
Cafe
Di salah satu Cafe yang terletak di Ibukota, terlihat Pandu tengah melangkahkan kakinya memasuki area Cafe untuk menemui seseorang. Hari ini sudah ia putuskan bahwa Pandu akan membongkar segalanya tentang Arthur dan juga Aruna ke awak media.
Dengan senyum yang mengembang Pandu terlihat melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke salah satu meja di mana seseorang tengah duduk dan menantinya saat ini.
"Akan ku pastikan semuanya akan terbongkar, dasar Pria sombong." ucap Pandu sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Pria itu berada.
"Pak Arman?" ucap Pandu sambil berhenti tepat di sebelah meja Pria tersebut.
"Tentu, silahkan duduk pak Pandu..." ucap Arman sambil menyalami tangan Pandu begitu pula sebaliknya.
Setelah keduanya bersalaman Pandu kemudian mengambil duduk di depan Arman untuk mulai membahas segala sesuatunya.
"Baiklah langsung saja kepada intinya, berita apa yang anda punya tentang Arthur Alterio Gavanza?" ucap Arman dengan tersenyum simpul.
Mendapat pertanyaan tersebut Pandu lantas tersenyum menatap ke arah Arman berada kemudian mengeluarkan sebuah flashdisk dan memberikannya kepada Arman, membuat Arman lantas mengernyit mendapati Pandu memberinya sebuah flashdisk kepadanya.
"Di dalam sini terdapat sebuah rekaman kamera pengawas yang mungkin akan membuat sebuah berita yang akan menggemparkan tentang Arthur. Buat judul yang bisa membuatnya langsung jatuh dalam sekali tepukan. Kau bisa melakukannya bukan?" ucap Pandu kemudian yang lantas membuat Arman langsung mengambil flashdisk tersebut dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Apa anda yakin? Jika sampai berita ini terbukti palsu saya akan di tuntut atas hal ini, mengingat bagaimana watak Bagas jika menyangkut urusan keluarga besarnya." ucap Arman dengan nada yang serius.
Semua orang di dunia entertainment tentu tahu bagaimana eksis tensi keluarga besar Gavanza. Tidak ada yang berani menyentuh keluarga besar mereka. Namun mengingat berita tentang keluar besar Gavanza selalu dinanti, membuat beberapa wartawan yang suka dengan tantangan berusaha untuk terus mengulik keluarga itu walau dengan resiko yang besar sekalipun.
"Coba kau lihat saja ke dalam rekaman kamera pengawas tersebut, aku yakin kau akan tahu sendiri setelah melihatnya." ucap Pandu dengan senyuman yang menyeringai membuat Arman sedikit manggut-manggut tanda mengerti.
"Baiklah, aku akan menerbitkan artikel ini besok pagi dan akan aku pastikan jika berita ini akan langsung naik dan menjadi tranding satu di pencarian internet." ucap Arman dengan nada yang yakin.
Mendengar hal tersebut membuat Pandu langsung bangkit dari tempat duduknya kemudian menyalami Arman sebagai tanda jadi keduanya telah sepakat dalam berbisnis.
"Senang berbisnis dengan mu." ucap Pandu sambil menyalami Arman.
"Tentu saja Pak..." balas Arman dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
Terlihat dengan jelas rasa kepercayaan dalam diri Arman yang membuat Pandu begitu puas ketika melihatnya.
"Wel Arthur.. Selamat menikmati masa keterpurukan mu..." ucap Pandu dalam hati sambil tersenyum menatap ke arah Arman.
***
Pantai
Baik Arthur dan juga Aruna terlihat bersenang-senang di bibir pantai. Sesekali terlihat Arthur berlarian dan menarik tangan Aruna untuk mendekat ke arah air untuk merasakan sensasinya, membuat tawa riang lantas terdengar dari mulut keduanya. Aruna dan juga Arthur benar-benar menikmati kebersamaan mereka saat itu, tanpa memikirkan tentang segala peliknya masalah yang terus menimpa keduanya dalam waktu yang lama.
