan pemandangan yang terjadi di hadapannya.


Arthur bangkit dari tempatnya dan mulai melangkahkan kakinya secara gontai, meninggalkan keduanya yang masih menatap ke arah punggung Arthur saat itu.


"Kau harusnya bersyukur karena Aruna adalah gadis yang baik, aku yakin dia tidak menginginkan hal ini. Tapi aku tidak akan pernah membiarkan mu berkeliaran begitu saja dengan bebas. Sebentar lagi akan ada polisi yang datang dan menangkap mu kemari. Jika kamu ingin kabur maka lakukanlah, tapi aku tidak akan menjamin keselamatan mu untuk yang kedua kalinya. Tebus kesalahan mu dan mendekam di penjara seumur hidup mu, mungkin itu adalah satu-satunya hukuman terbaik untuk pria seperti dirimu." ucap Arthur tepat di ambang pintu Apartment sebelum pada akhirnya benar-benar berlalu pergi dari sana.


Bruk...


"Sial!" ucap Fadli begitu mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Arthur saat itu.


Diliriknya Felia yang saat itu masih berada di unit Apartemennya dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan, membuat Felia langsung mendengus dengan kesal begitu mendapati raut wajah Fadli saat ini.


"Jangan coba-coba untuk kabur, karena melepaskan mu sekali tidak akan mungkin terjadi lagi untuk yang kedua kalinya bagi Arthur. Sekedar pesan untuk mu dari ku, jangan sekali-sekali melanggar perkataannya atau semua hal buruk akan mulai datang menghampiri mu!" ucap Felia dengan nada yang terdengar santai sambil mengambil posisi duduk di sofa, seakan seperti tengah menanti kedatangan polisi seperti perkataan Arthur sebelumnya.


***


Lorong Apartment


Setelah dari unit Apartment Fadli, terlihat Arthur tengah melangkahkan kakinya dengan raut wajah yang datar. Pikirannya sekarang benar-benar blank dan juga berantakan. Sampai kemudian sebuah deringan ponsel miliknya, lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.


"Halo" ucap Arthur dengan nada yang terdengar begitu dingin tepat setelah menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Saya sudah mendapat rekaman kamera pengawas tangga darurat yang anda minta, sesuatu hal yang tidak akan pernah anda duga sebelumnya telah terjadi. Perdebatan panas antara Nyonya besar dan juga Nyonya Alina, membuat tubuh Nyonya Alina terdorong dan jatuh ke lantai berikutnya. Sedangkan Nyonya besar dikabarkan dalam kondisi kritis saat ini karena terjatuh dari tangga dan membentur area sudut tangga darurat. Semuanya benar-benar kacau di sana Tuan, saya rasa penyebab kematian Aruna tidak hanya berasal dari Fadli saja, melainkan sesuatu hal yang lainnya." ucap Faris memberikan informasi yang ia dapatkan.


"Sial, apa lagi yang bisa lebih buruk dari semua ini"


Bersambung