Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Tak ingin kembali



Setelah jiwa *Aruna dan juga jiwa *Arthur kembali ke tubuh mereka masing-masing, keduanya kemudian memutuskan untuk berpisah dan kembali ke kehidupan mereka masing-masing. Aruna yang memang dari awal sudah ingin pulang ke rumah kontrakannya, ketika jiwanya kembali ke dalam tubuhnya lantas langsung memutuskan untuk kembali ke rumah kontrakannya tanpa berpikir dua kali meski sebenarnya jika di bandingkan dengan rumah kontrakannya, Apartment milik Arthur sungguh berkali-kali lipat lebih baik dari rumah kontrakannya. Namun hal itu sama sekali tidak membuat Aruna menginginkan untuk tinggal dan menetap bersama Arthur. Bukankah ada istilah yang mengatakan jika sebagus-bagusnya rumah seseorang masih nyaman rumah sendiri? Dan hal itulah yang saat ini sedang dirasakan oleh Aruna.


**


Rumah kontrakan Aruna


Aruna yang baru saja masuk pada rumah kontrakannya terlihat tersenyum dengan lebarnya, setelah beberapa hari lamanya ia tak pulang dan menginjakkan kakinya di sini pada akhirnya Aruna bisa kembali pulang ke rumah kontrakannya yang sudah ia rindukan. Udara khas rumah kontrakan yang terasa begitu asri membuat seulas senyum terlukis jelas di wajahnya. Hanya saja senyuman yang semula terukir indah di wajah Aruna perlahan-lahan sirna ketika sebuah suara terdengar dengan jelas saat itu.


Krucuk krucuk...


Sebuah suara yang berasal dari cacing-cacing di perutnya yang sudah meminta untuk diisi lantas terdengar menggema di ruangan tersebut, membuat Aruna yang baru tersadar bahwa ia belum makan malam kemudian terlihat mengelus perutnya beberapa kali lalu menoleh ke arah perutnya sebentar dan kembali tersenyum ketika sebuah ide terlintas begitu saja di benaknya saat ini.


"Ah... sepertinya aku sudah merindukan makanan itu... Apakah masih ada di dapur ya?" ucap Aruna dengan senyum mengembang sambil mengingat-ingat tentang persedian stok makanan instan di Almarinya yang terletak di dapur.


Setelah mengatakan hal tersebut Aruna lantas melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur dengan langkah kaki yang bergegas sambil terus membayangkan begitu lezatnya kuah pedas yang berpadu dengan mie kenyal, benar-benar begitu menggugah seleranya hanya dengan membayangkannya saja Aruna bahkan sudah tidak sabar untuk segera memakannya. Aruna yang tak ingin menyianyiakan kesempatan ini tentu semakin mempercepat langkah kakinya menuju ke arah dapur dan melihat apa yang ada di sana dan bisa ia jadikan topping untuk mie instan kuah miliknya.


**


Dapur


Ketika langkah kaki Aruna sampai di dapur, Aruna lantas langsung menuju ke arah Almari yang terletak di sudut dapurnya. Sambil membuka pintu Almarinya dengan gerakan yang cepat Aruna mulai mencari stok mie instan favoritnya di sana. Hingga kemudian seulas senyuman cantik lantas terbit dari wajah Aruna ketika ia menemukan satu bungkus mie instan kuah dengan merk ternama di Ibukota yang siap menemani makan malamnya saat ini.


"Akhirnya ketemu juga" ucap Aruna dengan bahagia seakan seperti melebihi menemukan sebuah emas atau bahkan harta karun, terdengar berlebihan namun itulah kenyataannya.