"Akan aku pastikan bahwa senyuman itu tidak akan pernah pudar dari mu." ucap Aruna dalam hati sambil menatap dengan tatapan yang intens ke arah Arthur saat ini.
Sementara itu Arthur yang melihat Aruna hanya terdiam di tepi pantai, lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Aruna berada dan mengambil duduk di pasir pantai. Membuat Aruna yang melihat hal tersebut ikut duduk di sebelah Arthur namun dengan tatapan yang tetap lurus ke depan.
"Apa ada sesuatu yang membuat mu bahagia Tuan? Tumben sekali anda mengajak ku ke pantai seperti saat ini." ucap Arthur sambil melepas outer yang ia kenakan karena memang cuacanya yang panas dan membuatnya kegerahan.
Mendapat pertanyaan tersebut lantas membuat Aruna menoleh ke arahnya kemudian tersenyum dengan simpul.
"Tentu saja, apa kamu melupakan tentang malam ini?" tanya Aruna kemudian yang lantas membuat Arthur mengernyit dengan seketika.
"Memangnya ada apa dengan malam ini?" tanya Arthur dengan raut wajah yang penasaran.
"Malam bulan purnama penuh, bukankah kita sudah menantinya dalam waktu yang cukup lama?" ucap Aruna lagi yang lantas membuat raut wajah Arthur berubah seketika.
Mendengar kata bulan purnama saja benar-benar sudah membuat segala pemikiran mulai berputar di kepala Arthur saat ini. Entah mengapa Arthur tak begitu suka dengan hal ini, namun ia sama sekali tidak bisa berbuat apapun selain melakukannya. Arthur bahkan terlanjur nyaman terus dekat di sisi Aruna selama ini. Entah mengapa Arthur merasa jika ia kembali ke tubuhnya seperti sedia kala, hubungan antara dirinya dan juga Aruna pasti tidak akan terjadi sedekat ini.
Aruna yang melihat raut wajah sedih milik Arthur tentu saja bingung, bukankah seharusnya ini akan menjadi berita yang paling membahagiakan ketika keduanya bisa kembali ke tubuh mereka masing-masing? Namun mengapa reaksi Arthur malah kebalikannya? Seakan-akan Arthur sama sekali tidak rela jika hal tersebut benar-benar terjadi kepada keduanya.
"Ada apa dengan reaksi mu itu? Apa kau tidak senang dengan kabar ini?" ucap Aruna dengan raut wajah yang penasaran.
Mendengar pertanyaan dari Aruna barusan lantas membuat Arthur tersadar jika raut wajahnya saat ini terlihat begitu tidak ikhlas semua itu terjadi. Membuat Arthur kemudian lantas langsung tersenyum begitu mendengar perkataan dari Aruna barusan.
"Tentu saja bahagia Tuan, aku bahkan sudah menantikannya cukup lama." ucap Arthur kemudian dengan senyum yang di buat selebar mungkin.
***
Malam harinya
Di tengah suasana pantai malam itu, Aruna dan juga Arthur terdiam sambil menatap ke arah bulan purnama yang terlihat dengan jelas tepat di atas tengah laut. Keduanya saling menatap cukup lama dalam suatu pemikiran yang terjadi di kepala mereka masing-masing.
"Apa kamu sudah siap Run?" tanya Aruna kemudian sambil menatap lurus ke arah manik mata milik Arthur.
"Tentu Tuan aku rasa..." ucap Arthur kemudian dengan raut wajah yang canggung.
"Bisakah kita untuk memulainya sekarang?" ucap Aruna kemudian.
"Ten..." ucap Arthur hendak menjawab namun bibir Aruna sudah lebih dulu mendarat tepat di bibirnya dan mulai mel**at dengan perlahan.
Bersambung