Aruna yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, lantas langsung membawa satu bungkus mie instan tersebut mendekat ke arah kompor kemudian menyalakannya dengan perlahan. Sambil menunggu air yang mendidih Aruna kemudian lantas menyandarkan tubuhnya ke dinding dapurnya sambil menatap kosong ke arah depan. Perlahan Aruna mulai membayangkan setiap ingatan yang telah ia lalui beberapa hari yang lalu tepat ketika matanya terbuka dan sudah terbangun di dalam tubuh Arthur. Sebuah pengalaman yang tidak akan pernah Aruna bisa lupakan sampai kapan pun juga bahkan hingga saat ini. Entah dipikir sebagaimana pun bentuknya Aruna tetap tidak mengerti akan apa yang terjadi sebenarnya, sampai jiwanya masuk ke dalam tubuh Arthur saat itu.


"Setidaknya semua sudah berlalu saat ini, mulai hari ini aku akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Aku benar-benar tidak ingin Tuhan kembali menegurku dengan cara seperti itu." ucap Aruna sambil bergidik ngeri.


Membayangkannya saja benar-benar membuatnya bergidik ngeri apalagi jika sampai ia kembali harus merasakannya kembali, Aruna benar-benar sudah tidak lagi sanggup. Aruna berharap ini akan menjadi yang terakhir kalinya Aruna mengalami kejadian aneh dan juga gila dalam hidupnya.


Keesokan harinya


Sinar mentari terasa begitu terang dan menyinari ruangan kamar, *Aruna yang merasakan sebuah cahaya masuk ke dalam retinanya mulai mengerjapkan kelopak matanya secara perlahan sambil mencoba untuk bangkit dari tidurnya dengan beberapa perenggangan kecil. Tidurnya semalam benar-benar sangat nyenyak membuat *Aruna bahkan sama sekali tidak terbangun di tengah malamnya.


"Ah benar-benar menyenangkan kembali ke kehidupan yang normal" ucap *Aruna dalam hati sambil menggaruk lehernya khas orang yang bangun tidur.


*Aruna yang baru bangun dari tidurnya nampak terdiam sebentar, entah mengapa *Aruna merasa ada yang salah saat ini. Ini bukanlah kamar di rumah kontrakannya, *Aruna yang yakin ia semalam tidak lah berada di ruangan ini lantas mulai mengerjapkan kelopak matanya selama beberapa kali sambil menguceknya seakan berharap bahwa saat ini ia sedang bermimpi. Sampai ketika gerakannya sudah ia lakukan berulang kali dan hasilnya ia tetap berada di sini, membuat *Aruna hanya bisa menatap tak percaya sambil meraba bagian tubuhnya yang saat ini sudah kembali terasa berbeda dan tak lagi sama.


"Apa.... Bagaimana bisa? Ini benar-benar tidak mungkin!" pekik *Aruna namun yang keluar malah suara khas cowok yang *Aruna tahu pasti siapa pemilik suara itu.


"Tidak!"


***


Sementara itu di sebuah kamar di rumah kontrakan, suara berisik yang berasal dari alarm ponsel terdengar menggema di ruangan tersebut membuat seseorang nampak mulai mengangkat tangannya dan mencoba meraba area sekitar dengan mata yang terpejam seakan tengah berusaha untuk mematikan suara berisik tersebut. *Arthur berdecak dengan kesal ketika ia tidak kunjung mendapatkan apa yang ia mau, hingga ketika suara itu terus saja memenuhi gendang telinganya barulah *Arthur langsung bangkit dari posisinya sambil mengerjapkan kelopak matanya berulang kali.


"Benar-benar berisik sekali!" pekik *Arthur namun dengan suara yang melengking membuat manik matanya langsung membulat ketika menyadari suara barusan bukanlah berasal dari dirinya.


*Arthur terdiam beberapa detik seakan mencoba mencermati asal suara tersebut. Hingga ketika pandangannya menatap ke arah sekitar barulah *Arthur menyadari bahwa ia sedang tidak berada di kamar Apartemennya. *Arthur yang mulai curiga lantas terlihat bangkit dari posisinya kemudian berlari menuju ke arah meja rias dimana terdapat kaca besar di sana. Sampai ketika langkah kaki *Arthur sampai pada meja rias tersebut hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah seseorang yang paling ia benci dan tidak ingin lagi kembali ke sini.


"ARUNAAAAAAAA!"


Bersambung